Asteria tua duduk bersandar pada dinding batu, membiarkan versi mudanya menangis di bahunya tanpa berusaha menghentikannya sedikit pun. Ia hanya mengelus rambut perak itu perlahan, seperti seseorang yang sudah lama belajar bahwa beberapa luka butuh dibiarkan berdarah dulu sebelum bisa mulai sembuh.
"Bagaimana kau bisa selamat?" tanyaku akhirnya, ketika isak tangis mulai mereda.
"Aku tidak melawan unit komando itu sampai menang," jawabnya, suaranya masih serak. "Aku hanya bertahan cukup lama sampai dia kehabisan energi untuk regenerasi. Setelah itu, aku kabur lewat jalur yang bahkan aku sendiri lupa masih ada."
"Kau menipu kami," gumam Asteria muda, melepaskan pelukannya, matanya masih merah. "Surat itu terdengar seperti pesan terakhir."
"Karena memang seharusnya begitu." Asteria tua tersenyum tipis, pahit. "Aku menulisnya dengan asumsi aku tidak akan selamat. Untung saja aku salah kali ini."
Xien berdiri, menyilangkan tangan, menatap sosok tua itu dengan campuran lega dan curiga yang sulit disembunyikan. "Berapa banyak lagi kejutan yang kau simpan?"
"Cukup banyak," jawab Asteria tua, tanpa berusaha membantah. "Tapi tidak semuanya untuk hari ini."
Kami beristirahat sejenak di ruang bawah tanah itu, membiarkan tubuh yang babak belur mendapat waktu untuk berhenti gemetar. Aku menggenggam liontin bintang di dadaku, memutar-mutarnya di antara jari, mencoba menyusun langkah berikutnya dari kepingan yang kami punya.
"Jurnal itu menyebut laboratorium," kataku akhirnya. "Tempat ayahku bekerja sebelum menghilang."
"Aku tahu lokasinya," kata Asteria tua, pelan.
Semua orang menoleh padanya.
"Kau tahu?" Aku hampir berdiri saking terkejutnya.
"Aku pernah diselamatkan di sana," jawabnya. "Delapan belas tahun yang lalu bagiku bukan sekadar catatan dalam jurnal. Itu ingatan yang masih bisa kuceritakan detail demi detail, kalau perlu."
"Kenapa tidak bilang dari awal?" tanya Xien, nada suaranya sedikit tajam.
"Karena aku baru sadar hubungannya beberapa jam lalu," jawab Asteria tua, tenang, tidak terpancing. "Sebelum itu, aku hanya penyihir tua yang tahu banyak reruntuhan tanpa tahu satu pun punya arti penting bagi kalian."
Ia bangkit, menepuk debu dari jubahnya yang robek di beberapa bagian, lalu menatapku dengan mata yang meski lelah, tetap tajam seperti pisau yang tak pernah benar-benar tumpul.
"Kalau kau siap," katanya, "aku bisa membawamu ke sana sekarang."
Aku menatap Xien, lalu Asteria muda, mencari sedikit keraguan di wajah mereka yang mungkin bisa membuatku berpikir dua kali.
Tidak ada.
Hanya anggukan pelan, tanda mereka sudah siap mengikuti langkah apa pun yang aku pilih.
"Kalau begitu," kataku, berdiri meski kakiku masih terasa berat, "ayo pergi."
Reruntuhan laboratorium itu tersembunyi di bawah sebuah gedung tua yang di permukaan hanya terlihat seperti gudang penyimpanan biasa, catnya mengelupas, jendelanya pecah sebagian, tidak ada yang akan menyangka apa yang tersembunyi di bawahnya kalau tidak diberitahu.