The Last RTS

commander404
Chapter #4

⟻⟻⟻ Ch. 4 ⟼⟼⟼

Begitu masuk ke dalam toko, Broto menghembuskan napas panjang.

Mungkin karena rasa tegang yang mulai kendor, lukanya malah makin terasa ngilu.

Ia pun berteriak sekuat tenaga, "Medis! Ada medis di sini?!"

Seketika muncul seorang perempuan berseragam medis. "Siapa yang manggil?"

"Aku!" Broto mengangkat tangan kirinya—tangan kanannya luka, tidak bisa dipakai mengeluarkan tenaga. Bisa sih diangkat, tapi sakit.

Perempuan itu buru-buru mendekat, merobek lengan baju Broto dengan sekali sentak, lalu cekatan membuka balutan perban yang sudah dipasang. "Siapa yang balut ini?"

"Aku sendiri," jawab Broto. "Kejadiannya mendadak banget tadi, kami baru saja meledakkan jip musuh, aku enggak tahu kapan musuh lain bakal dengar suara ledakannya terus datang ke sini."

Perempuan itu mendecakan lidahnya. "Balutannya asal-asalan, enggak didisinfeksi, ini udah mulai bernanah. Siap-siap demam kau nanti. Untungnya pelurunya tembus, enggak nyangkut."

Sambil bicara, ia mengeluarkan sebungkus bubuk kuning, menaburkannya langsung ke luka Broto.

Broto menjerit kesakitan.

Perempuan itu menggodanya, "Jangan teriak-teriak, ada calon pacarmu lagi nonton tuh."

Larasati, yang sedang mengawasi dari luar, langsung menoleh begitu dengar itu. "Aku bukan calon pacarnya. Aku Tangan Suci dari Resimen Panah Dewa ke-55, tapi timku sudah dilumat tank musuh."

Ia sempat melirik Broto sebentar, ragu-ragu, lalu menambahkan, "Aku selamat karena di bawah komando Letnan Kolonel Bratomo Aditya Wirasena."

Padahal kenyataannya, Letnan Kolonel Bratomo Aditya Wirasena yang asli, begitu kena hantaman meriam tank, langsung kabur ketakutan ke ruang bawah tanah—sampai mengompol segala.

Larasati bilang begitu di depan orang-orang ini jelas untuk menjaga harga diri Broto.

Sadar akan hal itu, Broto diam-diam menutup kedua kakinya yang tadi terbuka lebar, takut ada yang lihat bekas noda di celananya.

Air seni itu bukan miliknya. Lebih baik jangan sampai ketahuan.

Sersan mayor berjenggot lebat yang tadi membuka pintu untuk mereka berdua mengerutkan kening. "Wilayah pertahanan resimen Letnan Kolonel Wirasena kan dua blok dari sini. Jadi resimen itu sudah bubar?"

Broto teringat pemandangan yang ia lihat dari lantai dua tadi—sepertinya memang tak ada lagi pasukan berseragam khaki yang masih bertahan di sekitar sana.

Ia pun menjawab, "Benar, satuanku sudah bubar."

Alasannya jelas: komandannya kabur ketakutan. Aneh malah kalau satuan macam itu tidak bubar.

Sersan mayor itu mengumpat, menggaruk jenggot lebatnya dengan gemas.

Larasati buru-buru menimpali, "Serangan musuh terlalu ganas, kami juga enggak punya pilihan lain."

Broto ingat, Larasati barusan memanggilnya "Broto"—panggilan akrab untuk "Bratomo Aditya Wirasena". Kalau adat di negeri ini mirip dengan yang ia kenal, panggilan akrab semacam itu biasanya menandakan hubungan yang cukup dekat antara dua orang.

Jadi, Larasati menutupi kesalahannya tadi mungkin juga karena kedekatan itu.

Ada rasa kecewa yang menyusup di hati Broto.

Ia sempat pikir sudah berhasil dapat kepercayaan gadis ini.

Larasati melanjutkan, "Aku mau bergabung lagi dengan satuanku. Anggota timku tersebar di seluruh Divisi 79. Pasti masih ada yang selamat, aku mau cari mereka."

"Kau datang di waktu yang pas," kata sang sersan mayor berjenggot. "Regu Biksu Girinata baru saja kehilangan Tangan Suci mereka. Biar kusuruh orang mengantarmu ke sana. Gatot!"

Seorang pria kekar paruh baya muncul. "Ada apa, Sersan Mayor?"

Si jenggot lebat menunjuk Larasati. "Antar Kapten ini ke regu Pastor Girinata. Dia Tangan Suci."

Pria kekar itu mengangguk. "Ikut aku."

Larasati berdiri, tangan kanannya menepuk lembut bahu Broto. "Broto, kau sudah luka, mundur saja ke belakang, istirahat yang baik. Kalau aku tidak kembali, tolong jaga orang tuaku."

Gadis ini benar-benar dekat dengan si "pemilik tubuh sebelumnya" yang tukang ngompol itu.

Lihat selengkapnya