Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi.
Bahkan suara mesin yang sejak tadi berdengung di balik dinding seakan menghilang setelah rekaman tersebut selesai diputar.
Aku masih berdiri di tempat.
Tidak bergerak.
Tidak mengatakan apa-apa.
Hanya menatap layar hologram yang sekarang sudah berubah menjadi hitam.
Beberapa detik yang lalu, aku baru saja melihat diriku sendiri.
Bukan diriku yang sekarang.
Melainkan diriku dari masa depan.
Dan orang itu mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ingin kudengar.
Jangan percaya Xien Tao.
Jangan percaya Asteria.
Dan yang paling penting...
Jangan pernah membangunkan The Last Wizard.
Aku menarik napas panjang.
Kemudian mengembuskannya perlahan.
“...Serius?”
Itu saja yang keluar dari mulutku.
Sebuah pertanyaan bodoh.
Karena jelas tidak ada yang akan menjawabnya.
Aku melirik Xien.
Gadis itu masih berdiri beberapa meter di depanku.
Wajahnya terlihat lebih pucat daripada sebelumnya.
Sementara Asteria berdiri di sampingnya sambil menggenggam tongkat perak yang beberapa saat lalu bereaksi kepadaku.
Keduanya diam.
Tidak ada yang menyangkal.
Tidak ada yang mengatakan bahwa rekaman tersebut palsu.
Tidak ada pula yang tertawa dan berkata bahwa itu hanyalah lelucon.
Dan justru karena itulah perasaanku menjadi semakin buruk.
“Jadi...”
Aku menyandarkan tubuh ke dinding.
“Diriku sendiri dari masa depan menyuruhku untuk tidak mempercayai kalian.”
Xien menatapku.
“Yuuto—”
“Jangan.”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan jelaskan dulu.”
Aku tersenyum kecil.
Entah kenapa aku merasa ingin tertawa.
Mungkin karena kalau tidak tertawa, aku akan melakukan hal lain yang jauh lebih buruk.
“Kalau dipikir-pikir, hidupku akhir-akhir ini benar-benar aneh.”
Aku menghitung dengan jari.
“Pertama, aku mengetahui bahwa dunia akan hancur tiga tahun lagi.”
Jari kedua terangkat.
“Kemudian aku mengetahui bahwa aku adalah The Last Wizard.”
Jari ketiga.
“Padahal aku bahkan tidak bisa menggunakan sihir.”
Jari keempat.
“Lalu muncul monster yang entah kenapa ingin membunuhku.”
Jari kelima.
“Setelah itu muncul seorang penyihir dari masa lalu yang mengatakan tongkatnya adalah milikku.”
Aku berhenti sebentar.
“Dan sekarang diriku sendiri dari masa depan mengatakan agar aku tidak mempercayai dua orang yang ada di depanku.”
Aku menatap mereka.
“...Aku mulai merasa hidup sebagai siswa SMA biasa sebenarnya tidak terlalu buruk.”
Asteria menghela napas.
“Dalam situasi seperti ini kau masih bisa bercanda?”
“Kalau aku serius terus, kepalaku bisa meledak.”
“Setidaknya kau masih punya kesadaran diri.”
“Terima kasih. Aku menganggap itu pujian.”
Asteria memijat pelipisnya.
Untuk sesaat, suasana terasa sedikit lebih ringan.
Namun hanya sesaat.
Karena aku kembali melihat layar hitam tersebut.
Senyumku hilang.
“Apa yang dia maksud?”
Xien diam.
Aku menatapnya.
“Kenapa aku tidak boleh membangunkan The Last Wizard?”
Tidak ada jawaban.
Aku menghela napas.
“Begitu rupanya.”
Aku sudah menduga.
Tetapi tetap saja rasanya menyebalkan.
“Baiklah.”
Aku mendorong tubuhku dari dinding.
“Kalau kalian tidak mau memberitahuku, aku akan mencari tahu sendiri.”
“Yuuto.”
“Apa?”
“Jangan lakukan sesuatu yang gegabah.”
Aku menoleh.
“Gegabah?”
Aku tertawa kecil.
