The Last RTS

commander404
Chapter #1

⟻⟻⟻ Ch. 1 ⟼⟼⟼


X───X───X───X───X───X───X

X───X───X───X───X───X───X


Begitu Broto melihat perempuan berambut keperakan berseragam militer di depannya, pikiran pertamanya cuma satu: ini pasti cosplay dari game mobile bertema perang yang lagi ramai dimainkan.

Sebenarnya ia ingin memandanginya lebih lama. Sayangnya lantai dan dinding di sekelilingnya ikut bergetar, jadi acara menikmati pemandangan itu terpaksa dibatalkan.

"Apa yang terjadi?" serunya kelewat kencang, sampai debu dari langit-langit rontok masuk mulutnya.

Perempuan di depannya buru-buru mendesis, menyuruhnya diam. "Tank!" bisiknya tajam.

Broto melongo. "Tank? Tank apa?"

Ia menggaruk kepala, mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Yang teringat cuma satu: dirinya habis mabuk. Wajar saja, malam pergantian tahun, berkumpul bersama teman-teman, minum sampai lupa waktu.

Jangan-jangan sehabis mabuk tadi, teman-temannya iseng menyeret dirinya ke tempat permainan semacam escape room. Lalu ia kebetulan satu tim dengan perempuan cantik ini? Kalau begitu untung juga. Harus segera minta kontaknya sebelum acara selesai.

Broto merogoh saku, berharap dapat ponsel. Yang keluar malah sebuah kartu identitas.

Sampulnya tebal, terasa seperti kulit asli. Ia sempat mengangguk kagum—niat sekali membuat propnya, detailnya begini rapi.

Lalu ia membuka kartu itu, dan langsung membeku melihat foto di dalamnya.

Ini bukan wajahku.

Baru saat itu Broto sadar satu hal aneh: semua orang di ruangan ini berambut pirang, bermata terang, berwajah asing.

Teman-temanku ke mana?

Masa mereka tega ninggalin aku sama orang-orang asing begini?

Atau jangan-jangan... sebuah pikiran konyol melintas di kepalanya, lalu buru-buru ia tepis sendiri. Tidak mungkin. Zaman sekarang orang percaya sains, bukan sinetron. Ini pasti ulah teman-temannya, menjahilinya habis-habisan.

Rasa kesal yang sempat naik langsung reda begitu ia melirik lagi perempuan berseragam itu. Kalau memang ini kerjaan mereka, setidaknya masih ada sisi positifnya. Kontaknya harus didapat, biar nanti bisa dipamerkan ke teman-teman yang sedang bersembunyi entah di mana sambil tertawa.

Lihat saja nanti, aku yang akan tertawa duluan.

Suara gemuruh di telinganya makin dekat, getaran di lantai dan dinding makin terasa.

Broto memperhatikan dua jendela kecil tinggi di dinding tempatnya bersandar, sinar matahari masuk miring lewat celah itu.

Model jendelanya mirip ventilasi ruang bawah tanah. Ia teringat rekan kerjanya dulu yang tinggal di kos sempit, sering memperlihatkan foto kamarnya, bercanda bilang mirip sel tahanan.

Ia berjinjit sedikit, mendekat ke jendela, mengintip keluar.

Sepasang sepatu boots tentara melintas dekat jendela.

Sungguh niat sekali kalau ini cuma permainan biasa, sampai memakai sepatu boots asli segala.

Belum sempat berpikir lebih jauh, sepatu boots lain muncul, lalu muncul lagi, dan seolah satu kompi tentara sedang lewat di luar.

Ini apa lagi?

Detik berikutnya, Broto melihat sumber getaran dan gemuruh itu: rantai baja kendaraan lapis baja bergulir di jalan.

Mustahil rasanya kalau ini cuma permainan biasa sampai menyewa kendaraan lapis baja segala.

Napasnya memburu. Ada bisikan kecil di kepalanya yang mulai memercayai satu hal: ia benar-benar berpindah ke dunia lain.

Suasana santai yang tadi sempat dirasakan lenyap seketika.

Ia mundur, mengedarkan pandangan ke seisi ruang bawah tanah.

Selain dirinya dan perempuan tadi, ada empat pria lain di ruangan itu, semuanya berwajah asing.

Semua memakai seragam sama, warna khaki dengan kerah kehijauan.

Tiga di antaranya menggenggam senapan laras panjang bayonet, ujung pisau salah satunya bernoda merah kecokelatan.

Lihat selengkapnya