Broto menarik bangku kecil ke bawah celah dinding, lalu naik perlahan. Ia menahan berat badannya agar kayu tua itu tidak berderit. Matanya menempel pada celah sempit tersebut.
Ia beralih ke tampilan atas.
Semua orang di ruang bawah tanah menatapnya, tetapi ia tidak sempat memikirkan alasannya. Ia mencoba menembus pandangan ke lantai satu.
Berhasil.
Melalui celah tadi, mata telanjangnya hampir tidak bisa melihat apa-apa. Namun, begitu beralih sudut pandang, seluruh ruangan di atas terbuka: ruang tamu, tangga menuju lantai dua di sisi kiri, serta dua pintu lain yang masih gelap.
Dua musuh berjalan di sana. Mereka mengenakan seragam hitam dan helm baja dengan paku runcing di puncaknya—model kuno yang pernah ia lihat di buku sejarah. Broto memusatkan perhatian.
Keterangan muncul. Hanya jenis pasukannya yang terlihat:
Prajurit Penembak.
Salah satunya mengobrak-abrik laci. Prajurit yang lain memungut roti dari meja, menggigitnya, lalu meludahkannya kembali sambil mengumpat dalam bahasa yang tidak dipahami Broto.
Untuk sesaat, beban di dadanya terasa lebih ringan.
Setidaknya mereka punya bekal.
Prajurit yang menggigit roti membuang sisa makanannya, lalu berjalan ke pintu ruangan lain. Begitu melewati ambang pintu, sosoknya menghilang dari jangkauan pandang. Seberapa keras pun Broto berusaha mengejarnya, pandangan itu tidak bisa menembus lebih jauh.
Desisan pelan terdengar dari bawah. Prajurit Bambang, yang berdiri di dekat pintu, memberi isyarat agar semua orang diam dengan menempelkan jari ke bibir.
Langkah kaki terdengar.
Bukan dari atas.
Prajurit yang tadi menghilang sedang turun menuju ruang bawah tanah.
Broto kembali ke pandangan normal dan merendahkan suaranya.
“Dua Prajurit Penembak. Satu masih di lantai atas, satu lagi turun ke sini.”
Sersan menatapnya. Alisnya terangkat.
Wajar saja. Broto hanya mengintip melalui celah sesempit itu, tetapi bisa mengetahui sebanyak ini. Apalagi tubuh yang ia tempati baru saja mengompol di depan semua orang.
Musuh sudah sampai di depan pintu. Ia mencoba membukanya, tetapi pintu itu terkunci. Setelah itu, ia menggedornya dengan popor senapan.
Telapak tangan Broto berkeringat. Ia menarik pistol perlahan-lahan. Tidak ada yang menyadarinya; semua mata tertuju pada pintu.
Gedoran berhenti. Suara dalam bahasa asing terdengar dari luar.
Larasati berbisik dari sudut ruangan, “Dia bilang pintu ini hanya bisa dikunci dari dalam. Dia tahu kita berada di sini. Dia ingin kita keluar.”
Sersan berdecak sambil memeriksa peluru senjata otomatisnya.
“Tidak ada jalan lain. Kita paksa keluar. Bambang, menyingkir. Aku akan menembak dari balik pintu.”
Kalau Sersan menembak, semua musuh di sekitar akan tertarik ke sini. Masih ada satu musuh di lantai atas.
Broto maju dan menekan laras senjata Sersan ke bawah.
“Jangan. Pakai bayonet. Masih ada musuh di lantai satu. Kita menempel pada dinding dan bersembunyi di titik buta pintu. Larasati, buka pintunya, pura-pura ketakutan, lalu tarik dia masuk. Bambang, tikam dari samping.”
Sersan menatapnya. Matanya sempat turun ke selangkangan Broto, lalu kembali menatap wajahnya.
Jelas ia sedang menimbang-nimbang apakah pantas menuruti perintah seorang pengecut yang mengompol di medan perang.
Musuh masih berteriak dari balik pintu.
Sersan akhirnya mengangguk sekali, lalu memberi isyarat kepada yang lain untuk bersembunyi.
Larasati berseru dalam bahasa musuh. Suara di luar mereda, kemudian menjawab dengan nada yang lebih lembut.
“Aku akan membuka pintunya,” katanya.
Sersan menarik Broto ke titik buta di samping pintu. Bambang menggenggam senapan berbayonetnya erat-erat dan berdiri paling dekat dengan pintu.
Broto menempel pada dinding sambil menahan napas. Telapak tangannya basah, membuat gagang pistol terasa licin. Ia memindahkan senjata itu ke tangan kiri, lalu mengusap telapak kanannya pada seragam.
Kalau kemampuan curang ini tidak menambah kekuatan tempur, ia hanya akan menjadi beban kosong.
Begitu bertemu musuh sungguhan, ia akan mati.
Larasati merapikan seragamnya sekilas, lalu berjalan ke pintu. Sambil menjawab panggilan musuh dari luar, ia melirik Sersan—bukan Broto.
Sersan mengangguk.
Pintu terbuka lebar.
Dari sudut pandang normal, Broto tidak melihat musuh di baliknya. Ia segera berpindah ke tampilan atas. Mata musuh itu terbelalak, entah karena melihat wajah Larasati atau karena pintu yang tiba-tiba terbuka.
Larasati meraih senapan musuh dan menariknya masuk. Prajurit itu melangkah ke dalam tanpa perlawanan.
Bambang menikam pinggangnya dengan cepat dan dalam.
Jeritan tertahan keluar dari tenggorokan musuh.
Larasati membekap mulutnya, tetapi sudah terlambat. Dari lantai satu, suara lain terdengar.
“Heinrich?”
Broto mendapat ide saat itu juga.
“Larasati, menjerit. Sekeras mungkin.”