The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #9

CHAPTER 9: DIRIKU YANG TAK KUKENALI

Gelap total.

Aku tidak bisa melihat tanganku sendiri.

Namun aku bisa merasakannya.

Sesuatu bergerak di bawah kulitku.

Bukan darah.

Bukan detak jantung.

Sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lebih tua dari keduanya.

"...Halo?"

Suaraku sendiri terdengar asing di telingaku.

Tidak ada jawaban.

Hanya gema.

Kemudian—

2%

Angka itu muncul di udara.

Bukan di layar.

Bukan di dinding.

Melayang tepat di depan mataku, seperti tertulis langsung di retina.

"Apa ini..."

3%

"Berhenti naik!"

4%

"AKU BILANG BERHENTI!"

Angka itu tidak peduli.

Aku memegangi kepalaku.

Rasanya seperti ada dua orang berebut satu ruangan yang sama.

Dan ruangan itu adalah tengkorakku sendiri.

Pintu kamar meledak.

Bukan terbuka.

Meledak.

"YUUTO!"

Xien masuk lebih dulu, senjata terangkat, matanya menyapu ruangan gelap dalam sepersekian detik.

Asteria menyusul di belakangnya, tongkat sudah menyala terang, cukup untuk menerangi seluruh kamar sempit itu.

Dan yang mereka lihat membuat keduanya membeku di ambang pintu.

Aku berdiri di tengah ruangan.

Mengambang.

Kakiku tidak menyentuh lantai.

Simbol hitam berbentuk mata terus melebar dari telapak tanganku, merambat ke pergelangan, ke lengan, seperti tinta yang tumpah dan menolak berhenti.

"Tidak mungkin," bisik Asteria.

Xien tidak bicara sama sekali.

Wajahnya lebih putih dari yang pernah kulihat.

"Xien," kataku, suaraku bergetar. "Aku tidak—aku tidak melakukan apa-apa. Aku cuma—"

"Aku tahu."

Suaranya nyaris tak terdengar.

"Ini bukan salahmu."

"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?!"

Xien menelan ludah.

"Karena aku pernah melihat wajah ini sebelumnya."

Aku diam.

"Kapan?"

Dia tidak menjawab.

Tapi aku sudah tahu jawabannya sebelum dia mengucapkannya.

Salah satu dari sekian banyak kematianku yang tidak pernah dia hitung.

5%

"Asteria," kata Xien cepat, "bisa disegel?"

"Belum tahu."

"Apa maksudmu belum tahu?!"

"Maksudku, aku belum pernah melihat authority sebesar ini pada tubuh manusia hidup."

Asteria mengangkat tongkatnya, mengarahkannya padaku, matanya membaca sesuatu yang tak bisa kulihat.

"Kalau aku memaksa menyegelnya sekarang," lanjutnya, "ada dua kemungkinan."

"Katakan yang bagus dulu," kataku.

"Berhasil."

"Terus?"

"Gagal, dan tubuhmu robek dari dalam."

"KENAPA TIDAK BILANG YANG BAGUS SAJA?!"

"Karena kau memintanya."

Aku ingin marah.

Aku benar-benar ingin marah.

Tapi 7% muncul di udara, dan rasa marah itu langsung tenggelam oleh sesuatu yang jauh lebih dingin.

Ketakutan.

Suara itu kembali.

Lihat selengkapnya