The Last RTS

Yelena Morozova
Chapter #4

⟻⟻⟻ Ch. 3 ⟼⟼⟼

Regu kecil Broto akhirnya bergerak.

Agak memalukan juga membiarkan seorang gadis muda berjalan di depan sementara dirinya hanya menempel di belakang. Namun, terakhir kali ia memegang senapan adalah ketika berburu burung di kampung. Lima peluru ditembakkan; satu pun tidak mengenai sasaran.

Kalau dia yang berjalan lebih dulu lalu bertemu musuh, tembakannya kemungkinan besar akan meleset juga. Itu sama saja dengan memberi tahu posisi mereka berdua.

Dari pandangan atas, ia memperhatikan Larasati berlari di depannya. Langkah perempuan itu ringan, napasnya teratur, dan bahunya tetap rendah meski bergerak cepat. Bukan waktunya memikirkan hal lain. Ini medan perang. Lengah sedikit, nyawa taruhannya.

Larasati sampai di tikungan, lalu berjongkok dan mengintip ke sudut jalan. Seketika, Broto mendapat pandangan penuh ke sisi lain tikungan, bahkan sampai ke lantai satu bangunan di seberang. Musuh berada di sebelah kiri—kemungkinan karena jalan utama menuju pusat kota memang mengarah ke sana.

Ia ingin Larasati berbelok ke kanan, lalu mencoba mengarahkannya melalui pikiran seperti sebelumnya.

Tidak mempan.

“Larasati!” Bisikan itu cukup untuk membuat perempuan tersebut menoleh. Broto menunjuk ke kanan. “Kanan aman. Tidak ada musuh!”

Ia tidak tahu kode isyarat tangan militer. Apalagi kode di dunia ini mungkin berbeda lagi.

Larasati berbelok ke kanan. Broto mengekor sampai mereka tiba di persimpangan berikutnya.

Kosong.

Larasati berhenti dan menoleh dengan curiga. “Bagaimana kau bisa tahu tidak ada musuh di sini?”

“Tebak-tebakan saja.”

“Tebak-tebakan?” Alisnya terangkat. “Kau sadar kalau kita bertemu musuh, kita bisa mati konyol?”

“Aku tahu.” Broto buru-buru menambahkan, “Sekarang belok kiri.”

Ia mulai terbiasa berbicara sambil menggunakan pandangan atas. Pusingnya masih ada, tetapi tidak separah tadi. Sambil berbicara dengan Larasati, ia sudah memastikan jalan di sebelah kiri aman. Suara tembakan juga semakin jelas dari arah itu—timur. Peluang mereka bertemu pasukan sendiri di sana cukup besar.

Larasati menatapnya sesaat, lalu tetap menurut. Ia berjongkok rendah dan melewati tikungan.

Broto kembali ke pandangan normal. Ia masih belum bisa berjalan sambil menggunakan pandangan atas. Ia berlari ke tikungan, mengintip, dan melihat punggung Larasati di depan.

Sudut pandang sesempit ini terlalu membatasi. Ia kembali beralih ke pandangan atas untuk mengawasi sekitar.

Sebuah jip melaju di gang belakangnya.

Broto buru-buru menyingkir dari tikungan, nyaris masuk ke dalam jangkauan pandang jip itu. Gerakan tubuhnya sendiri ketika masih berada dalam pandangan atas membuat kepalanya berdenyut hebat. Ia terpaksa keluar dari pandangan tersebut dan bersandar pada dinding sambil menahan mual.

Langkah kaki terdengar di belakangnya. Ia berbalik dan mengangkat senjata.

Larasati berlari kembali.

“Aku melihat kau tampak tidak beres, jadi aku kembali.” Wajahnya cemas. “Mukamu pucat sekali. Kenapa?”

“Aku baik-baik saja.”

Sepusing apa pun dirinya, Broto tidak melupakan jip tadi. Ia mengintip sedikit melalui tikungan, lalu beralih lagi ke pandangan atas.

Jip itu melaju di jalan mereka. Ada tiga orang di dalamnya: seorang sopir tanpa senjata, seorang sersan di kursi depan dengan senjata otomatis, dan seorang perwira di kursi belakang. Perwira itu mengenakan topi dengan bagian atas yang menjulang tinggi.

“Ada jip! Cepat sembunyi!”

Tidak ada satu pun pintu di kedua sisi gang yang terbuka. Mereka juga tidak punya waktu.

“Tidak—granat!”

Broto kembali ke pandangan normal, menarik granat dari pinggangnya, lalu membuka pengunci di bagian bawah. Sesaat kemudian, ia berubah pikiran dan menyodorkannya kepada Larasati.

“Kau yang lempar!”

Lihat selengkapnya