The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #45

Sidang Pertama

Satu minggu setelah pernyataan Gilang di Bali yang berhasil mengalihkan perhatian publik, arah pemberitaan mulai berubah jauh lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun. Bahkan An sendiri tidak menyangka. Awalnya ia hanya berniat menghentikan narasi yang menyeret Heksa dan Melody. Namun, yang terjadi justru lebih besar dari itu. Nama Gilang Mahawira dan Anasera Humaira hampir setiap hari muncul di berbagai portal berita. Mulai dari media hiburan, media bisnis, sampai akun-akun gosip yang biasanya tidak pernah membahas dunia kesehatan.

An bahkan sempat tertawa pahit saat salah satu pasien lamanya mengirimkan tangkapan layar artikel berjudul: "Siapa Sebenarnya Dokter Anasera Humaira? Perempuan yang Berhasil Menaklukkan Hati CEO Magna Land." Sebuah judul yang terdengar sangat asing bagi dirinya. Beberapa minggu lalu, nama yang sama justru muncul dalam berita dengan tuduhan yang sangat berbeda.

Perlahan, opini publik mulai terpecah. Banyak orang yang mulai mempertanyakan tuduhan-tuduhan sebelumnya. Banyak pula yang mulai menyadari bahwa selama ini tidak pernah ada bukti konkret yang menunjukkan bahwa An benar-benar menelantarkan pasien. Jauh sebelum kasus ini membesar, ia sudah lebih dulu menghubungi keluarga besarnya. Bundanya bahkan sempat menangis ketika pertama kali membaca berita tentang dirinya. Ayahnya beberapa kali menelepon hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.

Di sisi lain, Heksa, meski semakin jarang terlihat karena kesibukannya, justru menjadi orang yang paling sering mengirim kabar perkembangan kasus tanpa banyak basa-basi. An mulai menyadari satu hal. Terlepas dari semua hujatan, berita, dan opini yang beredar di luar sana, ternyata masih ada cukup banyak orang yang memilih berdiri di sisinya. Dan itu jauh lebih berarti daripada ribuan komentar orang asing di internet.

***

Pagi itu suasana Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sudah jauh lebih ramai dibanding biasanya. Beberapa wartawan terlihat berdiri di depan gerbang sejak satu jam sebelum sidang dimulai. Kamera, mikrofon, dan berbagai logo media memenuhi area depan gedung. Kasus yang selama dua minggu terakhir menjadi bahan perdebatan publik akhirnya memasuki tahap yang lebih serius.

Sebuah mobil hitam perlahan memasuki area parkir khusus. Anasera yang duduk di kursi penumpang hanya menatap keluar jendela tanpa banyak bicara. Ia sudah mengenakan kemeja putih sederhana dipadukan blazer krem muda. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Tidak ada riasan berlebihan. Tidak ada aksesori mencolok. Hari ini ia datang sebagai seorang dokter yang sedang mempertahankan nama baik profesinya. 

Gilang mematikan mesin mobil sebelum menoleh ke arahnya. "Gimana? Masih gugup?"

An menghela napas pelan. "Sedikit."

"It’s okay, kita jalani sama-sama, oke?"

An menoleh dan mengangguk mengiyakan. Setidaknya, hari ini dia tidak sendiri. Laki-laki di sampingnya ini selalu bersamanya sejak semalam, menemani dirinya. Beberapa detik mereka hanya diam. Sampai akhirnya, Gilang membuka pintu mobil lebih dulu. Jehan yang sejak tadi berada di mobil belakang langsung berjalan mendekat sambil membawa beberapa map.

"Selamat pagi para korban netizen Indonesia."

Gilang langsung menggeleng. "Stop bercanda, Je. Lo nggak liat kayaknya bentar lagi banyak wartawan nyamperin?"

“Ya, karena itu, Lang. An harus bahagia dulu sebelum menghadapi wartawan." Dan Gilang hanya terkekeh mendengar jawaban asbun  dari seorang Jehan.

Mereka bertiga berjalan menuju pintu masuk gedung pengadilan. Belum sampai sepuluh langkah. Kilatan kamera langsung menyambut mereka.

"Dokter Anasera!"

"Dokter Anasera, apakah Anda siap menghadapi sidang hari ini?"

"Benarkah Anda sengaja mengabaikan pasien?"

"Pak Gilang! Apakah hubungan Anda dengan Dokter Anasera benar adanya?"

"Pak Gilang!"

"Pak Gilang!"

Jehan langsung menghela napas panjang. "Belum ada lima menit gue ngomong."

Gilang tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya masih menggenggam tangan An yang masih mencoba mempertahankan ekspresi tenangnya. Untungnya, beberapa petugas keamanan segera membantu membuka jalan. Begitu memasuki area dalam gedung, suasana menjadi sedikit lebih tenang.

Di ujung koridor, seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas gelap terlihat berdiri sambil memegang tablet. Alfa Danuarta. Begitu melihat mereka datang, pengacara itu langsung menghampiri. "Pagi."

"Pagi, Pak," jawab An.

Pak Alfa mengangguk pelan. "Ternyata wartawannya banyak juga ya."

Jehan langsung menyahut. "Pak, itu baru depan. Di luar masih ada pasukan cadangan."

Lihat selengkapnya