The Last RTS

commander404
Chapter #5

⟻⟻⟻ Ch. 5 ⟼⟼⟼

Rasanya seperti apa, kena hantaman langsung meriam kapal kaliber 381mm dari jarak dekat?

Pikiran Broto putus seketika.

Selama beberapa puluh detik setelah ledakan itu, pikirannya kosong. Kepalanya berdengung seolah ribuan lonceng dibunyikan bersamaan.

Dalam keadaan linglung, alam bawah sadar Broto yakin dirinya pasti tuli, sebab yang terdengar cuma dengungan akibat guncangan itu, tak ada suara lain.

Tapi ternyata dia tidak tuli. Diiringi denging tajam, sekitar delapan puluh persen pendengarannya kembali, dan samar-samar ia mulai mendengar teriakan dari tak jauh.

Broto—Letnan Kolonel Bratomo Aditya Wirasena—berjuang bangkit, mengedarkan pandangan ke bangunan yang tadinya jadi Markas Besar itu.

Lebih dari separuh ruang makan besar itu sudah runtuh, sisanya penuh retakan.

Atap yang ambruk mengubur nyaris semua telepon dan mesin telegraf; para operator dan staf yang tadi sibuk di sana nyaris habis tak bersisa.

Suara telegraf yang tadi memenuhi ruangan kini berganti jadi jeritan.

Broto sempat terpaku. Ketika melihat seorang staf sedang berusaha mati-matian menggali tangannya sendiri yang putus dari reruntuhan, barulah ia sadar seharusnya ia memeriksa dirinya sendiri dulu.

Ia tampak tak terluka—kecuali lengan yang memang sudah luka dari tadi.

Broto berdecak. Baru saat itu otaknya mulai bekerja lagi, dan keringat dingin telat mengucur di tubuhnya.

Barusan itu, ia baru saja lolos dari cengkeraman maut?

Ia menoleh ke samping, melihat Duke Bagaskara tertindih dua pengawal.

Kedua pengawal itu pasti sudah mengorbankan diri, tubuh mereka penuh darah.

Broto terhuyung mendekat, menarik kedua pengawal itu, dan mendapati sang Duke di bawahnya sedang berdarah dari kepala, napasnya juga sudah tinggal seujung rambut.

"Duke Bagaskara!" seru Broto. "Aku panggilkan medis sekarang!"

"Sudahlah, cepat pergi dari sini!" Sang Duke baru sempat mengucap beberapa patah kata sebelum meringis kesakitan. Setelah jeda panjang, ia melanjutkan, "Kapal perang bisa menembak kita, artinya... artinya armada laut kita sudah tak sanggup menahan musuh. Kota ini... tidak bisa dipertahankan lagi!"

Setelah bicara begitu, kepala sang Duke terkulai, pingsan.

Saat itu juga seorang medis akhirnya tiba. Pria bertubuh kekar. Ia mendorong Broto menyingkir tanpa basa-basi, memeriksa nadi di leher sang Duke.

"Aku harus lakukan CPR ke Yang Mulia sekarang juga!"

Broto mundur, memberi ruang buat medis itu bekerja.

Saat itulah ia dengar seseorang di dekatnya memanggil, "Letnan Kolonel! Sekarang kita harus bagaimana?"

Broto menoleh bingung, melihat siapa yang bicara.

Pangkat di bahu orang itu satu strip lebih rendah dari Broto—seorang Kapten berambut agak kemerahan. Mungkin karena masih syok, pikiran Broto yang muncul saat itu malah: rambut warna begini biasanya jadi ciri tokoh utama di sinetron kolosal.

Sang Kapten berambut kemerahan mengulangi pertanyaannya, "Letnan Kolonel! Sekarang kita harus bagaimana?"

Broto menunjuk dirinya sendiri. "Kau tanya aku?"

"Iya," jawab sang Kapten. "Kau perwira berpangkat tertinggi yang berhasil kutemukan!"

Broto refleks melirik ke arah Duke, melihat medis kekar itu masih berjuang melakukan CPR, tapi sepertinya harapan hidupnya tipis.

Ia terpaksa menjawab, "Coba cari orang lain, pasti masih ada yang selamat."

Sang Kapten, "Sudah kucari! Sudah dua puluh menit aku mencari sejak tembakan berhenti."

Broto mengerutkan kening. Baru saat itu ia sadar, dirinya bukan cuma pingsan semenit, tapi minimal dua puluh menit. Pantas saja kondisi sang Duke sudah begitu parah—terbaring di bawah dua pengawal, berdarah selama itu.

"Eh, kepalaku masih agak pusing," kata Broto. "Kita pastikan dulu situasinya. Berapa orang yang berhasil kau kumpulkan sekarang?"

Sebenarnya yang paling ingin Broto tanyakan adalah, "Negara kita ini namanya apa?" Seharusnya tertera di kartu identitasnya, tapi tadi ia lupa memeriksanya—terlalu fokus ke nama sendiri sampai lupa nama negaranya.

Tidak pas rasanya kalau sekarang malah mengeluarkan kartu identitas cuma buat mengecek nama negara, di tengah situasi darurat begini.

Sang Kapten menjawab, "Aku sudah kumpulkan bagian logistik Markas Besar dan rumah sakit lapangan. Sebagian besar batalion pengawal kabur, kompi sinyal juga sudah lari. Sekarang kita tidak bisa menghubungi satuan mana pun."

Lihat selengkapnya