Pintu bunker telah hancur.
Debu beterbangan memenuhi ruangan.
Di balik kepulan asap, empat belas orang berdiri dalam keheningan.
Semuanya mengenakan pakaian hitam.
Tidak ada lambang kerajaan.
Tidak ada tanda militer.
Tidak ada identitas apa pun.
Hanya satu kesamaan.
Mereka semua menatapku.
Seolah-olah aku bukan manusia.
Seolah-olah aku adalah sesuatu yang sedang mereka buru.
Aku mundur satu langkah.
“Empat belas orang...”
Xien berdiri di sampingku.
Senjatanya sudah terangkat.
Asteria berada di sisi lainnya, tongkat putih keperakannya memancarkan cahaya samar.
Aku berada tepat di tengah.
Posisi yang sangat bagus.
Kalau ini adalah permainan strategi, mungkin aku adalah bidak yang sedang diperebutkan.
Sayangnya...
Aku tidak pernah pandai bermain strategi.
“Yuuto.”
Pria yang berdiri paling depan memanggilku.
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Ya?”
“Jangan melawan.”
“Kenapa?”
“Kami tidak datang untuk membunuhmu.”
Aku menatap pedang di tangannya.
Kemudian menatap sebelas pedang lain di belakangnya.
“Cara kalian menunjukkan niat baik agak menyeramkan.”
Tidak ada yang tertawa.
Yah.
Gagal.
Pria itu melangkah maju.
“Namaku Raizen.”
“Raizen?”
“Komandan Divisi Ketujuh.”
“Divisi?”
Aku melirik Xien.
Ekspresinya berubah.
“Kau mengenal mereka?”
“Ya.”
“Teman?”
“Bukan.”
“Musuh?”
“Bukan juga.”
“Lalu?”
Xien menggertakkan gigi.
“Mereka adalah orang-orang yang seharusnya tidak pernah sampai ke zaman ini.”
Aku mengerutkan kening.
“Lagi-lagi masalah waktu?”
Asteria menjawab dari belakangku.
“Segalanya tentangmu sekarang berkaitan dengan waktu.”
Aku mulai merasa bosan mendengar kata itu.
Waktu.
Masa depan.
Masa lalu.
Sejarah.
Anomali.
Penyihir terakhir.
Aku bahkan belum makan malam.
Kenapa hidupku berubah menjadi teka-teki sebesar ini?
Raizen mengangkat pedangnya.
“Serahkan Murokame Yuuto.”
Xien maju.
“Tidak.”
“Xien Tao.”
Aku melihat kepala Xien sedikit terangkat.
“Jangan panggil namaku.”
“Identitasmu sudah diketahui.”
“Lalu kau seharusnya tahu bahwa aku tidak akan menyerahkannya.”
Raizen menghela napas.
“Sayang sekali.”
Ia mengangkat tangan.
“Ambil dia.”
Empat belas orang bergerak sekaligus.
“Yuuto, mundur!”
Xien maju menyambut mereka.
CLANG!
Pedang pertama beradu dengan senjata Xien.
Percikan cahaya biru muncul.
Asteria mengangkat tongkatnya.
“Lumen—”
Sebuah lingkaran sihir muncul.
Namun sebelum ia menyelesaikan mantranya—
“Jangan!”
Aku berteriak.
Asteria berhenti.
“Apa?”
Aku tidak tahu.
Aku hanya merasa sesuatu.
Sebuah firasat.
Beberapa detik kemudian, sebuah anak panah hitam melesat dari sisi ruangan.
SWISH!
Asteria memiringkan tubuh.
Anak panah itu melintas tepat di samping wajahnya.
“Penembak?”
Aku menoleh.
Salah satu anggota kelompok itu berdiri jauh di belakang.
Tangannya memegang busur.
Tidak.
Bukan busur.
Senjata seperti busur yang terbuat dari cahaya hitam.
“Hebat.”
Aku mulai panik.
“Mereka punya banyak senjata.”
“Yuuto!”
Aku menoleh.
Seorang pria telah berada tepat di depanku.
Pedangnya terangkat.
Aku tidak sempat menghindar.
“MATI—!”
Aku menutup mata.
Refleks.
Dan mengangkat tangan.
“Berhenti!”
...
Tidak terjadi apa-apa.
“...”
Aku membuka mata.
Pedang itu masih bergerak.
“Wah.”
Aku terlambat.
Sangat terlambat.
Namun tepat sebelum pedang tersebut mencapai tubuhku—
CLANG!
Asteria menahannya dengan tongkat.
“Jangan coba-coba melindungi dirimu sendiri dengan kemampuan yang bahkan tidak kau pahami.”
“Aku tidak punya pilihan!”
“Kau punya.”
“Apa?”
“Percaya padaku.”
Asteria mendorong lawannya.
Pria itu terlempar.
Aku menatapnya.
“Siapa sebenarnya kau?”
Asteria tidak menjawab.
Sebaliknya, ia berteriak,
“Xien!”
“Apa?!”
“Bawa Yuuto pergi!”
Xien menendang salah satu penyerang.
“Ke mana?”
“Tempat yang lebih aman!”