The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #2

CHAPTER 2: TAKDIR YANG SEDANG DIRUBAH

Bel sekolah berbunyi.

Teng. Teng. Teng.

Suara sederhana yang biasanya menandakan berakhirnya satu pelajaran—namun hari itu, tidak ada seorang pun di dalam kelas yang peduli terhadap bunyi tersebut. Karena di tengah-tengah ruangan, tepat di depan papan tulis, seorang gadis asing berdiri dengan tenang, rambutnya yang panjang berwarna perak kebiruan berkibar diterpa angin dari jendela yang baru saja ia dobrak.

Seragam kami sudah berantakan. Meja bergeser, kursi terbalik, dan guru matematika yang tadi mengajar kini berjongkok di bawah meja sambil memeluk buku pelajarannya erat-erat, seolah buku itu bisa jadi tameng dari apapun yang baru saja terjadi.

Sementara aku—Murokame Yuuto—sedang menunjuk wajah gadis tersebut dengan tangan gemetar, mencoba menyusun kalimat yang masuk akal dari situasi yang sama sekali tidak masuk akal.

"Kau..." Aku menelan ludah. "...datang dari masa depan?"

"Ya."

Jawabannya terlalu cepat, terlalu yakin, seperti pertanyaan itu sudah dia tunggu sejak lama.

"Dan kau bilang aku adalah..." Aku berhenti sejenak, sulit mengucapkan kalimat berikutnya tanpa merasa konyol. "...penyihir terakhir umat manusia?"

"Benar."

"Yang akan menyelamatkan dunia?"

"Kurang lebih."

"Dan dunia akan hancur tiga tahun dari sekarang?"

"Ya."

Aku mengangguk pelan, memijat pelipis, mencoba mencerna semuanya seperti mencerna soal matematika yang terlalu rumit untuk otakku. "Baik," kataku akhirnya, menarik napas. "Kalau begitu aku punya satu pertanyaan."

Xien Tao memiringkan kepala. "Apa?"

Aku menunjuk diriku sendiri. "Kenapa aku?"

Hening. Seketika seluruh kelas ikut memandangku, seolah pertanyaan itu juga mewakili keheranan mereka sendiri.

Pertanyaan itu memang terdengar sederhana. Tapi sebenarnya sangat penting—karena aku bukan siapa-siapa. Nilai matematika: merah. Bahasa Jepang: merah. Bahasa Inggris: merah. Fisika: merah. Olahraga? Lebih baik tidak usah dibicarakan. Bahkan dalam pelajaran seni, gambar yang kubuat pernah disebut guru sebagai "interpretasi abstrak mengenai penderitaan manusia"—padahal aku cuma menggambar kucing.

Aku juga tidak memiliki wajah tampan, tidak memiliki tubuh atletis, tidak punya keluarga terkenal, tidak punya bakat khusus. Dan yang paling penting—aku tidak bisa menggunakan sihir.

Di zaman modern seperti sekarang, hampir seluruh manusia memiliki sedikit kemampuan sihir. Ada yang bisa menyalakan api kecil. Ada yang mampu menggerakkan benda. Ada yang bisa menyembuhkan luka ringan. Bahkan anak SD sekarang bisa menggunakan mantra sederhana.

Sedangkan aku? Aku pernah mencoba menyalakan lilin menggunakan sihir selama dua jam penuh. Hasilnya, aku malah membakar rambut sendiri. Sejak saat itu aku berhenti mencoba.

Jadi, "Kenapa harus aku?" aku mengulangi pertanyaan itu, kali ini lebih tegas.

Xien Tao menatapku cukup lama, lalu perlahan berjalan mendekat, sepatu bot futuristisnya berhenti tepat di hadapanku, jaraknya hanya beberapa puluh sentimeter. Aku otomatis mundur—satu langkah, dua langkah, tiga langkah—sampai punggungku membentur meja.

Xien menatapku lurus-lurus, kemudian berkata, "Karena hanya kau yang tersisa."

"...Hah?"

"Satu-satunya manusia yang memiliki kemungkinan untuk menggunakan sihir tingkat tertinggi."

Aku terdiam. "Tapi aku tidak bisa menggunakan sihir."

"Aku tahu."

"Jadi teorimu salah."

"Tidak." Jawabnya tegas. "Justru karena itulah aku datang."

