Pintu ruang sidang akhirnya terbuka. Satu per satu orang mulai keluar dari dalam ruangan. Beberapa wartawan yang sejak tadi menunggu langsung bergerak mendekat. Suara langkah kaki memenuhi koridor pengadilan. An mengembuskan napas pelan. Sidang pertama akhirnya selesai. Di sebelahnya, Alfa masih berjalan dengan tenang sambil membawa map dokumen. Gilang berada sedikit di belakang An. Sedangkan Jehan sudah terlihat waspada sejak beberapa menit lalu. Begitu mereka keluar dari area ruang sidang, suara puluhan wartawan langsung menyerbu dari berbagai arah.
"Dokter Anasera!"
"Dokter Anasera, apakah Anda mau memberikan tanggapan terkait gugatan yang dibacakan hari ini?"
"Dokter Anasera!"
"Benarkah Anda mengabaikan pasien selama berjam-jam?"
"Apakah Anda akan meminta maaf kepada keluarga pasien?"
"Dokter Anasera!"
Langkah An sempat terhenti sesaat. Kilatan kamera terus menyala. Beberapa mikrofon bahkan hampir menyentuh wajahnya.
"Duh..." Jehan refleks menghalangi salah satu wartawan yang terlalu maju. "Pelan-pelan, Bang. Ini bukan rebutan sembako."
"Pak Gilang!" Salah satu wartawan beralih arah. "Apakah Anda masih mendukung Dokter Anasera setelah gugatan ini masuk ke pengadilan?"
Pertanyaan itu membuat beberapa kamera langsung mengarah kepada Gilang. Jehan dalam hati langsung mengumpat. Sial. Ini yang paling dikhawatirkan. Jehan tahu ini akan terjadi setelah keputusan mereka membuat drama baru kemarin, tapi dia tidak menyangka akan sebesar ini pengaruhnya. Namun, berbeda dari perkiraan banyak orang, Gilang justru berhenti berjalan.
Gilang menatap ke arah wartawan itu dengan tenang. "Saya mendukung proses hukum yang sedang berjalan." Jawabannya terdengar formal. "Dan saya juga tetap mendukung Anasera."
Koridor langsung menjadi lebih ramai. Beberapa wartawan saling berpandangan. Suara kamera kembali terdengar bertubi-tubi.
"Pak Gilang, apakah itu berarti Anda percaya Dokter Anasera tidak bersalah?"
Belum sempat Gilang menjawab, Alfa akhirnya maju satu langkah. "Maaf, rekan-rekan media." Nada suaranya tetap sopan. "Terkait perkara yang sedang berjalan, klien kami tidak akan memberikan komentar lebih lanjut. Namun, kami menghormati seluruh proses hukum yang sedang berlangsung." Kalimat itu jelas menjadi penutup.
***
Di sisi lain, baru beberapa meter An dan rombongannya meninggalkan area sidang, kerumunan wartawan justru berbalik arah. Target mereka berikutnya sudah muncul. Rudi Ardiansyah. Pria itu keluar dari ruang sidang dengan setelan jas gelap yang rapi. Senyum tipis masih bertahan di wajahnya. Di belakangnya berjalan beberapa anggota tim kuasa hukum dan staf pribadinya. Berbeda dengan An yang sejak awal memilih diam, Rudi justru menghentikan langkahnya. Seketika puluhan mikrofon terangkat.
"Pak Rudi!"
"Pak Rudi, bagaimana tanggapan Anda setelah sidang pertama hari ini?"
"Apakah Bapak optimis memenangkan gugatan ini?"