The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #1

CHAPTER 1: MURID PALING PAYAH

Namaku Murokame Yuuto.

Aku adalah siswa SMA tahun pertama.

Dan menurut penilaian objektif dari hampir seluruh manusia yang pernah mengenalku...

Aku tidak berguna.

Bukan.

Kalimat itu terlalu kasar.

Mari kita gunakan istilah yang lebih manusiawi.

Aku sangat tidak berbakat.

Nilai ujianku?

Merah.

Kemampuan olahraga?

Menyedihkan.

Kemampuan bersosialisasi?

Lebih menyedihkan lagi.

Wajah?

...Yah, setidaknya aku masih bisa bercermin tanpa pingsan.

Aku bukan orang jelek.

Hanya saja, kalau ada kontes mencari pria paling tampan di sekolah, namaku mungkin akan dimasukkan ke daftar peserta supaya jumlahnya genap.

Itulah kehidupanku.

Biasa.

Menyedihkan.

Dan sangat membosankan.

Setidaknya...

Sampai hari itu.


"Baiklah, semuanya! Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran mengenai teori dasar manipulasi mana."

Suara guru terdengar dari depan kelas.

Aku duduk di bangku paling belakang dekat jendela.

Tempat strategis untuk tidur.

Atau melarikan diri secara mental ketika pelajaran terlalu sulit.

Di papan tulis terdapat sebuah lingkaran sihir berukuran cukup besar.

Guru kami, Fujimoto-sensei, menggambarkan beberapa garis menggunakan kapur.

"Seperti yang sudah kalian pelajari, manusia modern memiliki kemampuan menghasilkan dan memanipulasi mana sejak lahir."

Beberapa murid mengangguk.

Aku tidak.

Aku hanya menatap papan tulis sambil menopang dagu.

Mana.

Sihir.

Lingkaran sihir.

Elemen.

Konversi energi.

Semua itu merupakan hal yang sudah biasa di dunia kami.

Jepang bukan lagi negara seperti yang ada di buku sejarah.

Sejak fenomena Awakening terjadi hampir dua abad lalu, manusia menemukan bahwa sebagian besar makhluk hidup memiliki energi khusus yang disebut mana.

Kemudian manusia belajar menggunakannya.

Api.

Air.

Angin.

Tanah.

Petir.

Es.

Bahkan ruang dan waktu.

Semua bisa dimanipulasi oleh penyihir tingkat tinggi.

Karena itu, kemampuan menggunakan sihir menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Ada sekolah sihir.

Universitas sihir.

Militer sihir.

Rumah sakit menggunakan sihir.

Transportasi menggunakan sihir.

Bahkan beberapa restoran menggunakan sihir untuk memasak.

Dan tentu saja...

Ada satu tempat yang paling tidak cocok untukku.

Sekolah.

"Yuuto."

"Ya?"

"Bangun."

Aku mengangkat kepala.

Beberapa murid tertawa.

Fujimoto-sensei memandangiku dengan tatapan datar.

"Ini bukan waktu tidur."

"Maaf, Sensei."

"Kalau kau mengantuk, gunakan sihir penyegar."

Aku terdiam.

"...Saya tidak bisa."

"Ah."

Kelas kembali tertawa.

Aku menundukkan kepala.

Benar.

Aku lupa.

Aku tidak bisa menggunakan sihir.

Bukan karena aku belum belajar.

Bukan karena aku malas.

Bukan karena tubuhku sedang sakit.

Aku memang...

tidak memiliki mana.


"Baiklah."

Fujimoto-sensei menepuk tangan.

"Daripada hanya melihat teori, kita akan melakukan praktik."

Beberapa murid langsung bersemangat.

Aku justru ingin menghilang.

Praktik sihir adalah neraka bagiku.

"Semua siswa, maju satu per satu. Aktifkan lingkaran sihir dasar yang sudah kita pelajari."

Siswa pertama maju.

Seorang anak laki-laki bernama Takahashi.

Ia mengangkat tangan.

Sebuah cahaya merah muncul.

"Sihir Api: Percikan!"

Puf!

Api kecil muncul di telapak tangannya.

"Bagus."

Tepuk tangan terdengar.

Siswa berikutnya maju.

"Sihir Air: Peluru Air!"

SHOOOT!

Sebuah bola air melesat dan menghantam target.

"Hebat!"

Aku hanya bisa menonton.

Satu demi satu.

Api.

Air.

Angin.

Tanah.

Petir.

Semua orang memiliki sesuatu.

Sesuatu yang bisa mereka banggakan.

Sesuatu yang membuat mereka berbeda.

Sampai akhirnya—

"Berikutnya."

Fujimoto-sensei melihat daftar nama.

"Murokame Yuuto."

Suasana kelas langsung berubah.

Beberapa orang mulai berbisik.

Lihat selengkapnya