Aku mengerutkan dahi. Xien mengangkat tangan kanannya, dan sebuah lingkaran cahaya muncul di telapak tangannya—berwarna biru pucat, rune-rune asing berputar di dalamnya. Beberapa murid langsung terkesiap.

"Waah..."

"Mantra apa itu?"

"Efek visualnya keren..."

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Sihir Xien jauh berbeda dari sihir yang biasa kulihat—tidak ada gerakan mantra panjang, tidak ada tongkat, tidak ada pengucapan rumit. Ia hanya mengangkat tangan, dan sihir muncul begitu saja, seolah realitas sendiri yang tunduk padanya.

"Di masa depan," kata Xien, menatap lingkaran itu, "sistem sihir manusia berkembang jauh melampaui apa yang kalian kenal sekarang."

Lingkaran cahaya itu berubah bentuk—dari lingkaran menjadi segitiga, kemudian menjadi persegi, lalu pecah menjadi ratusan simbol kecil yang berputar seperti galaksi mini di atas telapak tangannya.

"Kami berhasil membuat sihir yang mampu menghancurkan kota." Semua orang terdiam. "Tapi kami tetap kalah."

Suaranya berubah. Tidak lagi terdengar seperti gadis misterius yang baru saja masuk ke kelas dengan gaya dramatis. Ada sesuatu yang lain di sana. Ketakutan yang nyata, yang tidak bisa dipalsukan siapapun.

"Musuh yang datang dari luar angkasa memiliki teknologi yang bahkan tidak bisa kami pahami," lanjutnya, lingkaran cahaya di tangannya padam perlahan. "Mereka tidak hanya menghancurkan manusia. Mereka menghancurkan sejarah. Menghapus kota. Membakar buku. Menghilangkan bahasa. Memburu anak-anak. Membunuh para penyihir."

Aku tidak sengaja menggenggam ujung meja, buku-buku jariku memutih.

"Pada tahun kedua invasi," Xien melanjutkan, "lebih dari separuh populasi dunia menghilang."

Seseorang di belakangku menelan ludah keras, cukup keras hingga aku bisa mendengarnya di tengah keheningan kelas.

"Pada tahun ketiga..." Xien berhenti, matanya menatap ke luar jendela, ke arah langit Tokyo yang biasanya biru kini berubah menjadi jingga menjelang sore. "Sudah tidak ada negara."

Tidak ada yang bicara.

"Yang tersisa hanyalah kelompok-kelompok manusia yang bersembunyi di bawah tanah." Ia menurunkan tangannya. "Dan pada tahun terakhir..." Tatapannya kembali kepadaku. "...hanya ada satu nama yang terus disebut oleh para penyintas."

Aku tahu jawabannya. Entah kenapa aku sudah tahu, jauh sebelum ia mengucapkannya.

"Namamu," kata Xien. "Murokame Yuuto."

Dadaku terasa sesak, seperti ada tangan tak terlihat yang mencengkeram dari dalam.

"Legenda mengatakan bahwa ketika seluruh penyihir telah mati," Xien mengangkat satu jari, "akan muncul seorang penyihir terakhir." Jari kedua terangkat. "Dia akan terlahir tanpa kemampuan menggunakan sihir." Jari ketiga. "Dia akan dianggap sebagai manusia paling tidak berguna di zamannya." Tangannya berhenti di udara. "Namun orang itulah yang akan menjadi kunci untuk mengubah masa depan."

Aku menatap kedua tanganku. Tidak ada cahaya. Tidak ada aura. Tidak ada lingkaran sihir. Hanya tangan seorang siswa SMA biasa yang bahkan tidak bisa membuat api dari korek.

"Aku?"

"Ya."

"Tidak mungkin."

"Kenapa?"

"Karena aku benar-benar payah." Aku menunjuk wajahku sendiri. "Lihat saja." Kemudian menunjuk tubuhku. "Ini." Lalu menunjuk meja di belakangku, entah kenapa ikut terbawa suasana. "Dan ini."

Xien berkedip. "...Apa hubungannya meja?"

"Aku bahkan pernah gagal mengangkat meja sendirian."

Salah satu teman sekelas di belakangku langsung menyela, tidak bisa menahan diri. "Yuuto, itu karena kau mengangkatnya dari sisi yang salah."

"Diam."

"Selain itu mejanya memang berat."

Lihat selengkapnya