The Last RTS

Yelena Morozova
Chapter #2

⟻⟻⟻ Ch. 1 ⟼⟼⟼

Arc 1: Reinkarnasi & Pelarian Awal



⟻⟻⟻⟼⟼⟼



Begitu membuka mata, Broto melihat seorang perempuan berambut keperakan. Seragam putihnya terlalu bersih untuk ruang bawah tanah berdebu seperti ini. Wajahnya tenang, hampir dingin.

Kesan pertama yang muncul di kepalanya sederhana: cosplayer profesional yang nyasar dari gim perang. Kalau teman-temannya sampai menyewa cosplayer secantik ini untuk mengerjainya, mereka keterlaluan. Namun, kontak perempuan ini harus diminta sebelum acara selesai.

Lantai bergetar di bawah kakinya. Getaran itu merambat dari telapak kaki ke lutut, membuat gigi gerahamnya beradu pelan.

“Apa yang—”

Suaranya melengking terlalu keras. Debu dari langit-langit rontok dan masuk ke mulutnya, meninggalkan rasa kesat dan pahit di lidah. Bau apak kayu lapuk bercampur dengan sesuatu yang tajam—mungkin mesiu, mungkin karat.

Perempuan itu cepat-cepat berjongkok di hadapannya. Telunjuk bersarung tangan putih menempel di bibirnya sendiri.

“Tank,” bisiknya pendek.

“Tank apa?”

Kepala Broto masih berat akibat pesta tahun baru bersama teman-temannya semalam. Rasa pahit menggantung di tenggorokannya, entah sisa alkohol atau debu yang baru saja ia telan. Mungkin ini ulah mereka—ia diseret ke ruang pelarian sialan selagi tepar, lalu dipasangkan satu tim dengan perempuan secantik ini.

Ia merogoh saku, refleks mencari ponsel. Yang keluar bukan ponsel, melainkan sebuah kartu tebal. Ujung jarinya merasakan tekstur kulit asli.

Ia membukanya. Foto di dalamnya bukan wajahnya. Pria dalam foto itu berambut hitam dan bermata cokelat gelap, berbeda dengan orang-orang lain di ruangan ini. Teman-temannya ke mana? Pikiran konyol itu melintas sekilas, lalu ia tepis sendiri.

Getaran kembali terasa, kali ini lebih dekat. Sensasinya merambat dari telapak kaki sampai ke tulang kering. Broto merapat ke dinding. Bahunya menyenggol bata yang dingin dan lembap sebelum ia berjinjit dan mengintip melalui celah jendela kecil setinggi kepala.

Sepasang sepatu bot melintas tepat di depan kaca, lumpur kering masih menempel tebal di solnya. Lalu sepasang lagi. Kemudian berpasang-pasang sepatu berderap di atas jalan berbatu dengan irama berat dan serempak, seperti detak jantung raksasa yang lewat.

Rantai baja menggerus batu jalan. Debu beterbangan dari sela-sela bata tua, menari dalam berkas cahaya matahari yang menyusup miring dari jendela. Lampu minyak yang tergantung di sudut langit-langit bergoyang pelan setiap kali kendaraan itu lewat.

Napas Broto memburu.

Ini bukan permainan.

Ia mundur selangkah dan memindai ruangan. Empat pria lain berdiri di sudut-sudutnya. Seragam khaki kehijauan mereka kusut dan berbau keringat kering. Bayonet terpasang di ujung senapan; salah satu bilahnya bernoda cokelat kehitaman yang sudah mengering. Prajurit di dekat pintu memegang senjata otomatis berlaras pendek. Dua tanda berbentuk V terpasang di lengan bajunya.

“Sersan?” tebaknya.

“Butuh popok, Tuan?” sahut pria itu datar.

Lihat selengkapnya