The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #55

Garis Penyesalan

Ada kalanya seseorang baru menyadari apa yang paling berharga dalam hidupnya ketika hal itu sudah tidak lagi berada dalam jangkauannya. Gilang sedang merasakan hal tersebut. Malam itu, Gilang berdiri sendirian di balkon rumahnya. Jakarta terlihat begitu terang dari lantai atas rumah tersebut. Lampu-lampu kota menyala tanpa henti. Kendaraan masih memenuhi jalanan. Sedangkan dari speaker kecil di dekat kursinya mengalun lagu lama yang bahkan tidak benar-benar ia dengarkan.

Sudah hampir dua minggu. Dan sampai hari ini, Gilang masih tidak tahu perempuan itu berada di mana. Ia sudah mencoba semuanya. Tidak ada hasil. Seolah An benar-benar menghapus dirinya dari Jakarta. Gilang mengembuskan napas panjang. Lalu menyandarkan tubuhnya ke pagar balkon.

"An..." Namanya keluar begitu saja. Sampai suara ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit melunak. Mama.

Gilang langsung mengangkat panggilan tersebut. "Assalamualaikum, Ma."

"Waalaikumsalam." Suara hangat sang ibu langsung terdengar dari seberang sana.

"Lagi apa?"

"Gabut aja nih."

"Bohong."

Gilang tertawa kecil. "Kok tahu?"

"Kamu kalau jawabnya pendek-pendek gitu pasti ada masalah." Rizka tertawa kecil. "Udah makan?"

"Udah." 

“Kayak nggak yakin deh Mama sama kamu.” Rizka terdengar bisa menebak suasana hati anak bungsunya itu. "Kamu lagi nggak baik-baik aja ya?"

Pertanyaan itu membuat Gilang terdiam. Rizka tidak memaksa. Ia hanya menunggu. Karena sebagai ibu, terkadang ia tahu kapan harus bertanya dan kapan harus diam.

"Aku..." Gilang mengusap wajahnya pelan. "Jatuh cinta, Ma."

Hening seketika. Lalu terdengar suara tertawa dari seberang sana. "Ya ampun."

"Kenapa malah ketawa?"

"Jatuh cinta sama siapa sih? Tumben banget jatuh cinta tapi perasaannya sedih gini."

Gilang langsung menghela napas panjang. "Kayaknya aku telat deh, Ma."

Kali ini Rizka berhenti bercanda. "Maksudnya gimana?"

"Aku salah Ma, aku telat sadarnya kalau aku jatuh cinta sama dia. Sekarang pas aku sadar, orangnya malah hilang."

Rizka mengernyit. "Hah? Hilang gimana sih?"

Gilang menatap lampu-lampu kota di kejauhan. "Aku suka sama An, Ma."

Saking lamanya suasana sunyi, sampai Gilang menurunkan ponselnya sebentar untuk memastikan sambungannya tidak terputus. "Ma? Masih ada di sana nggak?"

"Masih."

"Tanggapan Mama cuma hm?"

Rizka tertawa pelan. "Mama lagi memproses dulu." Sebenarnya Rizka memang tidak terlalu terkejut. Mungkin lebih tepatnya, akhirnya. Selama bertahun-tahun ia melihat bagaimana An selalu ada di sekitar anaknya. Bagaimana Gilang selalu kembali kepada gadis itu. Bagaimana laki-laki keras kepala itu tanpa sadar menjadikan An tempat pulangnya. Dan sekarang ternyata firasatnya benar. Hanya saja, anaknya terlambat menyadarinya.

"Terus sekarang gimana?"

"Aku nggak tahu dia di mana."

"Udah coba dicari?"

"Iya, Ma. Susah, aku udah nggak tahu harus kemana lagi." Gilang terlihat putus asa. “Melody juga nggak mau buka suara soal kondisi dan posisinya sekarang.”

Rizka tertawa kecil. Ia sadar bahwa anaknya sedang dalam permasalahan sulit untuk kaum laki-laki. Rizka terbayang betapa kacaunya anaknya. Sedangkan Gilang kembali mengembuskan napas. "Sebentar. Kamu udah coba ke rumahnya?"

Gilang mengernyit. "Rumahnya?"

"Iya. Rumah dia di Malang." Kalimat itu membuat Gilang diam. Sedangkan Rizka masih melanjutkan. "Maksud Mama, kalau dia lagi capek,  lagi butuh waktu sendiri, bukannya rumah adalah tempat pertama yang biasanya kita datangi?"

Lihat selengkapnya