Gilang hanya menatap kedua orang tua Anasera itu bergantian. Dia sedang mencari keberanian. Rasanya sangat berbeda, berbicara di depan ratusan investor ternyata jauh lebih mudah dibanding duduk di hadapan dua orang tua yang sangat dihormatinya.
"Om, Tante, aku datang ke sini ada maksud lain." Gilang menarik napas pelan. "Aku lagi nyari An."
Raina dan Firman saling bertukar pandang. Tidak terkejut, tapi juga tidak langsung menanggapi. Mereka memilih mendengarkan. Sedangkan Gilang kembali melanjutkan. "Aku tahu mungkin kedengarannya terlambat." Ia tersenyum kecil. "Sebenarnya memang terlambat."
Kalimat itu membuat Firman mulai memperhatikan lebih serius. Gilang terlihat begitu rapuh. "Aku minta maaf, Om. Tante." Tatapannya menunduk sesaat. "Terlalu banyak hal yang udah aku lakuin ke An."
Raina langsung terdiam. Sedangkan Firman hanya mendengarkan. "Selama ini aku selalu menganggap dia ada." Suara Gilang terdengar lebih pelan. “Karena itu aku jadi nggak pernah sadar kalau ternyata kehadiran seseorang nggak bisa dianggap biasa aja."
Ia tertawa kecil. Namun tidak ada yang merasa itu lucu. Karena semua orang di ruangan itu bisa mendengar penyesalan yang terselip di baliknya. "Aku udah nyakitin dia berkali-kali." Gilang menggeleng pelan. "Tapi sekarang aku bahkan baru sadar kalau aku cinta sama dia setelah dia pergi."
Ruangan itu kembali hening. Kalila yang masih menguping bahkan sampai memeluk lututnya sendiri. Sedangkan Raina perlahan mulai memahami arah pembicaraan ini. Firasat yang selama ini ia simpan akhirnya terasa menemukan jawabannya.
Gilang melanjutkan. "Aku nggak datang ke sini buat minta maaf atau cari pembenaran. Aku tahu semua kesalahan itu memang salahku." Ia menatap Firman dan Raina dengan sungguh-sungguh. Tatapan yang tidak pernah goyah sejak tadi.
"Aku datang karena aku serius." Kalimat itu membuat Firman perlahan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Mendengarkan lebih seksama. "Aku serius sama An. Bahkan mungkin lebih serius daripada apa pun yang pernah aku rencanakan dalam hidupku."
Gilang tersenyum kecil. Lalu menghela napas panjang sebelum mengucapkan kalimat berikutnya. "Om, aku mau minta izin."
Firman menatapnya lekat. "Aku mau memperjuangkan Anasera."
Tidak ada yang berbicara, Gilang masih melanjutkan. "Aku tahu aku telat. Aku tahu mungkin aku nggak pantas ngomong ini setelah semua yang udah terjadi. Tapi aku nggak mau menyerah bahkan sebelum mencoba. Aku nggak mau kehilangan dia cuma karena kebodohan aku sendiri."
Matanya mulai memerah. Meski suaranya tetap terdengar tenang. "Kalau dulu aku terlalu sibuk ngejar dunia, sekarang aku sadar ternyata orang yang paling penting buat aku justru ada di samping aku selama ini." Ia tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. "Dan bodohnya, aku baru sadar sekarang."
Raina perlahan menundukkan kepala. Sedangkan Firman masih diam. Memberikan ruang untuk Gilang menyelesaikan semuanya. "Aku nggak bisa janji hidup An bakal selalu mudah kalau sama aku. Aku juga nggak bisa janji nggak akan ada masalah. Tapi aku bisa janji satu hal."
Gilang menatap Firman tepat di mata. Tatapan seorang laki-laki kepada ayah dari perempuan yang dicintainya. "Aku akan menjaga dia sebaik mungkin. Semampu yang aku bisa. Semampu yang Allah izinkan."
Suaranya sedikit bergetar. Namun tetap jelas. "Aku mau melanjutkan tugas Om." Firman terdiam. Sedangkan Gilang melanjutkan dengan senyum tipis. "Tugas menjaga Anasera. Aku tahu nggak akan pernah ada orang yang bisa menggantikan posisi ayahnya. Tapi kalau suatu hari nanti aku diberi kesempatan, aku mau jadi orang yang memastikan dia tetap bahagia."
Ruangan itu kembali sunyi. Sunyi yang panjang dan penuh makna. Semua orang di sana tahu bahwa tidak mudah bagi seorang laki-laki seperti Gilang untuk mengucapkan semua itu. Tidak mudah bagi seseorang yang selama ini selalu terlihat kuat untuk mengakui kesalahannya. Dan tidak mudah bagi seseorang yang terlambat menyadari cintanya untuk datang sejauh ini hanya demi mengatakan bahwa ia ingin memperjuangkannya.
"Jadi..." Gilang tersenyum kecil. Kali ini lebih hangat. "Aku nggak akan mundur, Om. Apapun halangannya. Seberapa jauh pun An lari. Seberapa lama pun aku harus nunggu. Aku tetap mau nyoba.”
Di lantai dua, Kalila masih berdiri di tempat yang sama. Awalnya ia hanya berniat menguping sebentar. Hanya ingin memastikan apa tujuan Gilang datang ke rumah mereka. Namun semakin lama ia mendengarkan, semakin sulit baginya untuk pergi. Tangannya yang semula memegang pagar lantai dua perlahan mengerat. Dadanya terasa sesak. Dan tanpa sadar, matanya mulai memanas. Kalila tidak pernah menyangka akan mendengar semua itu.
Seorang Gilang Mahawira duduk di hadapan kedua orang tua mereka sambil mengakui semua kesalahannya. Setetes air mata jatuh lebih dulu sebelum Kalila sempat mencegahnya. Ia buru-buru mengusap pipinya. Namun air mata berikutnya kembali menyusul. Kalila benar-benar melihat seberapa besar laki-laki itu mencintai kakaknya.