The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #44

Langkah Pertama

Tiga hari setelah berita mengenai Heksa dan Melody semakin liar di media sosial, Bali justru menjadi pusat perhatian lain. Hari itu Magna Land & Development resmi melakukan groundbreaking salah satu proyek terbesarnya tahun ini. Proyek terpadu senilai triliunan rupiah yang melibatkan investor dalam dan luar negeri. Sejak pagi, area acara sudah dipenuhi wartawan, media ekonomi, media properti, hingga beberapa stasiun televisi nasional.

Laura, yang sejak beberapa minggu terakhir hampir tidak memiliki waktu istirahat, terlihat mondar-mandir memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sempurna. Sementara Jehan sibuk mengurus tamu-tamu penting yang datang silih berganti. Di tengah kondisi yang sedang panas karena berbagai pemberitaan tentang Anasera, Heksa, dan Melody, tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa justru Gilang akan menciptakan berita baru.

Setelah seremoni utama selesai, sesi konferensi pers pun dimulai. Awalnya berjalan dengan lancar, semua mengikuti alur yang sesungguhnya. Hingga seorang wartawan dari media bisnis nasional mengangkat tangan.

"Pak Gilang, selama beberapa tahun terakhir Magna Land berkembang cukup pesat. Apa yang menurut Bapak menjadi faktor terbesar di balik pencapaian itu?"

Jehan yang duduk di samping Laura sudah kehilangan fokus sejak lima menit lalu. Menurutnya, sesi tanya jawab seperti ini selalu membosankan. Namun, Gilang tetap menjawab dengan profesional.

"Saya rasa karena saya dikelilingi orang-orang yang tepat." Beberapa wartawan mulai mencatat. "Saya punya tim yang luar biasa, partner yang baik." Jawaban yang aman.

Namun Gilang tidak berhenti di sana. Pria itu tersenyum tipis. Kemudian melanjutkan kalimatnya dengan santai. "Saya juga sangat bersyukur karena selalu memiliki keluarga yang mendukung saya, dan seseorang yang tetap percaya pada saya bahkan di saat keadaan tidak selalu mudah. Anasera Humaira.”

Ruangan mendadak hening. Benar-benar hening. Selama beberapa detik tidak ada yang berbicara. Beberapa wartawan bahkan terlihat saling menatap seolah memastikan mereka tidak salah dengar. 

Di barisan belakang, Laura yang sedang berdiri bersama tim media perlahan menurunkan map yang ada di tangannya. Matanya membulat. "Astaga..."

Di sebelahnya, Jehan langsung tersenyum tipis, seolah sudah memperkirakan perkataan yang muncul dari mulut sahabatnya itu. "Sesuai dugaan."

Laura menoleh. "Kalian udah rencanain ini ya?" tebak Laura.

Jehan mengangguk. Dia tidak menyangkal karena memang ini rencananya. Sementara di depan sana, Gilang terlihat sangat tenang. Seolah baru saja menyebut cuaca hari ini cerah.

Seorang wartawan bahkan langsung mengangkat tangan lagi. "Maaf, Pak Gilang, bisa diulang?"

Baru kali ini senyum Gilang terlihat sedikit lebih lebar. "Saya bilang saya bersyukur karena selalu didukung oleh keluarga dan kekasih saya."

Ruangan langsung riuh. Beberapa kamera bergerak lebih maju. Puluhan ponsel mulai merekam. Satu wartawan lain langsung menyambar kesempatan. "Pak, apakah maksud Bapak Dokter Anasera Humaira?"

"Iya."

"Jadi selama ini kalian memang menjalin hubungan?"

"Iya, benar." Jawaban singkat itu justru membuat suasana semakin kacau.

Laura bahkan bisa melihat beberapa wartawan mulai mengirim pesan ke redaksi masing-masing saat itu juga. Karena mereka tahu bahwa berita ini akan meledak. Benar saja, kurang dari lima belas menit setelah konferensi pers selesai, berbagai portal berita mulai menaikkan artikel baru.

CEO Magna Land Akhirnya Akui Hubungan Dengan Seorang Dokter Viral, Anasera

Lihat selengkapnya