The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #50

Hilang

Melody tidak tahu harus berbuat apa. Kali ini ia benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana. Ia duduk di kursi samping ranjang rumah sakit sambil menatap An yang masih tertidur. Wajah sahabatnya terlihat jauh lebih tenang. Melody semakin yakin, sahabatnya tidak baik-baik saja. Gadis itu tidak perlu pembelaan, kemenangan, ataupun popularitas. An hanya butuh istirahat. 

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Melody buru-buru mengangkat panggilan dari manajernya. “Halo, Kak.”

“Mel, gimana kondisi An?” Suara Arin terdengar khawatir di ujung sana.

“Udah lebih baik, Kak.”

“Dia masih mau pergi?” tanya Arin, memastikan kembali keputusan itu.

Melody menoleh ke arah ranjang cukup lama. Sebelum akhirnya mengangguk meski lawan bicaranya tidak melihatnya. “Iya, Kak.” 

“Lo sendiri gimana? Yakin atau nggak?” Lagi, Arin memastikan.

“Kak…” Suara Melody terdengar pelan. “Ini adalah pertama kalinya An minta bantuan orang lain. Gue nggak mau dia kecewa, Kak.” 

Di seberang sana, Arin langsung terdiam. Dia juga tahu bagaimana sifat dua sahabat itu. Anasera adalah tipe manusia yang lebih suka menanggung semuanya sendiri, selagi dia mampu. Kalau sudah sampai tahap dia minta tolong, berarti dia benar-benar sudah sampai batasnya.

“Oke.” Arin menghela napas. “Gue sama Selvi urusin semuanya.”

“Rumah sakitnya?”

“Udah dapet, Mel, di Bandung.” 

Melody memejamkan mata. Bandung sudah cukup jauh untuk dijangkau sebelum nanti An akan kembali ke rumahnya. 

***

Sorenya, proses administrasi mulai berjalan. Tidak ada proses yang mudah, karena pemindahan pasien tidak bisa dilakukan sembarangan. Data medis juga harus dikirim. Beberapa dokter harus dihubungi terlebih dahulu. Untungnya Arin dan Selvi bergerak jauh lebih cepat daripada perkiraan. Mereka bahkan sudah menyiapkan kendaraan dan kamar rawat sebelum An benar-benar dipindahkan. Masalah terbesar justru bukan data. Melainkan tiga laki-laki yang masih nongkrong di luar gedung sejak semalam.

"Apa maksudnya nggak boleh masuk?" Gilang berdiri dari kursinya.

Melody yang baru keluar dari lift langsung menahan napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi. "Mas..."

"Nggak." Gilang menggeleng. "Mel, gue cuma mau lihat keadaan dia."

Radit yang berdiri di belakangnya ikut mengangguk. “Iya, Mel. Bentar aja biarin kita liat keadaan dia.”

Jehan yang berdiri sambil membawa kopi ikut mengangkat tangan. “Gue sebenarnya nggak mau lihat sih, cuma penasaran aja.”

Lihat selengkapnya