The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #51

Tanpa Jejak

Dua hari kemudian, empat puluh delapan jam berlalu, dan tidak ada satu pun kabar yang didapatkan. Nomor Melody sudah tidak aktif, begitu juga nomor Anasera. Bahkan akun sosial media Melody yang biasanya masih sesekali aktif kini benar-benar diam. Karen ini, cukup membuat dua orang laki-laki kehilangan kesabaran. 

Pagi ini, sebuah mobil hitam berhenti di depan klinik yang dua hari lalu menjadi tempat An dirawat. Gilang turun lebih dulu, disusul Heksa beberapa detik kemudian. Mereka berdua sama-sama terlihat tidak tidur dengan baik. Bedanya, Gilang terlihat berantakan. Sedangkan Heksa terlihat terlalu tenang.

"Kita masuk baik-baik dulu." Heksa merapikan lengan kemejanya.

"Kalau nggak berhasil?"

"Ya kita harus tetap baik-baik."

Gilang mendesah. "Masa baik-baik terus sih, Sa?" Heksa hanya mengangguk sambil mulai memakai maskernya. Identitasnya tidak boleh terbuka dalam keadaan seperti ini.

Lima menit kemudian mereka sudah berada di meja informasi. Seorang petugas administrasi perempuan menyambut mereka dengan ramah. "Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?"

"Ada." Gilang langsung maju. "Saya mau tanya soal pasien yang dirawat dua hari lalu."

Petugas itu langsung mengangguk. "Boleh nama pasiennya?"

"Anasera Mihra Humaira."

Perempuan itu langsung mengetik sesuatu. Kemudian tersenyum sopan. "Maaf, Pak. Kami tidak bisa memberikan informasi pasien kepada pihak luar."

Senyum Gilang langsung menghilang. "Saya bukan pihak luar, Mbak."

Petugas itu masih tersenyum. "Maaf, Pak."

"Saya kenal pasiennya."

"Maaf, Pak."

"Saya—"

"Maaf, Pak."

Heksa yang berdiri di samping langsung menutup wajahnya. “Gini deh, Mbak. Kami adalah teman dekat dari saudara Anasera yang dirawat di sini. Bisa nggak mbak kasih tau ke kita pasien atas nama Anasera ada di kamar nomor berapa ya?” Heksa mencoba untuk bernegosiasi dengan petugas administrasi klinik. 

“Maaf, Pak, kami tidak bisa memberitahukan informasi terkait pasien kepada orang lain sesuai kode etik kami, Pak.”

“Mbak, tolong ya? Minimal kasih tahu lah Mbak sama kita. Kita bukan penjahat tau, Mbak!” Gilang masih berusaha membujuk.

“Pak…” Petugas itu terlihat mulai panik. 

Heksa langsung menarik lengan Gilang. “Udah-udah, cukup.”

“Nggak bisa, Sa. Kita belum dapat nomor kamarnya An, loh!” 

“Cukup, Lang. Jangan maksa mereka.”

“Nggak, Sa. Masa dia nggak mau ngasih tau kita? Kita bukan orang jahat tau, Sa.”

Heksa menghela napas pelan. “Nggak bisa, Gilang. Mereka di sini cuma kerja sesuai aturan.” Kali ini Heksa menarik lengan Gilang lebih keras. Dia tidak mau Gilang semakin membuat masalah panjang di sana. 

Beberapa menit kemudian mereka keluar dari gedung klinik tanpa mendapatkan apa-apa. Benar-benar tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan jejak terakhir An dan Melody seolah hilang begitu saja.

Gilang langsung mengacak rambutnya kasar. "Gue benci aturan."

"Padahal aturan itu yang nyelametin hidup lo selama ini."

"Gue tetap benci."

Heksa tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah gedung klinik di depan mereka, sementara pikirannya justru kembali pada percakapan terakhir dengan Melody. Pesan terakhir yang masih tersimpan rapi di ponselnya. Heksa memilih untuk menghormati keputusan Melody. Terlebih beberapa minggu terakhir hubungan mereka memang tidak berjalan seperti biasanya. Heksa sibuk dengan kasus Rudi. Melody sibuk menemani An. Mereka lebih sering bertukar pesan singkat dibanding benar-benar bertemu.

"Lo mau hubungin Kak Selvi?" Suara Gilang akhirnya memecah lamunannya.

Heksa menghembuskan napas pelan. Sebelum pertanyaan itu muncul, sebenarnya ia sudah lebih dulu melakukannya. Ia sudah menghubungi Selvi sejak dua hari lalu. Dan jawaban yang ia terima tidak berbeda sedikit pun dari yang diberikan Melody. 

Lihat selengkapnya