Pada akhirnya, Melody tetap harus kembali ke Jakarta. Bukan karena ia ingin meninggalkan An. Justru sebaliknya, kalau bisa memilih, Melody masih ingin tinggal beberapa hari lagi di Malang. Menemani sahabatnya, memastikan kondisi An benar-benar stabil, dan mengawasi apakah perempuan itu minum obat tepat waktu atau tidak. Namun kenyataan tidak sesederhana itu. Arin dan Selvi sudah hampir menyerah menghadapi jadwal yang terus mundur. Beberapa kontrak kerja sudah berhasil diselamatkan. Beberapa lainnya mulai meminta kepastian. Dan Melody tahu dirinya tidak bisa terus menghilang. Pagi tadi ia terbang kembali ke Jakarta. Meninggalkan An di rumahnya dan Kalila yang kini mengambil alih tugas mengawasi kakaknya.
Sore harinya, di sebuah studio foto di kawasan Jakarta Selatan terlihat jauh lebih ramai dibanding biasanya. Hari itu Melody menjalani sesi pemotretan untuk salah satu brand skincare yang baru mengajaknya berkolaborasi. Lampu studio menyala terang. Tim kreatif mondar-mandir. Fotografer sibuk memberi arahan. Sedangkan Melody sedang menyelesaikan sesi terakhirnya.
Di sisi lain, ada seseorang yang dari tadi tidak berhenti tersenyum sendiri. Heksa. Laki-laki itu baru datang sekitar dua puluh menit yang lalu setelah pulang dari kantor. Masih menggunakan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung sampai siku dengan dasi yang sudah dilepas. Begitu sampai, ia langsung duduk di area tunggu sambil memperhatikan sesi pemotretan yang sedang berlangsung. Jujur saja, ia sangat merindukan Melody.
Karena itulah, melihat Melody tertawa di depan kamera saja sudah cukup membuat suasana hatinya jauh lebih baik. Sampai seseorang tiba-tiba menghampirinya.
"Mas Heksa?"
Heksa menoleh. Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunan berdiri di sampingnya. "Iya?"
"Saya Rafi." Laki-laki itu mengulurkan tangan. "Co-owner brand ini."
"Oh." Heksa langsung berdiri dan membalas jabat tangannya. "Senang bertemu."
"Saya juga." Rafi tertawa kecil. "Jujur saya nggak nyangka bakal ketemu Mas Heksa di sini."
Heksa ikut tersenyum. "Saya juga nggak nyangka bakal ada di sini."
"Biasanya ketemunya di berita."
"Waduh, berarti saya harus mulai hati-hati."
Rafi langsung tertawa. "Enggak, enggak. Maksud saya berita yang baik."
Mereka akhirnya duduk kembali dan mengobrol ringan. Di depan kamera, Melody baru saja menyelesaikan sesi terakhirnya. Tepuk tangan kecil terdengar dari tim produksi. Sedangkan di sudut ruangan, tanpa sadar senyum Heksa kembali muncul.
Sekitar lima belas menit kemudian, sesi pemotretan akhirnya benar-benar selesai. Suasana studio yang sejak tadi sibuk perlahan mulai lebih santai. Beberapa kru membereskan peralatan. Tim kreatif mulai mengecek hasil foto. Sedangkan Melody baru saja menyelesaikan sesi terakhirnya dan langsung menyerahkan beberapa properti kepada staf yang bertugas. Hal pertama yang ia lakukan setelah itu? Mencari Heksa dan tentu saja tidak sulit menemukannya.
Laki-laki itu masih duduk di area tunggu sambil mengobrol santai dengan Rafi. Melody yang melihat pemandangan itu langsung berjalan menghampiri mereka. Senyumnya otomatis muncul.
"Permisi." Suara Melody membuat dua laki-laki itu menoleh bersamaan.
Pak Rafi langsung tersenyum. "Nah, bintang utamanya datang." Melody tertawa kecil. "Udah selesai?"
"Sudah, Pak." Melody mengangguk sopan.
"Bagus. Berarti saya nggak jadi disalahkan karena nahan Mas Heksa terlalu lama."
Heksa langsung menggeleng. "Nggak kok."
Rafi tertawa kecil sebelum akhirnya berdiri. "Kalau gitu saya pamit dulu." Ia kembali menjabat tangan Heksa. "Senang kenal sama Anda, Mas Heksa."
"Saya juga, Pak."
Rafi lalu menoleh ke Melody. Tatapannya bergantian kepada dua orang di depannya. Lalu tersenyum penuh arti. "Semoga langgeng ya hubungannya."
Melody langsung tersedak udara. "Pak—" Sedangkan Heksa malah tertawa.