The Last RTS

Yelena Morozova
Chapter #8

⟻⟻⟻ Ch. 7 ⟼⟼⟼

Beberapa saat sebelumnya.

Letnan Kolonel Anton Yudanov, komandan Resimen Horizon ke-3, bersorak begitu tank musuh itu meledak dihajar Panah Dewa. "Mantap!"

Mayor Pramudya Mirov Yevich, staf resimen berdarah bangsawan, mengerutkan kening mendengar itu.

Anton tidak peduli. Cuma dari namanya saja sudah ketahuan, dia memang tidak akur dengan kalangan bangsawan. Para bangsawan suka nama berbunga-bunga, tidak akan pernah sudi pakai nama sesederhana Anton.

Ia berasal dari keluarga petani, naik pangkat sampai jadi komandan resimen berkat jasanya di Perang Saudara dan Perang Salju dulu. Kata orang, kalau saja Perang Saudara dan pembersihan sesudahnya tidak menghabisi sebagian besar perwira bangsawan, Anton tidak bakal pernah sampai ke posisi ini.

Pramudya sejak awal memandang rendah dirinya. Waktu perang baru pecah, si bangsawan bahkan sempat coba mengambil alih komando, ditolak mentah-mentah. Setelahnya, demi menghindari cerocosannya, Anton kabur ke garis depan, meninggalkan markas resimen kosong melompong.

Pramudya malah nekat mengekor sampai ke sini, omelannya jadi dua kali lipat, cerewet soal hal-hal sepele.

Belakangan, serangan Vasteria membuktikan pengalaman Anton dari dua perang itu memang berguna, angka korban pasukannya jauh lebih rendah dibanding resimen lain. Tapi pengalaman saja tidak cukup menutup jurang perbedaan senjata dan kesiapan.

Sebagian besar Resimen Horizon ke-3 masih prajurit baru, dan sejujurnya, seluruh kekaisaran ini memang tidak siap perang. Kanselir Kekaisaran bahkan bersumpah lewat radio sehari sebelum perang pecah bahwa perang tidak akan terjadi, katanya sasaran Vasteria ke arah barat.

Dengan kondisi semendadak ini, Anton sudah cukup puas.

"Jangan takut!" teriaknya ke prajurit-prajurit baru. "Rebahan di balik tembok, tembak, tidak usah bidik segala! Musuh itu juga manusia, mereka juga ciut kalau peluru lewat dekat kuping! Tarik kokang, tembak lagi! Jangan mikir macam-macam!"

Sepucuk senapan mesin Maxim tak jauh darinya menyalak kencang, memutus ucapannya sendiri.

Lalu sebutir peluru meriam menghantam karung pasir di depan posisi senapan itu.

Ledakan menelan sisa kalimatnya.

Pertahanan darurat itu tidak sanggup menahan meriam tank. Senapan mesin berikut dudukan, roda, dan perisainya, beratnya puluhan kilogram, terangkat seperti mainan, terguling ke tanah. Tubuh bagian atas si penembak lenyap tak berbentuk. Si pembawa amunisi kehilangan bahunya, tulang putih menyembul dari daging yang robek.

Jeritan memenuhi ruangan.

"Jangan teriak-teriak!" bentak Anton. "Bangsat! Asisten penembak, pasang lagi senapan mesinnya!"

Ia menyembulkan kepala. Di ujung jalan, tank kedua berbelok di tikungan, lambat tapi pasti, mencari sasaran baru.

"Hmph, biar Panah Dewa yang urus kau."

Ia melirik penuh harap ke arah posisi Tim Panah Dewa. Seluruh jalan sudah tertutup asap.

Tank itu tidak tergesa. Tirai asap jatuh persis di jalur pandang Panah Dewa, dan begitu kabut itu terbentuk, larasnya langsung mengarah mencari target baru. Mereka tahu betul apa yang sedang mereka lakukan.

Lihat selengkapnya