Pintu kamar tertutup pelan. An meninggalkan Gilang sendirian di pantry. Tidak ada penjelasan. Hanya langkah kaki yang perlahan menjauh menuju lantai dua. Sedangkan Gilang masih duduk di tempatnya. Mencoba memahami reaksi yang baru saja ia lihat. Karena tadi, ia melihat mata An berkaca-kaca. Dan itu membuat perasaannya ikut tidak tenang.
Di dalam kamar. An berdiri di depan lemari. Tangannya gemetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. An membuka laci meja kecil di samping tempat tidur. Mengambil sebuah map berwarna putih. Map yang beberapa bulan terakhir selalu berhasil ia sembunyikan dari semua orang. Dan hari ini, ia tidak ingin menyembunyikannya lagi. Karena kalau ada satu orang yang berhak mengetahui alasan kenapa ia memilih menghilang, mungkin orang itu adalah Gilang. An mengusap air matanya cepat-cepat. Lalu membawa map tersebut keluar kamar.
Ketika kembali ke pantry, Gilang langsung berdiri. "An?"
An tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat. Lalu meletakkan map putih itu tepat di depan Gilang. "Mas..." Suara An terdengar pelan. "Kalau setelah ini lo berubah pikiran..." An berhenti sejenak. Mencoba mengatur napasnya sendiri. "Gue ngerti."
Dada Gilang tiba-tiba terasa tidak nyaman. Karena ia tidak pernah mendengar An berbicara seperti itu. Hari ini perempuan itu terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama memikul beban sendirian. "Apa ini?"
An menunduk. Tidak sanggup menatap matanya. "Hasil pemeriksaan." Lalu An mundur beberapa langkah. Memberikan ruang, karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya.
Lima menit berikutnya terasa seperti lima jam. Hanya suara lembar demi lembar kertas yang dibuka. Dan dunia Gilang yang perlahan runtuh. Matanya membaca satu per satu istilah medis yang asing baginya. Semakin banyak ia membaca, semakin sulit ia bernapas. Tangannya perlahan berhenti pada halaman terakhir. Matanya masih terpaku di sana. Namun pikirannya sudah berlari ke mana-mana. Sekarang ia memahami alasan kenapa An pergi. Ia memahami betapa beratnya semua yang sedang ditanggung perempuan itu.
Gilang menunduk. Kertas di tangannya terasa semakin berat. Sampai dadanya ikut terasa nyeri. Karena ada dua ketakutan berbeda yang muncul secara bersamaan. Ketakutan pertama, ia takut kehilangan An. Takut perempuan itu semakin menjauh. Takut perempuan itu memilih menyerah sebelum ia sempat memperjuangkannya. Takut suatu hari nanti An benar-benar menghilang dari hidupnya. Namun ketakutan kedua, jauh lebih egois, karena itulah ia membencinya. Karena dalam sepersekian detik tadi, ketika membaca kemungkinan gangguan kesuburan itu, sebuah mimpi yang selama ini diam-diam ia simpan ikut muncul di kepalanya.
Mimpi sederhana yang selama ini selalu ia bayangkan ketika membicarakan masa depan. Dan untuk sesaat, hanya sesaat, ia merasa takut. Takut kehilangan mimpi itu. Pikiran itu datang begitu cepat hingga membuatnya sendiri muak. Karena saat An sedang berjuang menghadapi penyakitnya, dirinya justru memikirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Gilang langsung menunduk lebih dalam. Mengepalkan tangannya. Merasa marah pada dirinya sendiri. Merasa jijik pada dirinya sendiri. Karena perempuan yang dicintainya sedang ketakutan menghadapi masa depannya. Sedangkan dirinya, masih sempat memikirkan mimpinya sendiri. Air matanya perlahan jatuh. Gilang benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Karena semua kata yang ia miliki terasa terlalu kecil dibanding beban yang sedang dipikul Anasera.
Sampai akhirnya An tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat hati Gilang semakin hancur. Karena senyum itu bukan senyum bahagia. Melainkan senyum seseorang yang sudah terlalu lama berusaha menerima kenyataan sendirian.
"Gue tahu..." Suara An terdengar pelan, nyaris berbisik. "Gue tahu ini bukan hal yang mudah buat diterima."
Gilang langsung mengangkat kepalanya. Sedangkan An mencoba tersenyum lagi. Meskipun matanya sudah merah. "Gue juga tahu lo pasti punya banyak mimpi. Lo punya keluarga yang baik. Lo suka anak kecil. Lo juga pernah bilang pengen punya rumah yang ramai." Air mata mulai jatuh di pipinya. Namun An tetap melanjutkan. Karena semua ini sudah terlalu lama ia simpan sendiri. "Dan gue nggak tahu gue bisa ngasih itu atau nggak." Kalimat itu terasa seperti pisau.