The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #4

CHAPTER 4: PENYIHIR YANG SEHARUSNYA TIDAK ADA

The Last Wizard telah terbangun.

Kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku.

Bahkan setelah waktu kembali bergerak.

Bahkan setelah suara ledakan kembali terdengar.

Bahkan setelah orang-orang berteriak dan berlarian.

Aku masih tidak mengerti.

"Aku?"

Tubuhku mundur satu langkah.

"Yuuto!"

Xien langsung menarik kerah seragamku.

DUARR!!

Ledakan merah menghantam tempatku berdiri beberapa detik sebelumnya.

Aku terlempar bersama Xien.

"UWAHHH!!"

Kami berguling di atas aspal.

"Aduh..."

Aku memegang kepala.

"Ini mulai terasa seperti hari terburuk dalam hidupku."

"Belum."

Xien bangkit sambil menatap ke depan.

"Ini baru permulaan."

"...Tolong jangan mengatakan hal seperti itu."

Makhluk hitam tadi kembali berdiri.

Tidak terluka.

Sama sekali.

Garis merah pada wajahnya kembali menyala.

"Target terkonfirmasi."

Suaranya terdengar lebih berat.

"Anomali telah berevolusi."

Aku menunjuk diriku sendiri.

"Anomali itu aku?"

"Sayangnya."

"Kenapa terdengar seperti aku penyakit?"

Xien tidak menjawab.

Ia mengangkat kedua tangannya.

Lingkaran sihir biru muncul di udara.

"Yuuto."

"Hm?"

"Jangan gunakan kemampuanmu tadi."

Aku terdiam.

"Kenapa?"

"Karena kau belum tahu cara mengendalikannya."

"Aku juga bahkan tidak tahu cara menggunakannya!"

"Itu justru masalahnya."

Xien melirikku.

"Tadi kau tidak menggunakan sihir."

"Ya."

"Kau bahkan tidak menggunakan energi magis."

"Ya."

"Namun kau menghentikan waktu."

Aku menelan ludah.

"Jadi?"

"Jadi..."

Xien menarik napas.

"...kalau kau melakukannya sekali lagi tanpa sadar, aku tidak tahu apa yang akan berhenti."

Aku menatapnya.

"Seberapa buruk?"

"Kalau hanya waktu, kita beruntung."

"...Kalau bukan?"

Xien tidak menjawab.

Jawaban itu sudah cukup.

Makhluk hitam di depan kami kembali bergerak.

ZRAK!

Tangannya berubah menjadi bilah panjang.

Ia melesat.

Xien menahan serangan itu dengan perisai.

KRAANG!!

Gelombang kejut membuat kaca-kaca gedung bergetar.

"Yuuto!"

"Apa?!"

"Lari!"

Aku langsung berlari.

"Ini lagi?!"

Aku melewati mobil.

Tiang listrik.

Mesin penjual otomatis.

Kemudian menoleh ke belakang.

Xien masih bertarung.

Gadis itu menghindari setiap serangan dengan gerakan cepat.

Namun...

Aku melihat sesuatu.

Gerakannya mulai melambat.

"Luka..."

Ada garis merah di lengan kirinya.

Tidak terlalu besar.

Tetapi darah mulai menetes.

Aku berhenti.

"Xien!"

"Jangan berhenti!"

Makhluk itu kembali menyerang.

Xien menangkis.

KRAK!

Perisainya retak.

Aku menggigit bibir.

"Aku tidak bisa terus lari."

"Yuuto!"

"Aku tahu aku payah!"

Aku mengepalkan tangan.

"Aku tahu aku tidak punya sihir!"

Kakiku gemetar.

Tetapi aku tetap berdiri.

"Aku juga tahu kalau aku bukan pahlawan!"

Makhluk hitam itu menoleh kepadaku.

Garis merah di wajahnya kembali menyala.

Target kembali dikunci.

Aku menarik napas.

"Tapi..."

Tanganku mengepal.

"...kalau aku memang satu-satunya orang yang bisa menghentikan semua ini..."

Aku menatap Xien.

"...setidaknya aku harus mencoba."

Xien terdiam.

Kemudian tersenyum tipis.

"Begitu rupanya."

Ia menghapus darah dari sudut bibir.

"Kalau begitu..."

Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kakinya.

"...ikuti aku."

"Ke mana?"

"Ke tempat yang aman."

"Bukankah tadi kau bilang jangan pulang?"

"Memang."

"Jadi?"

Xien mengangkat tangan.

Lihat selengkapnya