The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #47

Rumah

Ruang sidang pagi itu terasa jauh lebih penuh dibanding sidang pertama. Jika sebelumnya sebagian besar kursi hanya diisi wartawan dan beberapa pengunjung yang penasaran, kali ini terlihat berbeda. Kasus yang selama hampir sebulan terakhir memenuhi berbagai media akhirnya memasuki tahap yang lebih serius. Tahap pembuktian. 

Di deretan kursi pengunjung, Melody duduk berdampingan dengan Jehan. Kacamata hitam yang biasa digunakan saat berada di tempat umum kini tersimpan di tas. Kali ini ia datang bukan sebagai publik figur. Ia datang sebagai sahabat. Di sisi lain, Gilang duduk tenang dengan kedua tangan bertaut di atas paha. Tatapannya sesekali mengarah kepada An yang berada di meja tergugat. Sedangkan di belakang mereka, Radit dan Rizky turut hadir. Keduanya masih mengenakan pakaian kerja karena harus kembali ke rumah sakit setelah sidang selesai.

An duduk tenang di kursinya. Jas putih yang biasa digunakan saat bekerja tentu tidak dikenakan di tempat seperti ini. Namun, entah kenapa, ketenangan yang sama masih terlihat jelas di wajahnya. Bahkan setelah semua yang terjadi, ia masih terlihat sama. Hal itu justru membuat Rudi beberapa kali memperhatikannya dari meja seberang. Pria itu tidak menyukai ekspresi tersebut. Karena menurutnya, orang yang sedang berada di posisi An seharusnya terlihat takut.

"Sidang dibuka." Suara hakim membuat seluruh ruangan kembali fokus. Beberapa menit pertama digunakan untuk menjelaskan agenda sidang. Lalu tibalah momen yang ditunggu semua orang. Pembuktian.

Kuasa hukum Rudi berdiri lebih dulu. Pria paruh baya itu berjalan menuju depan ruangan sambil membawa beberapa dokumen. "Kami ingin menunjukkan bahwa tindakan tergugat telah menyebabkan kerugian moral dan psikologis terhadap keluarga klien kami."

Ia mulai memaparkan kembali kronologi yang selama ini beredar di media. Tentang pasien yang dianggap tidak segera mendapatkan penanganan, dugaan pengabaian, hingga perlakuan diskriminatif. Semua tuduhan itu kembali diulang. 

Setelah itu Alfa berdiri. "Yang Mulia." Suara tenangnya langsung menarik perhatian seluruh ruangan. "Kami juga memiliki beberapa bukti yang perlu diperlihatkan." Alfa mengangguk ke arah layar monitor yang sudah disiapkan sejak awal.

Beberapa detik kemudian, sebuah rekaman CCTV mulai diputar. Ruangan langsung sunyi. Semua mata tertuju ke layar. Video itu memperlihatkan kondisi IGD pada hari kejadian. Suasana di layar benar-benar kacau. Persis seperti yang selama ini dijelaskan oleh An dan Rizky. Di sana terlihat jelas bagaimana An berpindah untuk menangani pasien kritis yang membutuhkan tindakan lebih cepat.

Wartawan mulai saling berpandangan. Beberapa langsung mencatat cepat. Sedangkan di bangku pengunjung, Jehan tersenyum miring. "Akhirnya." 

Melody yang duduk di sebelahnya mengangguk kecil. "Harusnya dari dulu."

Namun, pembuktian belum selesai. Alfa kembali berdiri. "Kami juga ingin menunjukkan data triase pasien pada hari tersebut." Dokumen berikutnya ditampilkan. Perlahan, narasi yang selama ini dibangun mulai retak. Karena data menunjukkan satu fakta sederhana. Pasien yang dibawa keluarga Rudi memang bukan pasien dengan prioritas tertinggi saat itu. Bukan karena status sosial. Bukan karena diskriminasi. Tapi karena kondisi medis pasien lain jauh lebih gawat.

Alfa kemudian menutup map di tangannya. "Kami tidak sedang meminta simpati." Tatapannya mengarah ke majelis hakim. "Kami hanya meminta agar fakta dilihat sebagaimana adanya. Kami hanya meminta agar seorang dokter dinilai berdasarkan tindakan medisnya, bukan berdasarkan opini yang dibentuk di luar ruang sidang."

Ruangan kembali hening. Kali ini lebih lama. Fakta mulai berbicara dengan satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh opini. Fakta tidak bisa dibungkam. Alfa baru saja kembali ke tempat duduknya setelah menjelaskan data triase dan rekaman CCTV yang diputar beberapa menit sebelumnya. Suasana ruang sidang sempat ramai. Beberapa wartawan mulai berdiskusi. Rekaman itu jelas menunjukkan bahwa kondisi IGD saat kejadian memang sedang penuh. An terlihat berpindah dari satu pasien ke pasien lain tanpa henti. Tidak ada adegan yang menunjukkan dirinya duduk santai atau sengaja mengabaikan pasien. 

Namun sebelum opini itu berkembang lebih jauh, kuasa hukum Rudi langsung berdiri. "Yang Mulia, kami keberatan apabila rekaman tersebut dianggap sebagai bukti bahwa tidak terjadi kelalaian." Alfa menoleh.

Hakim mengangguk. "Silakan lanjutkan."

Pria itu berjalan ke depan ruang sidang dengan tenang. "Video yang ditampilkan hanya memperlihatkan aktivitas umum di IGD. Tetapi tidak menjawab pertanyaan utama." Ia menoleh ke arah meja tergugat. "Apakah keluarga klien kami mendapatkan pelayanan yang layak atau tidak?"

Ruangan kembali sunyi. "Karena sesibuk apa pun sebuah rumah sakit, setiap pasien tetap memiliki hak untuk memperoleh penjelasan yang baik." Kalimat itu langsung membuat beberapa wartawan kembali mengetik. "Kami tidak sedang mempermasalahkan banyaknya pasien. Kami mempermasalahkan sikap. Sikap seorang dokter terhadap pasien."

An yang sejak tadi diam mulai mempersempit tatapannya. Ia tahu permainan seperti ini. Mereka tidak menyerang fakta. Mereka menyerang persepsi. Dan sering kali persepsi lebih mudah dipercaya publik daripada fakta.

Kuasa hukum Rudi kembali membuka beberapa dokumen. "Kami juga memiliki beberapa pernyataan dari keluarga pasien yang merasa diperlakukan tidak pantas pada hari kejadian."

Alfa langsung berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Dokumen tersebut belum diverifikasi."

Hakim mengangguk. "Keberatan diterima. Dokumen tidak dapat dijadikan bukti utama sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut."

Lihat selengkapnya