The Last RTS

Yelena Morozova
Chapter #9

⟻⟻⟻ Ch. 8 ⟼⟼⟼

Broto hanya bisa mendengar gema ORVAAANNN tanpa tahu apa yang terjadi di baliknya. Ia gelisah menunggu.

Setelah beberapa saat, sebuah pikiran menyadarkannya: tujuannya cuma satu, melindungi pergerakan Tim Panah Dewa, menyelamatkan Larasati. Begitu asap turun, tujuan itu sudah tercapai.

Ia mengalihkan perhatian ke regu Pastor Girinata, tempat Larasati berada, dan mendapati regu itu sudah berhenti maju.

Seorang pria bertubuh besar bersandar di tembok, memegang teropong, berusaha sia-sia mengintip lewat kepulan asap. Kemungkinan besar itu Pastor Girinata sendiri.

Larasati bersandar di dinding di dekatnya, masih menggenggam senapan laras panjang itu erat-erat. Jari-jarinya pucat karena terlalu keras mencengkeram popor, napasnya pendek dan cepat.

"Komunikasi dengan Resimen Horizon ke-3 di garis depan sudah tersambung lagi," kata Yusuf di samping Broto.

Broto tidak tahu resimen mana itu. "Itu resimen yang tadi menyerbu balik di tengah asap?"

"Hah?" Yusuf bingung.

"Kamu tidak dengar suara ORVAAANNN tadi?"

Ia sempat mengira teriakan itu terdengar sampai ke tempat tubuh fisiknya berada.

"ORVAAANNN apaan?"

Jadi tampilan atasnya bisa membawa suara juga, asal cukup keras. Pantas saja suara tembakan terdengar sejelas itu waktu diamati dari atas tadi, ia kira itu suara yang benar-benar tertangkap telinganya sendiri. Belum pernah ke medan perang sungguhan, jadi tidak bisa membedakan jarak suara tembakan.

"Tidak apa-apa," katanya. "Kasih aku teleponnya."

Kembali ke pandangan normal, ia mengambil gagang telepon dari tangan Yusuf. "Aku Bro... Count Aditya Wirasena, silakan bicara."

"Count Aditya Wirasena? Di mana Duke?" Suara di seberang keras sekali, sampai kupingnya berdenging.

"Duke sudah wafat. Barusan meriam berat kapal perang musuh menghantam Markas Besar, sebagian besar staf ikut tewas. Sekarang aku yang pegang komando tertinggi." Ia berusaha membuat suaranya berwibawa.

"Siapa yang memerintahkan granat asap tadi?"

"Perintahku. Kenapa?"

"Mantap sekali! Serbuan balik kami mengusir musuh dari garis depan, kami bahkan berhasil hancurkan satu tank dan minimal dua kendaraan lapis baja! Perintah Count luar biasa! Bukan, harusnya Yang Mulia!"

Broto melirik Yusuf. Tanpa memegang gagang telepon, Yusuf tidak bisa mendengar isi pembicaraan itu, cuma bisa balas menatap bingung.

Suara di telepon masih memuji-muji. "Perwira stafku bilang, dia bahkan belum pernah dengar taktik semacam ini di Akademi Militer Kronenberg! Yang Mulia, satu gelombang asap lagi, kami masih bisa bertahan!"

Ia mengerutkan kening. "Sudah tidak ada asap lagi. Musuh hampir sampai ke posisi artileri kami, tadi itu tembakan penutup terakhir mereka. Mulai sekarang kita cuma bisa andalkan diri sendiri."

Suara lantang yang tadi memuji-muji itu mendadak diam.

"Kalau artileri sudah dijangkau musuh," suara itu bertanya sedetik kemudian, "bukannya kita hampir dikepung?"

Lihat selengkapnya