The Last RTS

commander404
Chapter #3

⟻⟻⟻ Ch. 3 ⟼⟼⟼

Begitulah, regu kecil Broto akhirnya bergerak.

Jujur saja, agak memalukan juga membiarkan seorang gadis muda jalan di depan sementara dirinya, laki-laki dewasa, cuma nempel di belakang.

Tapi terakhir kali Broto pegang senapan angin itu berburu burung di kampung halamannya dulu. Lima peluru ditembakkan, satu di antaranya bahkan meleset dari sasaran.

Kalau dia yang jalan duluan lalu ketemu musuh, kemungkinan besar tembakannya bakal meleset juga—dan itu sama saja dengan memberi tahu posisi mereka berdua secara cuma-cuma.

Dari tampilan atas, Broto memperhatikan Larasati berlari di depannya. Harus diakui, tubuhnya... berisi. Bahkan dari sudut pandang setinggi ini pun kelihatan jelas goyangannya tiap kali dia berlari.

Tapi sekarang bukan waktunya mikir yang tidak-tidak. Ini medan perang. Lengah sedikit, nyawa taruhannya.

Larasati sampai di tikungan, berjongkok, mengintip hati-hati ke sudut jalan.

Seketika itu juga, Broto mendapat pandangan penuh ke sisi lain tikungan—bahkan bisa melihat lantai satu bangunan tepat di seberang Larasati.

Berkat itu, ia menemukan musuh di sebelah kiri, kemungkinan karena jalan utama menuju pusat kota memang ada di arah sana.

Ia ingin Larasati belok kanan, coba-coba mengarahkannya lewat pikiran seperti dulu.

Tidak mempan.

Broto akhirnya berbisik, "Larasati!"

Gadis itu menoleh. Broto menunjuk ke kanan. "Ke kanan! Kanan aman, tidak ada musuh!"

Bukannya dia tidak mau kasih aba-aba yang lebih senyap. Masalahnya, dia tidak paham kode isyarat tangan militer, apalagi kode di dunia ini—jangan-jangan beda lagi dengan yang di bumi.

Larasati belok kanan, Broto mengekor, keduanya berjalan beriringan sampai persimpangan berikutnya. Benar saja, tidak ada musuh di sana.

Larasati berhenti di persimpangan, menoleh curiga ke Broto. "Bagaimana kau bisa tahu tidak ada musuh di sini?"

Broto menjawab santai, "Tebak-tebakan aja."

Larasati mengerutkan kening. "Tebak-tebakan? Kau sadar kalau kita ketemu musuh, kita bisa mati konyol?"

"Aku tahu." Broto buru-buru menambahkan, "Sekarang belok kiri."

Ia sudah mulai terbiasa bicara sambil memakai tampilan atas—rasa pusing karena ketidaksesuaian sudut pandang masih ada, tapi tidak separah tadi.

Jadi sambil ngobrol dengan Larasati, ia sudah memastikan jalan sebelah kiri juga aman. Bonusnya, suara tembakan justru makin jelas terdengar dari arah itu.

Kalau dipatok arah mata angin, itu berarti timur.

Artinya, peluang bertemu pasukan sendiri kalau jalan ke timur cukup besar.

Larasati menatap Broto sesaat, tapi akhirnya tetap menurut, berjongkok rendah sambil melewati tikungan jalan.

Broto langsung kembali ke pandangan normal—ia masih belum bisa jalan sambil pakai tampilan atas, pusingnya keterlaluan.

Dengan pandangan normal, ia berlari ke tikungan, mengintip, melihat punggung Larasati di depan.

Punggung itu memang menggoda, tapi sudut pandang sesempit ini terlalu membatasi, jadi Broto tanpa ragu berpindah lagi ke tampilan atas untuk mengawasi sekitar.

Begitu berpindah, ia langsung melihat sebuah jip melaju di gang belakangnya.

Ia buru-buru menyingkir dari tikungan, nyaris saja masuk jangkauan pandang jip itu.

Tapi gerakan tubuhnya sendiri sewaktu masih di tampilan atas membuat kepalanya berdenyut hebat, memaksanya keluar dari tampilan itu, bersandar di dinding sambil menahan mual.

Ia mendengar langkah kaki di belakangnya, langsung berbalik, mengangkat senjata—ternyata Larasati yang berlari kembali.

"Aku lihat kau kelihatan tidak beres, jadi aku balik lagi..." Wajah gadis itu cemas. "Mukamu pucat sekali, kenapa tiba-tiba begitu?"

Bagi Larasati, Broto memang tiba-tiba pucat pasi tanpa sebab jelas.

"Aku baik-baik saja!" sahut Broto.

Sepusing apa pun, ia tidak lupa soal jip tadi. Ia mengintip sedikit lewat tikungan, lalu langsung berpindah ke tampilan atas.

Jip itu benar sedang melaju di jalan. Ada tiga orang di dalamnya: sopir tanpa senjata, seorang sersan di kursi depan dengan senjata otomatis, dan satu orang di kursi belakang yang tampak seperti perwira, memakai topi berpuncak.

"Ada jip! Cepat sembunyi!" seru Broto.

Lihat selengkapnya