Sudah hampir satu minggu sejak An kembali ke Malang. Tidak banyak orang yang mengetahui kepulangannya. Bahkan sebagian besar teman-temannya masih mengira ia berada di Jakarta. An memang sengaja membiarkan itu. Ia ingin hidup tanpa siapa pun yang meminta dirinya untuk kuat. Ia hanya ingin Menjadi Anasera. Karena itulah ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah kecil miliknya sendiri. Rumah dua lantai yang letaknya hanya sekitar lima belas menit dari rumah orang tuanya. Keluarganya juga tidak pernah menekan. Bahkan setelah mengetahui kondisi kesehatannya. Raina dan Firman justru menjadi dua orang yang paling tenang.
Sore itu langit Malang sedang cerah. An duduk di teras belakang rumahnya sambil menikmati teh hangat. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang masih basah setelah hujan semalam. Sampai suara motor memasuki halaman rumah membuatnya menoleh. Ia bahkan sudah tahu siapa orangnya sebelum melihat wajahnya. Kalila, adiknya datang bersama Melody di jok belakang. Perempuan semester empat yang entah sejak kapan tumbuh menjadi manusia dewasa.
An langsung tersenyum kecil. "Berisik banget motornya."
"Motor gue dihina?" Kalila langsung protes begitu turun dari motor.
"Itu mah fakta kali."
Melody yang baru melepas helm malah tertawa. "Gue setuju sama An."
"Ya Allah..." Kalila langsung menatap langit. "Dua lawan satu."
An bangkit dari kursinya. Senyum tipis itu masih ada ketika Melody berjalan menghampirinya. "Gimana hari ini?" tanya Melody.
"Baik." Melody langsung memeluk sahabatnya itu tanpa peringatan. An yang tidak siap sampai sedikit mundur satu langkah. "Heh, apa-apaan."
"Kangen."
"Kita cuma pisah 3 jam yang lalu, Mel."
"Gue tetap kangen."
Kalila yang masih berdiri di dekat motornya langsung menggeleng. "Jijik."
Melody langsung menunjuknya. "Diam deh, bocil."
An akhirnya tertawa pelan. Beberapa hari terakhir ini, rumah kecil itu lebih sering ramai karena kedatangan dua orang tersebut. Kalila hampir setiap hari datang dengan alasan yang berbeda-beda. Kadang mengantar makanan. Kadang meminjam charger yang sebenarnya dia punya sendiri. Kadang cuma mampir lima menit lalu pulang.
Mereka bertiga akhirnya duduk di teras belakang. Kalila mengambil cemilan dari meja tanpa izin. Melody mengambil setengahnya. Kalila langsung melotot. "Heh."
"Kenapa sih?"
"Itu punya gue."
"Nggak boleh pelit tau, nanti kuburannya sempit."
Kalila mendecih. "Ternyata gue dibully dari segala arah."
An hanya menggeleng sambil menikmati pemandangan dua orang itu. An tidak menyangka akhir-akhir ini hidupnya berjalan dengan tenang. Tidak ada tuntutan yang mengganggunya. Sampai tiba-tiba Kalila seperti teringat sesuatu. Mata gadis itu langsung membesar.
"Oh iya!"
An dan Melody refleks menoleh. "Apa lagi?"
Kalila buru-buru meraih ponselnya yang tergeletak di meja. "Kalian download aplikasi Kopi Kenangan dulu."
"Hah?" Melody mengernyit. "Buat apa?"
"Download dulu."
An langsung curiga. "Lo mau ngapain?"
Kalila sudah membuka Instagram. Lalu menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah mereka. "Lihat ini."
Melody membaca sekilas. An ikut melirik. Lalu hening beberapa detik. "Oh..." jawab An datar.
"Oh?" Kalila melotot. "OH DOANG?"
Melody langsung tertawa. "Ini yang kolaborasi sama Haechan itu ya?"
"IYAAA!" Kalila sampai menunjuk Melody dengan semangat. "Tuh kan Kak Melody ngerti."
"Ya gue lihat kemarin."
Kalila langsung memegangi kepalanya. "Ya Allah. Kalian nggak ngerti di mana pentingnya ini."
An menyesap tehnya santai. "Di mana?"
Kalila langsung menggeser layar ponselnya. "Nih, setiap beli paketnya dapet photocard, postcard, sticker, dan cupsleeve."
"Hm. Terus kenapa kalau dapet itu?"
Kalila menarik napas panjang. "Haechan, Kak." Kalila menatap kakaknya tidak percaya. "Kok respon lo kayak nggak excited sih?"
"Yaudah sih, gue nggak ngerti."
"Ya Allah." Melody sudah tertawa sampai memegangi perut. Kalila langsung menunjuk mereka berdua. "Pokoknya kalian download aplikasi sekarang."