“Xien, aku baru mengetahui bahwa masa depanku sudah menentukan kematianku bahkan sebelum aku mengerti kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir.”
Aku menunjuk kepalaku sendiri.
“Menurutmu masih ada bagian hidupku yang bisa disebut normal?”
Xien terdiam.
Aku berjalan melewatinya.
“Kalau begitu, jangan minta aku bersikap normal.”
Aku tidak tahu berapa lama aku berjalan.
Bunker tempat Xien membawaku ternyata jauh lebih besar daripada yang kukira.
Lorong-lorongnya bercabang ke berbagai arah.
Ada ruangan yang dipenuhi komputer.
Ada ruang latihan.
Ada ruangan yang sepertinya digunakan untuk menyimpan senjata.
Dan entah kenapa, ada juga mesin penjual minuman.
Aku berhenti di depannya.
“...Bahkan tempat perlindungan dari kiamat punya vending machine.”
Aku memasukkan tangan ke saku.
Kosong.
Tentu saja.
Aku menatap mesin itu beberapa detik.
Kemudian pergi.
Harga diriku lebih mahal daripada minuman kaleng.
Walaupun sebenarnya aku cukup haus.
Aku akhirnya menemukan sebuah ruangan kosong.
Di sana hanya ada kursi dan sebuah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan dari luar bunker.
Atau lebih tepatnya...
Simulasi pemandangan.
Tokyo.
Tokyo masa depan.
Gedung-gedung tinggi berdiri di kejauhan.
Kendaraan bergerak tanpa suara di antara bangunan.
Cahaya neon memenuhi jalan.
Untuk seseorang yang belum pernah melihat masa depan secara langsung, tempat itu sebenarnya sangat indah.
Namun aku tahu satu hal.
Semua itu akan hilang.
Aku duduk di kursi.
Kemudian menatap kedua tanganku.
“Kenapa aku?”
Pertanyaan yang sama lagi.
Sejak Xien muncul dalam hidupku, aku sudah berkali-kali menanyakan hal itu.
Kenapa aku?
Kenapa orang yang bahkan tidak bisa melakukan apa pun?
Aku bukan orang pintar.
Bukan atlet.
Bukan orang yang memiliki bakat luar biasa.
Bahkan ketika ada pertarungan, aku lebih sering menjadi orang yang harus diselamatkan.
Lalu kenapa dunia memilihku?
Atau...
Apakah dunia memang memilihku?
Aku teringat perkataan Penjaga Sejarah.
“Kekuatanmu bukan milikmu.”
Aku menelan ludah.
Kemudian teringat perkataan Asteria.
“Kau adalah kunci.”
Dan sekarang...
Diriku sendiri dari masa depan mengatakan hal yang berbeda.
Jangan pernah membangunkan The Last Wizard.
“Kalau begitu...”
Aku memejamkan mata.
“Siapa sebenarnya The Last Wizard?”
Bukan apa.
Siapa.
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Sampai tiba-tiba—
“Aku juga pernah menanyakan pertanyaan itu.”
Aku membuka mata.
Asteria berdiri di dekat pintu.
Aku menghela napas.
“Kenapa semua orang di tempat ini suka muncul tanpa suara?”
“Karena kau terlalu sibuk melamun.”
“Bisa ketuk pintu.”
“Pintunya sudah terbuka.”
“...Benar juga.”
Asteria berjalan mendekat.
Dia duduk di kursi yang berjarak beberapa meter dariku.
Kami tidak langsung berbicara.
Beberapa saat hanya diisi suara mesin dari balik dinding.
“Yuuto.”
“Hm?”
“Kau marah.”
Aku menatapnya.
“Menurutmu?”
“Ya.”
“Bagus. Berarti wajahku masih berfungsi.”
Asteria tidak tertawa.
Sebaliknya, dia menatapku dengan serius.
“Kalau kau ingin marah, marahlah.”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Karena terkadang kemarahan lebih jujur daripada rasa takut.”
Aku diam.
“Ketika seseorang takut, mereka sering berbohong.”
Asteria menatap tangannya.
“Tapi ketika seseorang marah...”