Dua bulan kemudian. Waktu ternyata mampu menyembuhkan banyak hal. Luka yang dulu terasa menganga perlahan menutup. Tangis yang dulu terasa begitu berat perlahan berubah menjadi senyum Dan dua bulan terakhir menjadi saksi bagaimana hidup terus berjalan dengan caranya sendiri. Anasera masih menjalani pengobatannya dengan disiplin dan berusaha berdamai dengan tubuhnya sendiri sedikit demi sedikit. Namun kali ini berbeda. Karena ia tidak lagi berjalan sendirian. Sebab di sampingnya ada seseorang yang keras kepala menemaninya. Seseorang yang bahkan lebih disiplin mengingatkan jadwal obat dibanding dirinya sendiri. Seseorang yang setiap malam selalu memastikan ia sudah makan. Dan seseorang yang sampai sekarang masih sering membuat An ingin melempar sandal ke wajahnya karena terlalu posesif.
Ya. Gilang Mahawira, atau kekasihnya. Kadang sampai sekarang An masih merasa semuanya terasa tidak nyata. Karena jika ada seseorang yang mengatakan pada dirinya lima tahun lalu bahwa suatu hari Gilang akan menjadi kekasihnya, mungkin ia akan tertawa terlebih dahulu. Namun hidup memang sering kali lucu. Status hubungan palsu yang dulu sengaja dibuat Gilang untuk melindunginya dari badai media justru berubah menjadi kenyataan. Dan ironisnya, semua orang sudah menyadarinya lebih dulu dibanding mereka berdua.
"Jadi kalian akhirnya jadian juga?" Kalimat itu menjadi kalimat favorit Jehan selama dua bulan terakhir. Minimal seminggu sekali pasti keluar.
Jehan baru saja selesai rapat ketika melihat Gilang datang menjemput An di rumah sakit. Pemandangan yang sudah mulai terlalu sering ia lihat. "Kok gue kesel ya liat muka lo?" komentar Jehan.
Gilang hanya tersenyum. "Itu namanya tanda-tanda iri."
"Gue nggak iri." Jehan langsung menoleh ke An. "An, tolong ambil pacar lo."
An tertawa kecil. Sedangkan Gilang malah merangkul bahu Jehan. "Makasih ya."
Jehan langsung diam. Tatapannya sedikit melunak. Karena di balik semua candaan mereka, Jehan tahu seberapa panjang perjalanan ini. Melihat bagaimana dua orang keras kepala itu saling menyiksa diri bertahun-tahun hanya karena tidak jujur pada perasaannya sendiri.
"Jangan bikin gue nyesel dukung hubungan kalian."
"Siap, Bos."
"Kalau nyakitin An lagi gue tonjok."
"Siap, Bos."
Jehan mendecih lalu tertawa. Karena akhirnya, akhirnya laki-laki bodoh itu menemukan rumah yang selama ini ia cari.
***
Di tempat lain. Radit juga sudah belajar menerima semuanya. Awalnya memang tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Namun Radit adalah laki-laki yang cukup dewasa untuk memahami satu hal. Cinta tidak bisa dipaksa. Dan Anasera tidak pernah memilihnya, bahkan sejak awal. Karena sejak dulu, mata perempuan itu hanya tertuju pada satu orang. Maka ketika suatu sore ia melihat An tersenyum sambil berbicara dengan Gilang di area parkir rumah sakit, Radit hanya tersenyum kecil. Tidak ada lagi rasa sesak atau marah. Yang tersisa hanya doa baik. Karena jika memang An bahagia, maka itu sudah cukup.
"Bahagia terus ya, Dok." Kalimat itu keluar pelan. Hanya untuk dirinya sendiri. Lalu ia melanjutkan langkahnya. Meninggalkan masa lalu yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.