The Last RTS

Stalingrad
Chapter #7

⟻⟻⟻ Ch. 6 ⟼⟼⟼

Broto ingin memastikan dugaannya. Ia menoleh ke Kapten Yusuf yang merunduk di sampingnya. "Panah Dewa itu semacam roket?"

"Betul."

"Dipandu sama Tangan Suci?"

"Tangan Suci berdoa ke Dewa, terus Dewa yang memandu arahnya."

Yusuf berusaha membuat suaranya terdengar khusyuk. Gagal total, malah kedengaran seperti orang lagi mengarang alasan.

Broto sudah bisa menyimpulkan sendiri: Panah Dewa itu sebenarnya senjata berpandu radio atau kabel. Mungkin dunia ini pernah mengalami keruntuhan peradaban, dan orang-orang sekarang tidak lagi paham teknologi di balik pembuatannya.

Sebagai pemain lama game strategi perang, ia langsung sadar betapa pentingnya rudal anti-tank semacam itu untuk situasi sekarang.

"Yusuf, suruh orang hubungi Tim Panah Dewa. Itu pasti timnya Pastor Girinata."

Larasati sudah bergabung ke tim itu, dan ia ingat betul, regu itu baru saja kehilangan Tangan Suci mereka, makanya Larasati buru-buru dimasukkan ke sana.

"Siap, akan saya urus," sahut Yusuf.

Pandangannya kembali tertuju ke garis depan.

Asap hitam masih mengepul dari bangkai tank pertama. Setelah kehilangan satu unit, musuh tidak mundur sama sekali, rantai baja tank kedua berderit pelan, mendorong bangkai yang masih terbakar itu maju, menjadikannya perisai berjalan.

"Musuh ini pengalaman sekali," gumamnya.

"Kau tidak sadar?" kata Yusuf. "Lengan seragam musuh ada lambang mata elang. Itu bukti mereka pernah ikut Kampanye Carolingia."

Broto sama sekali tidak tahu apa itu Kampanye Carolingia, dan tidak berani bertanya lebih jauh, jangan-jangan itu pengetahuan umum yang semua orang di dunia ini sudah tahu.

Carolingia. Di bumi, ada Negara Carolingia dari bangsa Franka. Jangan-jangan di garis waktu ini, negeri semacam Prancis juga cepat direbut Vasteria. Dan pasukan yang sedang menyerang sekarang, veteran-veteran yang ikut merebutnya dengan cepat itu?

Sambil masih berpikir begitu, ia melihat regu yang baru saja menembakkan Panah Dewa meninggalkan posisi mereka, seolah berniat maju melewati tabir asap.

"Ini apa-apaan," gumamnya. "Maju memang bisa lewat asap, tapi itu artinya kalian cuma dua-tiga ratus meter dari tank musuh. Senapan mesinnya bisa langsung kena kalian!"

"Ha?" Yusuf bingung. "Aku tidak berniat maju kok?"

"Bukan kamu!" sahutnya cepat. "Regu Pastor Girinata yang maju, bahaya sekali! Hentikan mereka!"

Yusuf menatap kejauhan dengan bingung, pandangannya cuma menabrak deretan bangunan. Ia sama sekali tidak bisa melihat regu itu.

Tanpa tampilan atas, mustahil dapat informasi garis depan sedetail itu cuma dari atap gedung, sebagian besar pandangan tertutup bangunan.

"Aku bahkan tidak tahu mereka di mana," kata Yusuf. "Kau bisa lihat dari mana?"

Broto langsung tutup mulut. Menjelaskan soal kemampuannya terlalu ribet. Ke depannya ia harus lebih hati-hati, cukup kasih perintah tanpa menjelaskan dari mana dia tahu.

Lewat tampilan atas, ia sudah memastikan Larasati memang ada di sana, rambut peraknya mengilap, langsung dikenali meski dari sudut setinggi ini.

Lihat selengkapnya