The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #6

CHAPTER 6: GADIS DARI BALIK RETAKAN

Aku tidak tahu apa yang lebih mengkhawatirkan.

Kemunculan sebuah tangan dari retakan di udara...

Atau kenyataan bahwa Xien terlihat seperti baru saja melihat hantu.

“Xien.”

Tidak ada jawaban.

“Xien?”

Gadis itu masih menatap retakan di hadapan kami.

Wajahnya pucat.

Tangannya yang menggenggam senjata bahkan terlihat gemetar.

“Siapa dia?”

Aku bertanya sekali lagi.

Xien akhirnya membuka mulut.

“Jangan mendekat.”

“Hah?”

“Jangan mendekati retakan itu.”

Nada suaranya berbeda dari biasanya.

Tidak ada ketenangan.

Tidak ada perintah tegas seorang prajurit.

Yang tersisa hanyalah kecemasan.

Aku menatap tangan yang masih muncul dari balik retakan.

Jari-jari ramping itu menggenggam sebuah tongkat putih keperakan.

Benda itu berkilau dengan cahaya lembut.

Aneh.

Aku tidak tahu mengapa, tetapi ketika melihat tongkat tersebut, dadaku terasa sesak.

Seolah-olah ada sesuatu di dalam diriku yang mengenalinya.

Kemudian—

Seseorang keluar dari balik retakan.

Sepasang sepatu menyentuh lantai.

Disusul kaki.

Tubuh.

Kemudian wajah.

Seorang gadis.

Rambutnya panjang dan berwarna putih keperakan.

Berbeda dengan Xien yang memiliki penampilan seperti prajurit dari masa depan, gadis ini mengenakan pakaian yang jauh lebih sederhana.

Jubah putih panjang.

Garis-garis hitam menghiasi bagian ujungnya.

Di dadanya terdapat lambang lingkaran dengan pola seperti matahari.

Usianya tampak tidak jauh dariku.

Mungkin sebaya.

Mata gadis itu berwarna keemasan.

Ia memandang sekeliling ruangan.

Kemudian tatapannya berhenti tepat padaku.

“...”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Gadis itu juga diam.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia tersenyum.

Senyum yang sangat tenang.

“Jadi kau Murokame Yuuto.”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Ya.”

“Penyihir terakhir.”

Aku langsung menggeleng.

“Bukan.”

Gadis itu berkedip.

“Bukan?”

“Aku tidak bisa menggunakan sihir.”

“...”

Ia terdiam.

Kemudian menatap Xien.

Xien juga diam.

Gadis itu kembali menatapku.

“Menarik.”

“Apanya?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Kalau bilang menarik sambil tersenyum begitu, biasanya ada sesuatu.”

“Memang ada.”

“Serius?”

“Ya.”

Aku mulai merasa tidak nyaman.

Sementara itu, Penjaga Sejarah yang sejak tadi berada di belakang kami tiba-tiba bergerak.

Ia mengangkat tangannya.

Gadis berambut putih itu bahkan tidak menoleh.

“Berhenti.”

Satu kata.

Hanya satu kata.

Namun...

DUARR!

Gelombang cahaya putih menghantam Penjaga Sejarah.

Makhluk itu terpental.

Tubuh hitamnya menabrak dinding.

Aku membeku.

Xien membeku.

Bahkan Penjaga Sejarah sepertinya membeku.

Aku menatap gadis tersebut.

“...”

Ia meniup debu yang menempel di ujung tongkatnya.

“Maaf.”

Kemudian ia tersenyum.

“Aku sedikit terlambat.”

Aku menunjuk Penjaga Sejarah.

“Sedikit?”

Makhluk itu bangkit.

Tidak terluka.

Namun untuk pertama kalinya sejak kemunculannya...

ia mundur.

"Identitas tidak dikenal."

Gadis itu mengangkat tongkatnya.

“Benarkah?”

"Entitas tidak terdaftar dalam sejarah."

“Kalau begitu...”

Gadis itu tersenyum.

“Berarti sejarah kalian belum selesai.”

Cahaya muncul di ujung tongkat.

Penjaga Sejarah mengangkat tangan.

"Ancaman baru terdeteksi."

“Ancaman?”

Gadis itu terkekeh kecil.

“Tidak.”

Ia melirik ke arahku.

“Aku datang bukan untuk menghancurkan kalian.”

Tatapannya kembali kepada Penjaga Sejarah.

“Aku datang untuk mengambil sesuatu.”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Jangan bilang aku.”

“Benar.”

“Kenapa aku?”

“Karena kau adalah kunci.”

Aku menghela napas.

Tentu saja.

Selalu aku.

Sejak pagi hidupku sudah berubah menjadi cerita yang terlalu rumit.


Pertarungan berlangsung hanya beberapa detik.

Namun bagiku, beberapa detik itu terasa seperti satu jam.

Gadis itu bergerak dengan sangat cepat.

Tidak seperti Xien.

Xien bertarung menggunakan teknologi.

Gadis ini...

menggunakan sihir.

Benar-benar sihir.

Lingkaran cahaya muncul di udara.

Sebuah tombak api terbentuk.

Kemudian berubah menjadi puluhan pecahan cahaya.

Semuanya menghantam Penjaga Sejarah.

BOOM!

BOOM!

BOOM!

Makhluk itu mencoba melawan.

Namun gadis tersebut selalu selangkah lebih cepat.

Aku hanya bisa berdiri dan menonton.

“Dia penyihir...”

Bisikku.

Xien berdiri di sampingku.

“Ya.”

“Penyihir sungguhan?”

“Ya.”

“Yang bisa menggunakan sihir?”

“Yuuto.”

“Apa?”

“Jangan membuatku kesal.”

“Baik.”

Lihat selengkapnya