Pagi itu bunker terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tidak ada alarm.
Tidak ada ledakan.
Hanya suara AC tua yang mendesis pelan di balik dinding, dan bau kopi instan yang entah bagaimana masih tersedia di tengah kiamat yang menunggu tiga tahun lagi.
Aku duduk di ruang makan kecil bunker, menatap secangkir kopi yang bahkan tidak kusentuh sejak dituang.
Lenganku masih terasa kaku.
Bekas tato hitam tipis itu masih ada, samar, seperti garis pensil yang setengah dihapus.
"Kau tidak tidur," kata Xien, duduk di seberangku sambil membawa cangkirnya sendiri.
"Kau juga."
"Aku punya alasan bagus."
"Aku juga."
Kami berdua diam sejenak, saling menatap seperti dua orang yang sama-sama tahu semalam nyaris jadi malam terakhir, tapi tidak ada yang mau membahasnya lebih dulu.
Asteria masuk beberapa menit kemudian, membawa map tebal berwarna cokelat tua, jenis yang terasa aneh di tengah teknologi hologram dan layar transparan yang memenuhi bunker.
"Aku menemukan sesuatu," katanya, meletakkan map itu di meja.
"Kertas asli?" Aku mengangkat alis. "Di masa depan masih ada kertas?"
"Ini bukan dari masa depan."
Asteria membuka map itu.
"Ini dari masa lalumu."
Aku menatap isinya.
Foto lama, sedikit menguning.
Seorang pria berdiri di depan rumah kecil berhalaman rumput panjang—rumah yang sama persis dengan yang muncul dalam kenanganku semalam.
Wajahnya jelas.
Bukan siluet.
Mata tajam, rahang tegas, senyum tipis yang entah kenapa terasa familiar meski aku yakin belum pernah melihatnya secara sadar.
"Itu..." Aku menelan ludah. "Ayahku?"
"Namanya Murokame Shin."
Asteria menunjuk tulisan di bagian bawah foto.
"Tercatat sebagai peneliti sihir di sebuah fasilitas pemerintah. Menghilang delapan tahun lalu."
"Menghilang?"
"Tidak ada laporan kematian. Tidak ada jenazah. Tidak ada saksi."
Xien meletakkan cangkirnya pelan, matanya menatap foto itu dengan ekspresi yang sulit kubaca.
"Delapan tahun lalu," ulangku. "Berarti waktu aku berumur tujuh tahun."
"Kau ingat kejadiannya?"
Aku mencoba mengingat.
Yang muncul hanya potongan-potongan.
Rumah kosong.
Ibu yang berhenti bicara tentang ayah setelah beberapa bulan.
Sebuah kotak kayu di gudang yang tidak pernah boleh kubuka.
"Tidak banyak," jawabku akhirnya. "Semuanya kabur."
Asteria membalik halaman berikutnya.
Sebuah dokumen dengan banyak coretan hitam, kata-kata yang sengaja dihapus oleh sensor pemerintah, hanya menyisakan beberapa baris utuh.
"...PROYEK: SEGEL GENERASI..."
"...SUBJEK: M. YUUTO (7 TAHUN)..."
"...METODE: PENGUNCIAN AUTHORITY PERMANEN..."
"...RISIKO: KEMATIAN SUBJEK APABILA SEGEL DIPAKSA DIBUKA..."