The Last RTS

Yelena Morozova
Chapter #10

⟻⟻⟻ Ch. 9 ⟼⟼⟼

Di pihak Kekaisaran Vasteria.

Jenderal Voskar, Panglima Angkatan Darat ke-25 Vasteria, menatap curiga kepulan asap yang mulai membubung dari kota di kejauhan.

Markas komandonya berdiri di sebuah bukit kecil di luar kota, dengan pemandangan yang luar biasa luas, bahkan kapal perang Imperator yang berlabuh jauh di lautan pun terlihat jelas dari sana.

Berkat posisi itu pula, ia bisa menyaksikan asap yang menjalar di sepanjang jalanan kota dengan gamblang.

Setelah berpikir sejenak, ia bertanya ke Kepala Stafnya, "Itu gas beracun putih?"

Kepala Staf menggeleng. "Belum pernah dengar yang seperti itu. Fosgen warnanya tidak seputih ini."

Voskar memegang teropongnya dengan dua tangan, jarinya gelisah memutar-mutar kenop di badan teropong, kebiasaan lama saat ia sedang berpikir keras.

"Mungkin cuma asap biasa?" duga Kepala Staf.

"Pihak bertahan yang menembakkan asap?" Voskar berdecak. "Itu bikin senapan mesin mereka sendiri jadi tidak berguna! Keunggulan jarak Panah Dewa mereka juga jadi percuma! Di Kampanye Carolingia dulu, tim asap kita sampai harus tembakkan granat asap sendiri buat menutupi tank yang menerobos zona keunggulan Panah Dewa. Asap adalah sahabat pihak penyerang, sekaligus mimpi buruk bagi pihak bertahan!"

Kepala Staf menggeleng. "Mungkin komandan musuh cuma amatiran?"

"Komandan musuh itu Duke Vladimir yang berpengalaman," bantah Voskar. "Dia dapat pendidikan militer lengkap, tidak mungkin bikin kesalahan setingkat itu —"

Belum selesai bicara, seorang perwira staf berlari masuk. "Gawat, Tuan!"

"Lapor dulu yang benar!" tegur Voskar.

Perwira itu langsung berdiri tegak, hentakan tumitnya menggelegar. "Lapor!"

Voskar masih belum puas, memberi ceramah singkat. "Sebagai perwira, seberapa mendesak pun situasinya, kau harus tetap terlihat tenang. Bawahanmu sedang mengawasi, kau paham, Kapten Ranholt?"

"Paham!"

Voskar mengangguk puas. "Bagus. Sekarang bicara, ada apa?"

"Divisi 54 melapor lewat radio, Kekaisaran Eisenmark melancarkan serangan balik. Kontak dengan Resimen 353 mereka terputus, dan ada prajurit yang lari kocar-kacir muncul di dekat Markas Divisi!"

Voskar terpaku sejenak. "Serangan balik? Baru dua hari perang berjalan, kita sudah sampai di kota Ronezh. Ke mana pun kita bergerak, pasukan Eisenmark runtuh seperti gunung longsor. Masih ada semangat mereka buat menyerang balik?"

Kepala Staf mengingatkan, "Tadi Tuan sendiri bilang komandan musuh, Duke Vladimir, itu orang yang sangat cakap."

"Ya, memang aku yang bilang begitu!"

Voskar berpaling ke peta.

"Tapi kalau musuh punya semangat dan organisasi buat menyerang balik, kenapa mereka tidak mundur saja? Maksudku, menerobos ke belakang? Sekalipun mereka berhasil tembus barisan kita dengan serangan frontal, mereka tetap tidak bisa lolos. Dari sini sampai perbatasan, ada satu juta pasukan yang sedang maju!"

Sambil bicara, ia mengetuk tongkatnya keras-keras ke peta, tepat di antara kota Ronezh dan garis perbatasan, mengulang, "Satu juta pasukan, paham? Sekalipun pasukan Duke itu berhasil kabur utuh sepenuhnya, yang menunggu di depan sana cuma pemusnahan total!"

Ia menatap peta beberapa detik, lalu menggeleng. "Tidak, ini tidak mungkin serangan sungguhan. Ini cuma serangan balik terbatas, cuma upaya mengacaukan formasi kita, buat celah buat mundur. Korps lapis baja Jenderal Kroft sebentar lagi bakal menyelesaikan pengepungan Ronezh. Semua usaha mereka bakal sia-sia."

Sambil bicara, Voskar menatap si perwira staf yang masih panik. "Perintahkan Divisi 54 segera kirim orang buat menenangkan resimen yang tercerai-berai, cari markas resimen yang hilang kontak... Tidak, biar aku sendiri yang bicara dengan Divisi 54. Teleponnya sudah tersambung?"

"Belum, Tuan. Kami baru saja tahu lokasi Markas Divisi 54, mobil komunikasinya baru dikirim," sahut Perwira Komunikasi di sampingnya.

Radio butuh penyandian dan ada jeda transmisi. Sinyal radio juga rawan disadap musuh. Telepon jauh lebih aman dan kualitas suaranya jauh lebih baik daripada radio, tapi telepon butuh kabel, dan kabel cuma bisa dipasang kalau kedua pihak sudah berhenti bergerak.

Voskar melambaikan tangan. "Baiklah, radio saja. Aku mau bicara dengan Divisi 54."

Ia melangkah lebih dulu menuju pintu.

Lihat selengkapnya