The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #13

CHAPTER 13: CATATAN DARI MASA DEPAN

Terowongan itu berakhir di sebuah ruang bawah tanah yang lebih tua dari stasiun itu sendiri—dinding batu, bukan beton, dengan pipa-pipa besi berkarat yang menjalar seperti akar pohon raksasa yang mati berabad-abad lalu. Cahaya darurat di sana sudah lama padam. Yang menerangi kami hanyalah tongkat Asteria, menyala lemah, seperti lilin yang enggan menyerah meski sumbunya sudah hampir habis.

Tidak ada yang bicara sejak kami keluar dari lorong.

Bukan karena tidak ada yang perlu dikatakan.

Justru karena terlalu banyak, dan tidak satu pun dari kami cukup berani menjadi orang pertama yang memecah keheningan itu.

Aku duduk bersandar pada dinding batu, memeluk lutut, menatap Asteria yang berdiri membelakangi kami, wajahnya menghadap kegelapan lorong yang baru saja kami tinggalkan seolah masih menunggu seseorang muncul dari sana.

Tidak ada yang muncul.

"Dia bukan mati," kataku akhirnya, karena seseorang harus mengatakan sesuatu, dan aku sudah lelah dengan diamnya kesunyian itu.

Asteria tidak menoleh.

"Kau tidak tahu itu."

"Aku juga tidak tahu sebaliknya."

"Itu bukan penghiburan, Yuuto." Suaranya datar, terlalu datar, seperti seseorang yang sengaja mengunci setiap emosi di balik nada yang rata agar tidak ada satu pun yang bocor keluar. "Itu ketidaktahuan yang kau bungkus supaya terdengar seperti harapan."

Aku tidak membantahnya.

Karena dia benar.

Xien duduk di sampingku, kedua tangannya terlipat di atas lutut, matanya menatap Asteria dengan sesuatu yang terlihat seperti pengenalan—bukan pada situasi ini, tapi pada perasaan ini sendiri. Aku ingat apa yang dia katakan di bunker. Berapa kali dia hidup dengan ingatan tentang caraku mati, tanpa sempat kembali memperbaikinya.

Mungkin dia sedang melihat dirinya sendiri di punggung Asteria yang kaku itu.

"Dia memilih itu," kata Xien akhirnya, pelan. "Bukan karena terpaksa."

"Itu tidak membuatnya lebih mudah," jawab Asteria.

"Aku tahu." Xien menunduk. "Aku tahu betul."

Kami menemukan ranselnya beberapa menit kemudian—bukan ransel Asteria yang sekarang, tapi milik versi tuanya, tertinggal di sudut ruangan tempat kami beristirahat, seolah sengaja diletakkan di sana sebelum ia menyusul kami lebih dulu lewat jalan yang tak pernah kami lihat.

Asteria membukanya dengan tangan gemetar.

Di dalamnya, tidak ada senjata. Tidak ada mantra darurat. Hanya sebuah buku catatan kulit yang sudah lapuk di ujung-ujungnya, dan sebuah liontin kecil berbentuk bintang, terbuat dari logam yang tidak kukenali, berkilau lembut meski tidak ada cahaya yang seharusnya memantul di ruangan segelap itu.

Asteria membuka halaman pertama buku itu.

Tulisan tangan, rapi namun sedikit gemetar di beberapa bagian, seperti ditulis di tengah malam-malam yang tidak tenang.

Kalau kau membaca ini, tulisan itu dimulai, berarti aku sudah melakukan hal yang aku tahu harus kulakukan sejak pertama kali melihat wajah Yuuto di reruntuhan bunker itu.

Asteria berhenti sejenak, menahan napas, lalu melanjutkan membaca dengan suara yang mulai bergetar.

Aku tidak menyesalinya. Aku hanya menyesal tidak sempat memberitahumu—memberitahu diriku sendiri—bahwa keputusan ini bukan pengorbanan. Ini pembayaran. Untuk sesuatu yang aku ambil bertahun-tahun lalu, di masa yang belum pernah kau alami.

Lihat selengkapnya