Arc 2: Pertempuran Ronezh
⟻⟻⟻⟼⟼⟼
Rasanya seperti apa, dihantam langsung meriam kapal kaliber 381 milimeter dari jarak dekat?
Pikiran Broto putus di sana.
Selama puluhan detik setelah peluru itu menghantam, ia sama sekali tidak bisa berpikir. Kepalanya berdengung keras, seolah-olah sepuluh ribu lonceng gereja dihantam bersamaan tepat di dalam tengkoraknya.
Dalam keadaan linglung, alam bawah sadarnya yakin ia sudah tuli. Yang tersisa hanya dengungan tajam yang menusuk. Tidak ada suara lain.
Tidak.
Di balik denging yang memekakkan itu, pendengarannya perlahan kembali—sekitar delapan puluh persen. Samar-samar, jeritan mulai terdengar dari kejauhan.
Broto mencoba bangkit dengan kedua tangan gemetar. Ia mengedarkan pandangan ke arah tempat Markas Besar tadi berdiri.
Lebih dari separuh ruang besar itu telah runtuh. Dinding yang masih berdiri penuh retakan menganga. Atapnya ambruk dan mengubur hampir semua pesawat telepon serta mesin telegraf di bawahnya. Para operator dan staf yang tadi begitu sibuk kini tergeletak tak bergerak di antara puing-puing.
Suara ketukan telegraf yang memenuhi ruangan telah berganti menjadi lengkingan kesakitan.
Broto terpaku. Di dekat kakinya, seorang staf mengais reruntuhan dengan satu tangan, berusaha menarik tangan satunya yang putus dan terjepit.
Baru saat itu Broto ingat bahwa ia seharusnya memeriksa dirinya sendiri lebih dulu.
Tidak ada luka baru, kecuali perban di bahunya yang sudah terpasang sejak tadi.
Ia berdecak pelan. Otaknya baru kembali bekerja, dan keringat dingin yang terlambat akhirnya mengucur deras membasahi punggungnya.
Barusan ia berjalan di bibir maut.
Ia menoleh ke samping. Duke Vladimir tertindih dua pengawal. Tubuh keduanya bermandikan darah, dada mereka menganga. Mereka jelas telah mengorbankan diri sebagai tameng hidup.
Broto terhuyung mendekat, lalu menyingkirkan kedua pengawal itu dengan sisa tenaganya. Sang Duke berlumuran darah dari pelipis. Napasnya tersengal, tipis seperti benang yang hampir putus.
“Duke Vladimir! Aku panggilkan petugas medis sekarang!”
“Sudahlah. Cepat pergi dari sini.” Duke itu meringis, menahan nyeri yang luar biasa. Setelah jeda panjang, ia memaksa diri melanjutkan, “Kapal perang bisa menembak kita. Artinya, armada laut kita sudah tidak sanggup menahan musuh. Kota ini tidak bisa dipertahankan lagi.”
Kepalanya terkulai ke samping.
Pingsan.
Seorang petugas medis bertubuh kekar menerobos masuk saat itu juga. Ia mendorong Broto ke samping tanpa basa-basi, lalu langsung memeriksa nadi di leher sang Duke.
“Aku harus melakukan CPR kepada Yang Mulia sekarang juga!”
Broto mundur selangkah dan memberi ruang.
“Letnan Kolonel! Sekarang kita harus bagaimana?!”
Broto menoleh dengan bingung. Seorang kapten berambut agak kemerahan berdiri di depannya. Pangkat di bahunya satu tingkat di bawah milik Broto.
Di tengah kekacauan berdarah ini, otaknya sempat melantur. Rambut semacam itu biasanya jatah tokoh utama dalam sinetron kolosal.
“Letnan Kolonel!” Kapten itu mengulang dengan suara lebih keras. “Sekarang kita harus bagaimana?!”
Broto menunjuk dirinya sendiri, masih belum percaya.
“Kau tanya aku?”
“Iya. Kau perwira dengan pangkat tertinggi yang berhasil kutemukan.”
Ia melirik sekilas ke arah Duke. Petugas medis kekar itu masih memompa dada sang Duke dengan keras, tetapi harapan terlihat semakin tipis.
“Coba cari orang lain,” kata Broto. “Pasti masih ada yang selamat.”
“Sudah kucari. Aku sudah dua puluh menit mencari sejak tembakan berhenti.”
Dua puluh menit.
Jadi, ia bukan pingsan selama semenit. Pantas kondisi sang Duke sudah seburuk ini, tergeletak dan terus berdarah selama itu tanpa pertolongan.
“Kepalaku masih agak pusing.” Broto memegangi pelipisnya yang berdenyut. “Kita pastikan situasinya dulu. Berapa orang yang berhasil kau kumpulkan?”
Yang sebenarnya ingin ia tanyakan adalah nama negara ini. Seharusnya nama itu tertera di kartu identitasnya, tetapi ia lupa memeriksanya karena terlalu fokus pada namanya sendiri. Tidak mungkin ia mengeluarkan kartu itu sekarang hanya untuk mencari tahu nama negara di tengah keadaan darurat seperti ini.
“Aku sudah mengumpulkan bagian logistik Markas Besar dan rumah sakit lapangan,” jawab sang kapten cepat. “Sebagian besar batalion pengawal kabur. Kompi sinyal juga sudah lari. Sekarang kita tidak bisa menghubungi satuan mana pun.”