Malam itu, langit Bangkok kembali diselimuti mendung. Dari luar terdengar rintik hujan yang turun tidak beraturan, sesekali disambar angin yang membuat dedaunan di halaman asrama bergetar. Tirai tipis di sisi jendela asrama pun sesekali bergerak halus, membiarkan hawa dingin menyelinap masuk dan membuat udara malam terasa lembap.
Di atas tempat tidur, Hana tertidur pulas. Selimutnya terlipat sampai ke dagu. Beberapa kali jemarinya meremas kain untuk menarik lebih rapat ketika angin dingin menyentuh kulitnya. Napasnya teratur, tetapi sesekali alisnya tampak berkerut tipis, seolah sesuatu memanggilnya dari tempat yang jauh.
Seperti malam-malam sebelumnya, mimpi yang sama kembali datang.
Dalam mimpi itu, Hana berdiri di kamar kecilnya di panti asuhan. Dindingnya berwarna pucat dengan cat yang sedikit terkelupas di sudut. Dia bisa mencium wangi mawar memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma kayu tua yang lembap. Cahaya lampu lorong menyelinap dari celah pintu, redup dan kekuningan, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Lalu Hana kembali mendengar melodi piano yang lembut dengan nada-nada yang begitu akrab hingga membuat dadanya terasa hangat dan perih sekaligus.
Hana melangkah perlahan. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin mengikuti irama lagu yang terus mengalun. Di dekat jendela, seorang pemuda duduk di depan piano dengan punggung menghadapnya. Bahu pemuda itu tegap dan rambutnya yang berwarna cokelat gelap sedikit berantakan.
Pada mimpi biasanya, Hana hanya akan berdiri diam menatap punggung pemuda itu sampai permainan pianonya usai. Setelah itu, mimpinya akan berakhir dan Hana akan segera terbangun.
Namun, malam ini sedikit berbeda. Melodi yang mengalun lembut itu terhenti di tengah nada. Jemari pemuda yang memainkan piano membeku di atas tuts membuat keheningan jatuh begitu saja, berat dan menekan seolah dia ingin mengatakan sesuatu.
Hana menahan napas, merasakan udara yang perlahan terasa menebal di sekelilingnya.
Kemudian terdengar suara pelan, nyaris seperti bisikan yang merayap langsung ke hatinya.
'Hana, bisakah kamu datang lebih cepat?'
Suara itu begitu Hana kenal. Suara yang sangat lembut dan hangat, mengingatkannya pada satu orang yang begitu dia rindukan, James.
Hana tersentak bangun dari tidurnya dengan dada yang naik turun cepat. Dia terduduk dengan rambut yang sedikit menutupi wajah. Tangannya terangkat mengusap pipi, memastikan bahwa dia benar-benar sudah terjaga. Matanya melirik ke arah jendela kamar yang memperlihatkan hujan di luar yang masih turun mengetuk kaca jendela dengan ritme tidak beraturan.
Meskipun rintik hujan di luar masih terdengar, tetapi saat ini kepalanya dipenuhi suara sahabat yang sudah lama menghilang dari hidupnya. Hana menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang belum stabil.
Dia meraih ponsel di samping bantalnya. Jam di layar ponsel menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Belum sempat dia mengambil napas panjang, ponsel itu berdering. Hana langsung menekan tombol terima.
"Hana, kamu sudah bangun?" Suara seorang pemuda terdengar dari ujung telepon.