The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #12

CHAPTER 12: ASTERIA YANG LEBIH TUA

Cahaya merah itu tidak pernah sampai.

Bukan karena aku menghentikannya.

Bukan karena Xien menangkisnya.

Melainkan karena sesosok bayangan menjatuhkan diri dari atap gedung di sisi kanan, mendarat tepat di antara kami dan unit komando, tongkat putih keperakan terangkat membentuk perisai cahaya yang menyerap kedua serangan sekaligus.

DUAAAM!

Ledakan ganda menghantam perisai itu, memecahnya menjadi serpihan cahaya yang berhamburan seperti kembang api yang salah arah, namun perisai itu bertahan cukup lama untuk menyelamatkan kami berdua.

"Asteria?!" Aku menatap sosok yang baru saja mendarat.

Bukan Asteria.

Asteria masih berlutut beberapa meter di belakang, wajahnya bingung sama sepertiku.

Sosok di depan kami menurunkan tongkatnya perlahan—tongkat yang sama persis dengan milik Asteria, hanya saja ukirannya sedikit berbeda, lebih tua, lebih usang oleh waktu.

Ia menoleh ke belakang, dan wajah itu membuat Asteria langsung berdiri meski kakinya masih gemetar.

"Tidak mungkin," bisik Asteria.

Wajah di depan kami adalah wajahnya sendiri.

Hanya saja lebih tua.

Jauh lebih tua.

Rambut putihnya sudah memanjang hingga ke pinggang, beberapa helai memutih total, dan di sudut matanya terukir garis-garis waktu yang tidak dimiliki Asteria yang kukenal.

"Lama tidak bertemu," kata sosok itu, suaranya lebih serak namun tetap membawa nada tenang yang sama. "Dengan diriku sendiri."

Unit komando mengoreksi posisi, lensa merahnya berputar cepat memindai ancaman baru.

"ENTITAS TIDAK TERDAFTAR. ANOMALI TEMPORAL GANDA TERDETEKSI."

"Aku tidak punya waktu untuk penjelasan panjang," kata Asteria versi tua itu, menoleh sekilas ke arahku. "Jadi aku akan langsung ke intinya."

Ia mengangkat tongkatnya lagi, kali ini mengarahkannya ke unit komando yang mulai bergerak maju.

"Kalian bertiga akan pergi ke stasiun kereta lama seperti rencana Xien. Aku akan menahan mesin besi ini selama yang aku bisa."

"Kau tidak bisa sendirian melawan itu," kataku.

"Aku bisa," jawabnya, senyum tipis muncul di wajah keriputnya. "Karena aku sudah melakukannya sekali, di masa depan yang jauh lebih buruk dari ini."

Ia melirik Asteria yang lebih muda, tatapannya melembut sesaat.

"Jangan buat kesalahan yang sama seperti aku."

"Kesalahan apa?" tanya Asteria, suaranya bergetar.

Sosok tua itu tidak menjawab.

Ia sudah melesat maju, tongkatnya berputar cepat membentuk rangkaian mantra yang bahkan tidak sempat kupahami sebelum ledakan pertama meledak di antara dirinya dan unit komando.

"PERGI!" teriaknya, tanpa menoleh.

Xien menarik lenganku, memaksaku bergerak meski mataku masih terpaku pada pertarungan yang mulai terjadi di belakang kami.

"Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja!" protesku.

"Dia tahu risikonya," jawab Xien, terus berlari, "dan dia sudah memilih ini sebelum kita sempat membantah."

Asteria berlari di sampingku, air mata mulai menggenang di sudut matanya meski ia berusaha keras menahannya.

"Dia adalah aku," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada kami. "Suatu hari nanti, aku akan menjadi dia."

"Kau tidak tahu itu pasti," kataku, mencoba menghibur meski suaraku sendiri terdengar tidak yakin.

"Aku tahu," jawab Asteria. "Karena dia memanggil dirinya sendiri dengan namaku, di masa yang sama sekali berbeda."

Kami terus berlari menyusuri gang sempit, suara ledakan di belakang kami semakin menjauh namun tidak pernah benar-benar hilang, seperti detak jantung raksasa yang menolak berhenti berdetak.

Lihat selengkapnya