Beberapa hari berlalu sejak An dan Melody menghilang dari kehidupan mereka. Anehnya, dunia tetap berjalan seperti biasa. Gilang dan Jehan tetap berangkat ke kantor setiap pagi. Magna Land sedang berada dalam fase yang sibuk. Dari luar, Gilang masih terlihat seperti CEO yang sama. Ia masih mampu memimpin presentasi berjam-jam tanpa kesalahan. Masih mampu membuat keputusan bernilai miliaran rupiah dalam hitungan menit. Masih mampu membuat para investor percaya bahwa semuanya berada dalam kendali. Padahal kenyataannya tidak. Hampir setiap kali rapat selesai, hal pertama yang ia lakukan adalah membuka ponsel dan berharap ada pesan dari gadisnya.
Jehan yang duduk tepat di sebelahnya setiap hari bahkan sudah hafal kebiasaan itu. Sampai suatu kali ia hanya menggeleng melihat Gilang menatap layar ponselnya setelah rapat selama tiga jam. "Kalau lo tatap terus, dia juga nggak bakal muncul dari layar itu." Gilang hanya mendesah. Lalu mengunci kembali ponselnya. Namun lima menit kemudian membukanya lagi.
Di tempat lain, Heksa juga menjalani rutinitasnya seperti biasa. Kasus Rudi sedang memasuki fase yang sangat penting. Berkas demi berkas mulai terbuka. Bukti-bukti yang selama bertahun-tahun tersembunyi mulai bermunculan ke permukaan. Tim yang dibentuk Halim juga mulai bergerak semakin agresif. Secara karier, seharusnya ini menjadi salah satu periode terbaik dalam hidup Heksa. Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Melody. Untuk saat ini, Heksa hanya berharap kekasihnya itu baik-baik saja.
Sedangkan Radit, dia tetap datang ke rumah sakit setiap hari. Tetap menjalani kehidupannya sebagai dokter profesional. Direktur rumah sakit hanya mengatakan bahwa Dokter Anasera sedang mengambil cuti pribadi. Dan seluruh staf diminta menghormati privasi yang bersangkutan. Radit tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Namun ia tidak punya hak untuk memaksa.
Setiap selesai bekerja, mereka hampir selalu melakukan hal yang sama. Mencari jejak sekecil apa pun yang bisa mengarah kepada An dan Melody. Mereka pernah mendatangi seluruh tempat yang memiliki kemungkinan besar pernah didatangi oleh dua sahabat itu. Namun, hasilnya tetap nihil. Bahkan Gilang semakin dibuat frustasi ketika datang lagi ke apartemen An. Petugas apartemen justru mengatakan bahwa unit tersebut sudah tidak lagi disewa atas nama Anasera Humaira. Saat mendengar itu, Gilang bahkan tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam selama beberapa detik. Merasa seperti kehilangan satu-satunya petunjuk yang masih tersisa.
***
Malam itu mereka kembali gagal. Entah untuk yang ke berapa kalinya dalam minggu itu, Gilang dan Radit berakhir duduk berdua di kap mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mereka baru saja pulang dari salah satu tempat yang kemungkinan pernah didatangi An. Hampir semua yang mereka lakukan hanya berdasarkan dugaan. Lampu kota memantul samar di aspal yang masih basah sisa hujan sore tadi. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, tidak ada Jehan dan Heksa. Hanya mereka berdua. Dua laki-laki yang sama-sama mencari perempuan yang sama.
"Gue capek, Dit." Suara Gilang terdengar pelan.
Radit melirik. Bukan capek fisik, ia tahu itu. "Lo nggak tidur ya?"
Gilang tertawa hambar. "Kelihatan banget ya?"
"Banget." Radit menghela napas. Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Sampai akhirnya Gilang berbicara lagi. "Dit. Lo pernah nggak sih ngerasa…" Ia berhenti. Mencari kalimat yang tepat. "Menyesal karena baru sadar sesuatu pas semuanya udah telat?"
Radit tidak langsung menjawab. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Pernah."
Gilang tertawa kecil. "Gue juga."
Hening lagi. Kemudian Gilang menatap jalanan di depannya. "Kayaknya gue jatuh cinta sama An."
Radit tidak terkejut. Malah kalau boleh jujur, ia ingin bilang: Akhirnya lo sadar juga, anjing. Tapi ia menahan diri. “Kayaknya?"
"Iya."
Radit memutar bola mata. "Lang, sadar nggak sih? Bukan kayaknya lagi, bahkan lo udah jatuh cinta sama dia dari lama."
Gilang menoleh. "Kok gitu?"
Radit hanya tertawa pendek. "Jangan terlalu naif deh, Lang. Gue yang kenal lo belum lama aja bisa ngerti kalau sebenarnya lo punya perasaan lebih dari sahabat buat An."
Gilang terdiam. Lalu tertawa pelan. "Ternyata gue bodoh juga ya."
"Bukan bodoh aja sih.”
“Bagus kalau lo sadar.”
“Anjing."
Kali ini mereka tertawa bersamaan. Namun, tawa itu tak berlangsung lama. Karena Radit baru saja mengatakan sesuatu yang mungkin juga pernah disadari oleh Gilang.
"Gue juga suka sama An."