The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #3

CHAPTER 3: PERTEMPURAN YANG SEHARUSNYA BELUM TERJADI

Aku menatap langit.

Retakan hitam itu masih ada.

Semakin lebar.

Semakin panjang.

Seolah-olah seseorang dari balik dunia sedang berusaha membuka sebuah pintu dengan paksa.

Aku tidak tahu harus melakukan apa.

Orang-orang di jalan mulai berlarian.

Beberapa toko menutup pintu.

Lampu lalu lintas berkedip tidak beraturan.

Sirene terdengar dari kejauhan.

Dan aku?

Aku hanya berdiri di tengah trotoar dengan tas sekolah menggantung di bahu.

Seperti orang bodoh.

"Yuuto!"

Suara Xien kembali terdengar dari alat komunikasi kecil di telingaku.

Aku buru-buru menyentuhnya.

"Aku dengar!"

"Jangan pulang."

"Aku sudah dengar itu!"

"Kalau begitu kenapa kau masih berdiri di sana?!"

"Karena aku tidak tahu harus pergi ke mana!"

Hening.

"...Benar juga."

"Kenapa malah setuju?!"

Aku mendongak lagi.

Retakan di langit berdenyut.

Merah.

Kemudian hitam.

Lalu merah lagi.

Seperti jantung raksasa yang berdetak di balik awan.

Aku menelan ludah.

"Xien."

"Apa?"

"Itu benar-benar bukan bagian dari masa depan yang kau ceritakan?"

Tidak ada jawaban.

"Xien?"

Beberapa detik berlalu.

Kemudian suara perempuan itu terdengar pelan.

"...Bukan."

Dadaku terasa berat.

"Seharusnya retakan pertama baru muncul tiga tahun lagi."

"Tiga tahun?"

"Ya."

"Berarti..."

Aku memandang langit.

"...kita punya masalah besar."

"Yuuto."

Nada suara Xien berubah serius.

"Masalah kita bukan besar."

"...Lalu?"

"Jauh lebih buruk."

Aku belum sempat bertanya.

Tiba-tiba—

KRAAAAK!!

Sesuatu jatuh dari langit.

Sebuah benda hitam meluncur melewati gedung di sebelahku.

Menghantam jalan raya.

DUUM!!

Aspal pecah.

Mobil-mobil berhenti mendadak.

Orang-orang berteriak.

Aku refleks mundur.

"Apa itu?!"

"Yuuto, menjauh!"

"Aku juga mau!"

Benda itu bergerak.

Pelan.

Sangat pelan.

Kemudian bangkit.

Bentuknya menyerupai manusia.

Tinggi sekitar dua meter.

Tubuhnya dibungkus lapisan hitam seperti zirah.

Tidak memiliki wajah.

Tidak memiliki mata.

Hanya sebuah garis merah menyala di bagian kepala.

Aku menatapnya.

Makhluk itu menatapku.

Entah bagaimana...

Aku tahu.

Ia sedang mencari seseorang.

Dan orang itu adalah aku.

"Jangan-jangan..."

Benda tersebut mengangkat tangannya.

Sebuah lingkaran merah muncul.

Xien langsung berteriak melalui alat komunikasi.

"YUUTO! LARI!!"

Aku tidak perlu diberi tahu dua kali.

"AAAAAAAHHHH!!"

Aku berbalik.

Berlari sekuat tenaga.

Masalahnya...

Aku tidak pernah pandai berlari.

"KENAPA DUNIA MAU KIAMAT SAAT AKU SEDANG PULANG SEKOLAH?!"

DUAARR!!

Ledakan menghantam jalan di belakangku.

Aku terlempar.

"AARRGH!"

Tubuhku berguling beberapa kali.

Tas sekolahku terlepas.

Kepalaku terasa berputar.

Aku mencoba bangkit.

"Yuuto!"

"Aku masih hidup!"

"Bagus."

"Bagus dari mana?!"

Makhluk hitam itu sudah berada di depanku.

Aku membeku.

Jarak kami hanya beberapa meter.

Garis merah di wajahnya bergerak.

Kemudian sebuah suara mekanis terdengar.

"Identitas dikonfirmasi."

Aku menelan ludah.

"Identitas?"

"MUROKAME YUUTO."

Bulu kudukku berdiri.

"Target prioritas."

Tangannya terangkat.

"Penghapusan dimulai."

"AKU TIDAK SUKA BAGIAN TERAKHIRNYA!"

Aku langsung berbalik.

Tetapi—

ZAP!

Sebuah cahaya merah melesat melewatiku.

Aku terjatuh.

Cahaya itu menghantam gedung di belakang.

DUUUM!!

Lihat selengkapnya