The Last RTS

Stalingrad
Chapter #5

⟻⟻⟻ Ch. 4 ⟼⟼⟼

Begitu masuk ke dalam toko, Broto mengembuskan napas panjang.

Rasa tegang yang mulai mengendur justru membuat lukanya terasa semakin ngilu.

“Medis! Ada petugas medis di sini?!”

Seorang perempuan berseragam medis muncul dari balik rak yang setengah roboh.

“Siapa yang memanggil?”

“Aku!” Broto mengangkat tangan kirinya. Tangan kanannya terluka dan tidak sanggup digunakan untuk mengerahkan tenaga.

Perempuan itu segera mendekat, merobek lengan bajunya dengan sekali sentak, lalu membuka balutan yang tadi dipasangnya.

“Siapa yang membalut ini?”

“Aku sendiri.” Broto meringis. “Kejadiannya mendadak. Kami baru saja meledakkan jip musuh. Aku tidak tahu kapan musuh lain akan mendengar ledakannya dan datang ke sini.”

Perempuan itu mendecak.

“Asal-asalan. Tidak didisinfeksi. Ini bahkan sudah mulai bernanah. Bersiaplah demam nanti.”

Ia mengeluarkan sebungkus bubuk kuning.

“Untung pelurunya tembus dan tidak bersarang.”

Bubuk itu langsung ditaburkan ke luka.

Broto menjerit.

“Jangan berisik,” kata perempuan itu sambil menyeringai. “Ada calon pacarmu yang sedang menonton.”

Larasati, yang berjaga di dekat pintu, segera menoleh.

“Aku bukan calon pacarnya. Aku Tangan Suci dari Resimen Panah Dewa ke-55. Timku sudah dilumat tank musuh.” Ia melirik Broto sebentar, ragu, lalu menambahkan, “Aku selamat karena berada di bawah komando Letnan Kolonel Bratomo Aditya Wirasena.”

Kenyataannya, Bratomo Aditya Wirasena yang asli langsung kabur ketakutan setelah terkena hantaman meriam tank. Ia bersembunyi di ruang bawah tanah sampai mengompol segala.

Larasati jelas mengatakan itu demi menjaga harga diri Broto di depan orang-orang ini.

Diam-diam, Broto merapatkan kedua kakinya yang tadi terbuka lebar. Air seni itu bukan miliknya. Lebih baik tidak ada yang tahu.

Sersan mayor berjenggot lebat yang tadi membuka pintu untuk mereka mengernyitkan dahi.

“Wilayah pertahanan resimen Letnan Kolonel Aditya Wirasena berada dua blok dari sini, bukan? Jadi, resimen itu sudah bubar?”

Broto teringat pemandangan dari lantai dua tadi. Tidak ada lagi pasukan berseragam khaki yang bertahan di sana.

“Benar. Satuanku sudah bubar.”

Sersan mayor mengumpat dan menggaruk jenggotnya.

“Serangan musuh terlalu ganas,” sela Larasati cepat. “Kami tidak punya pilihan lain.”

Broto teringat bahwa Larasati baru saja memanggilnya Broto—panggilan akrab. Kalau adat di negeri ini mirip dengan yang ia kenal, panggilan semacam itu menandakan hubungan yang cukup dekat.

Ada sedikit rasa kecewa yang menyusup. Ia sempat mengira sudah berhasil mendapatkan kepercayaan gadis ini murni karena dirinya sendiri.

“Aku ingin bergabung lagi dengan satuanku,” lanjut Larasati. “Anggota timku tersebar di seluruh Divisi 79. Pasti masih ada yang selamat. Aku ingin mencari mereka.”

Sersan mayor berpikir selama beberapa detik, lalu menepuk dahinya.

“Kau datang pada waktu yang tepat,” katanya. “Regu Pastor Girinata baru saja kehilangan Tangan Suci mereka. Biar kusuruh seseorang mengantarmu.”

Ia menoleh ke arah pintu.

“Gatot!”

Seorang pria kekar paruh baya muncul.

“Ada apa, Sersan Mayor?”

“Antarkan Kapten ini ke regu Pastor Girinata. Dia Tangan Suci.”

Pria kekar itu mengangguk.

“Ikut aku.”

Larasati berdiri. Tangan kanannya menepuk lembut bahu Broto.

Lihat selengkapnya