The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #49

Setelah Garis Akhir

Suara sirene ambulans kecil milik klinik itu masih terdengar samar ketika pintu IGD kembali tertutup. Anasera yang beberapa menit lalu menjadi pusat perhatian satu ruang sidang kini terbaring di atas brankar dengan infus yang sudah terpasang di tangan kirinya. Sedangkan di luar ruang tindakan, suasana tidak jauh lebih tenang.

"Mas, satu pertanyaan aja!"

"Tadi Dokter Anasera pingsan karena apa?"

"Pak Gilang!"

"Pak Gilang!"

"Pak Gilang!"

"Sebentar Mas, sebentar ya? Ini saya juga nggak tahu dia kenapa." Gilang mengusap wajahnya kasar. "Kalau saya tahu kenapa dia pingsan, saya nggak bakal berdiri di luar sini."

Jehan yang berdiri di sampingnya langsung menahan tawa. Sedangkan wartawan masih mengejar. "Pak, kondisi Dokter Anasera gimana?"

"Gatau Mas, bentar ya, ini kita nggak bisa masuk semuanya."

"Pak Jehan—"

"Diem dulu, Mbak, saya bingung mau gimana."  

Radit yang sejak tadi bersandar di dinding bahkan sampai memejamkan mata. "Bisa nggak sih kalian nanti aja ke sini? Kejar target banget ya?"

Seorang wartawan langsung menunjuk ke arahnya. "Dokter Radit, apakah kondisi Dokter Anasera serius?"

Radit menatap lurus. "Saya diem aja deh, Mas. Saya malas kalau bikin pernyataan tapi viral nantinya."

Jehan langsung berbalik menahan tawa. Sedangkan Gilang akhirnya menggeleng pasrah. "Kayaknya mereka lebih susah diurus daripada investor."

"Setuju," jawab Radit.

"Iya, banget lagi." Jehan langsung mengangguk cepat.

"Sumpah. Investor masih bisa diajak rapat, diajak makan siang, diajak negosiasi. Ini?" Ia menunjuk kerumunan wartawan di depan mereka. "Belum jawab udah nanya lagi."

"Mas, satu pertanyaan lagi!"

Jehan langsung menoleh. "Iya, Mbak, gimana?"

"Apakah benar hubungan Pak Gilang dan Dokter Anasera hanya strategi pengalihan isu?"

Radit langsung menunduk menahan tawa. Sedangkan Gilang memejamkan mata beberapa detik. Jehan mengangguk pelan seolah sedang berpikir keras. "Waduh."

"Waduh gimana, Pak?"

"Waduh saya juga penasaran sebenarnya."

Beberapa wartawan langsung tertawa. Gilang melotot. "Apasih, Je? Jangan macam-macam deh."

Seorang wartawan kembali menyodorkan mikrofon. "Pak Gilang, apakah Anda akan tetap mendampingi Dokter Anasera setelah kasus ini selesai?"

"Kita bahas itu nanti ya."

"Nanti itu kapan, Pak?"

"Ya pokoknya nanti, deh."

"Besok?"

Lihat selengkapnya