The Last RTS

Yelena Morozova
Chapter #11

⟻⟻⟻ Ch. 10 ⟼⟼⟼

Letnan Kolonel Anton Yudanov menghantam radio dengan popor senapannya, lalu berkata ke prajurit-prajurit di sekitarnya, "Jangan lihatin doang. Kumpulin semua kertas ini, kirim balik ke belakang."

"Tunggu dulu!" Mayor Pramudya, sang Kepala Staf, menahan prajurit yang hendak melempar berbagai dokumen ke dalam keranjang, menarik salah satu lembarannya. "Dokumen ini ada kode satuannya. Ini Divisi Infanteri ke-54, bagian dari Angkatan Darat ke-25 Vasteria, yang ikut Kampanye Carolingia. Lambang divisi ini ada mata elangnya, tanda mereka pernah ikut kampanye itu."

"Tapi mereka tetap kita kalahkan!" sahut Anton. "Ide si Broto itu bener-benar ampuh, kita benar-benar sampai ke Markas Divisi musuh tanpa hambatan!"

"Namanya Bratomo Aditya Wirasena," Pramudya membetulkan. "Kalau bukan orang dekat, panggil Count Aditya Wirasena atau Tuan Aditya Wirasena."

Anton melambaikan tangan. "Aku ini orang kasar, tidak paham aturan berbelit-belit kalian! Perintah Count itu maju menyerang, jadi kita lanjut saja."

"Kita masih mau lanjut menyerang?" Pramudya kaget. "Kita sudah keluar dari kabut asap. Sampai ke Markas Divisi ini saja sudah di luar dugaan musuh! Sekarang mereka pasti sudah waspada! Dan kau tadi —"

"Aku cuma main-main sama mereka!" Anton menunjuk peta musuh. "Sini, lihat! Markas musuh ada di sini, di puncak gunung, mengawasi seluruh kota Ronezh, menguasai jalan masuk ke kota, sekaligus bisa mengenai rel kereta yang melintasi kota. Musuh pasti mengira kita mau menyerang ke sini!

"Tapi perintah yang kita terima itu menerobos keluar, artinya kita menuju belakang, arah timur. Kita harus keluar kota lewat percabangan jalan ini. Aku kenal jalan kecil ini, jalannya lewat semak-semak lebat. Waktu kita menerobos nanti, sudah malam, kita bisa mundur lewat jalan kecil itu di bawah lindungan gelap!"

"Kau yakin ini yang dimaksud Count?" Pramudya menatapnya tajam. "Bisa jadi dia justru mau menyerbu habis-habisan sampai mati."

"Mana mungkin! Kalau begitu dia tidak bakal bawa rumah sakit lapangan segala. Percaya sama aku, Count pasti mau kita menerobos keluar, selamat semua, dia kebetulan menemukan celah di garis musuh."

"Tapi —"

Anton meletakkan kedua tangannya di bahu Pramudya. "Dengar! Aku memang tidak tahu persis maksud Count, tapi aku tahu maksudku sendiri! Aku tidak berencana mati di sini! Vasteria itu memang layak dibenci, aku juga mau balas hajar mereka!

"Tapi kalau aku mati, bagaimana caraku mau hajar mereka?"

"Kau cuma takut mati," kata Pramudya. "Kau tidak punya rasa hormat sama sekali!"

"Apa?"

"Kubilangin ya, kalau saja pastor militer kita belum mati, dia pasti sudah kirim kau ke mahkamah militer sekarang! Tuduhannya pengecut dan hendak menyerah! Tapi kuingatkan, sesuai peraturan, kalau seorang komandan menunjukkan tanda-tanda pengecut dan hendak menyerah, sebagai Kepala Staf, aku berhak mencopot komandonya!"

Anton, dengan emosi meledak, langsung mencengkeram kerah baju Pramudya. "Apa katamu barusan? Kau ada di mana waktu aku menghancurkan kepala anjing-anjing Vasteria pakai granat? Berani-beraninya kau bilang aku pengecut dan mau menyerah?"

"Kau yang milih rute mundur!"

Saat keduanya sedang beradu mulut sengit, terdengar suara mesin mobil dari luar pintu.


⟻⟻⟻⟼⟼⟼

Lihat selengkapnya