Reika baru pergi lima menit ketika seluruh sistem bunker menyala merah.
WARNING.
MULTIPLE HOSTILE SIGNATURES DETECTED.
LOCATION: SURFACE — 2 KM RADIUS.
"Dia meninggalkan jejak," gumam Asteria, menatap layar dengan rahang mengeras. "Sengaja."
"Untuk apa?" tanyaku.
"Supaya kita terpaksa keluar," jawab Xien, sudah berlari menuju rak senjata. "Kalau kita diam di sini, bunker ini akan dikepung sampai dindingnya sendiri menyerah."
"Jadi rencananya?"
"Kita pergi sebelum mereka datang, bukan sesudahnya."
Aku menatap map cokelat yang masih tergeletak di meja, foto ayahku menatap balik seolah menertawakan betapa cepat hidupku berubah dari "duduk minum kopi" menjadi "lari dari kepungan" dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
"Kenapa selalu aku," gumamku, menyambar jaket yang disodorkan Xien.
"Karena kau bintang utamanya," kata Asteria, melewatiku menuju pintu.
"Aku tidak pernah melamar peran ini."
"Sayangnya dunia tidak peduli soal itu."
Jalanan Tokyo di luar bunker terasa berbeda dari yang kuingat—bukan Tokyo masa depan hologram yang kulihat dari jendela palsu, tapi Tokyo asli, malam yang sama tempat semuanya dimulai, dengan bekas ledakan masih menganga di beberapa sudut jalan seperti luka yang belum sempat menutup.
Kami baru berlari tiga blok ketika suara pertama muncul.
Bukan tembakan.
Bukan ledakan.
Derap kaki, banyak sekali, berasal dari segala arah sekaligus.
"Mereka mengepung dari empat penjuru," kata Xien, matanya bergerak cepat menyusuri setiap gang dan atap gedung. "Ini bukan pasukan asal-asalan."
"Berapa banyak?"
Asteria memutar tongkatnya, cahaya biru pucat mulai menyala di ujungnya. "Terlalu banyak untuk dihitung sambil lari."
Sosok pertama muncul dari balik truk yang terbalik di persimpangan—bukan manusia berpakaian hitam seperti Raizen dan pasukannya, bukan pula makhluk asap seperti kawanan Penjaga Sejarah.
Makhluk ini terbuat dari logam, bergerak dengan sendi-sendi mekanis yang berdenting tajam setiap kali melangkah, matanya satu lensa merah tunggal yang berputar mencari target.
"Unit organisasi Reika," desis Xien. "Mereka sudah siap sebelum dia bahkan bicara denganmu."
"Jadi kunjungan tadi cuma formalitas?"
"Kunjungan tadi cuma pengalih perhatian."
Makhluk logam itu mengangkat lengan kanannya, dan dari dalamnya meluncur sebuah rentetan proyektil kecil bercahaya biru.
"BAWAH!" teriak Xien.
Kami menjatuhkan diri bersamaan, proyektil-proyektil itu melesat di atas kepala, menghantam dinding toko di belakang kami dengan ledakan kecil yang cukup untuk meruntuhkan separuh etalase.
Aku merangkak di balik mobil yang terparkir, jantung berdebar keras, mendengar suara logam beradu semakin dekat dari segala arah.
"Xien," panggilku, "berapa lama kita bisa bertahan seperti ini?"
"Tergantung."
"Pada apa?"
"Pada seberapa cepat kau berhenti bertanya dan mulai berpikir cara kabur."
Asteria melompat keluar dari perlindungannya, tongkatnya berputar membentuk lingkaran cahaya besar di udara.
"Barrier Pecah—Ledakan Cahaya!"
Gelombang putih menghantam tiga unit logam sekaligus, membuat mereka terlempar mundur, percikan listrik keluar dari sendi-sendi yang rusak.
Namun di belakang mereka, lebih banyak lagi muncul dari balik gedung-gedung, seperti semut yang keluar dari sarang yang baru saja disenggol.