Aku menatap langit. Retakan hitam itu masih ada—semakin lebar, semakin panjang, seolah seseorang dari balik dunia sedang berusaha membuka sebuah pintu dengan paksa.
Aku tidak tahu harus melakukan apa.
Orang-orang di jalan mulai berlarian. Beberapa toko menutup pintu tergesa-gesa. Lampu lalu lintas berkedip tidak beraturan, dan sirene terdengar dari kejauhan, bersahut-sahutan seperti koor yang tidak pernah dilatih untuk situasi seperti ini.
Dan aku? Aku hanya berdiri di tengah trotoar dengan tas sekolah menggantung di bahu, seperti orang bodoh yang lupa caranya panik dengan benar.
"Yuuto!"
Suara Xien kembali terdengar dari alat komunikasi kecil di telingaku. Aku buru-buru menyentuhnya.
"Aku dengar!"
"Jangan pulang."
"Aku sudah dengar itu!"
"Kalau begitu kenapa kau masih berdiri di sana?!"
"Karena aku tidak tahu harus pergi ke mana!"
Hening sejenak.
"...Benar juga."
"Kenapa malah setuju?!"
Aku mendongak lagi. Retakan di langit berdenyut—merah, kemudian hitam, lalu merah lagi, seperti jantung raksasa yang berdetak di balik awan. Aku menelan ludah.
"Xien."
"Apa?"
"Itu benar-benar bukan bagian dari masa depan yang kau ceritakan?"
Tidak ada jawaban.
"Xien?"
Beberapa detik berlalu sebelum suara perempuan itu terdengar pelan, nyaris berbisik.
"...Bukan."
Dadaku terasa berat. "Seharusnya retakan pertama baru muncul tiga tahun lagi."
"Tiga tahun?"
"Ya."
"Berarti..." Aku memandang langit, mencoba mencari logika di antara warna merah dan hitam yang terus berdenyut. "...kita punya masalah besar."
"Yuuto." Nada suara Xien berubah serius. "Masalah kita bukan besar."
"...Lalu?"
"Jauh lebih buruk."
Aku belum sempat bertanya lebih jauh ketika suara itu datang.
KRAAAAK!!
Sesuatu jatuh dari langit—sebuah benda hitam meluncur melewati gedung di sebelahku, menghantam jalan raya dengan kekuatan yang membuat aspal pecah berkeping-keping.
DUUM!!
Mobil-mobil berhenti mendadak, klakson bersahutan, orang-orang berteriak panik. Aku refleks mundur.
"Apa itu?!"
"Yuuto, menjauh!"
"Aku juga mau!"
Benda itu bergerak pelan, sangat pelan, sebelum akhirnya bangkit—bentuknya menyerupai manusia, tinggi sekitar dua meter, tubuhnya dibungkus lapisan hitam seperti zirah. Tidak memiliki wajah. Tidak memiliki mata. Hanya sebuah garis merah menyala di bagian kepala, seperti retakan kecil dari retakan besar yang baru saja melahirkannya.
Aku menatapnya. Makhluk itu menatapku balik.
Entah bagaimana, aku tahu—ia sedang mencari seseorang, dan orang itu adalah aku.
"Jangan-jangan..."
Benda tersebut mengangkat tangannya. Sebuah lingkaran merah muncul, berputar pelan seperti mulut yang baru belajar tersenyum.
"YUUTO! LARI!!" Xien berteriak melalui alat komunikasi.
Aku tidak perlu diberi tahu dua kali.
"AAAAAAAHHHH!!"
Aku berbalik, berlari sekuat tenaga—masalahnya, aku tidak pernah pandai berlari.
"KENAPA DUNIA MAU KIAMAT SAAT AKU SEDANG PULANG SEKOLAH?!"
DUAARR!!
Ledakan menghantam jalan tepat di belakangku. Aku terlempar, tubuhku berguling beberapa kali di aspal yang masih hangat, tas sekolahku terlepas entah ke mana, kepalaku terasa berputar seperti baru saja naik komidi putar yang salah arah.
"Yuuto!"
"Aku masih hidup!"
"Bagus."
"Bagus dari mana?!"
Makhluk hitam itu sudah berada di depanku, jaraknya hanya beberapa meter. Aku membeku. Garis merah di wajahnya bergerak, dan sebuah suara mekanis terdengar, datar tanpa emosi.
"Identitas dikonfirmasi."
Aku menelan ludah. "Identitas?"
"MUROKAME YUUTO."
Bulu kudukku berdiri.