Kaset itu tergeletak di telapak tanganku, ringan, hampir tidak terasa beratnya, meski isinya mungkin akan menimbang lebih berat dari apapun yang pernah kuangkat seumur hidup.
"Ada pemutarnya?" tanyaku, suaraku serak.
Asteria tua menunjuk sebuah alat tua di sudut ruangan, setengah tertutup debu, kabelnya masih tersambung ke stopkontak yang entah bagaimana masih hidup meski laboratorium ini sudah ditinggalkan bertahun-tahun.
Aku memasukkan kaset itu perlahan, tanganku gemetar bukan karena takut, melainkan karena aku tidak yakin siap mendengar apa yang akan keluar darinya.
Klik.
Derik pelan terdengar, khas kaset tua yang mulai berputar, sebelum akhirnya suara itu muncul—suara yang sama persis dengan yang berbisik di dalam kepalaku semalam, hanya saja kali ini lebih muda, lebih ringan, seolah belum dibebani oleh apapun yang kemudian membuatnya menghilang.
"Kalau kau mendengar ini, Yuuto, berarti aku sudah gagal menyembunyikanmu selamanya."
Suara itu berhenti sejenak, seperti orang yang menarik napas sebelum mengatakan sesuatu yang sulit.
"Aku akan mulai dari awal, karena kau berhak tahu semuanya, bukan potongan-potongan yang kuberikan lewat surat atau segel yang setengah bocor."
"Namaku Murokame Shin. Tapi sebelum aku menjadi ayahmu, sebelum aku menjadi peneliti, sebelum aku menjadi siapa pun yang kau kenal—aku adalah sesuatu yang lain."
Aku menahan napas.
"Dua puluh tahun sebelum kau lahir, dunia hampir hancur sekali. Bukan oleh invasi dari retakan langit seperti yang mungkin sedang kau hadapi sekarang. Tapi oleh sesuatu yang jauh lebih dekat. Lebih manusiawi. Dan karena itu, jauh lebih sulit dimaafkan."
"Aku adalah penyihir terakhir generasi sebelum kau."
Ruangan itu terasa berputar sesaat. Aku mendengar Xien menahan napas di belakangku, Asteria muda mencengkeram lengan versi tuanya sendiri, dan Asteria tua sendiri hanya menatap alat pemutar itu dengan ekspresi seseorang yang sudah lama menduga, namun baru sekarang mendapat konfirmasinya.
"Legenda yang diceritakan Xien Tao kepadamu bukan legenda baru. Itu siklus. Setiap beberapa generasi, seorang anak lahir dengan authority sebesar ini—kemampuan memerintah hukum dunia, bukan sekadar memanipulasi energi seperti penyihir biasa. Dan setiap kali itu terjadi, dunia menghadapi pilihan yang sama: menggunakan anak itu sebagai senjata, atau membiarkannya menjadi manusia."
"Generasiku memilih yang pertama."
Suara Shin melambat, seperti mengingat sesuatu yang masih menyakitkan meski sudah bertahun-tahun berlalu.
"Mereka melatihku sejak umur lima tahun. Bukan seperti Xien melatihmu—dengan kehangatan, dengan pilihan. Mereka melatihku seperti melatih senjata. Dan aku, karena tidak tahu ada cara lain untuk hidup, menjadi apa yang mereka inginkan."
"Aku menghentikan sebuah perang saat usiaku tujuh belas tahun. Perang yang tidak akan kuceritakan detailnya di sini, karena detailnya tidak penting bagimu sekarang. Yang penting adalah caranya aku menghentikannya."
Jeda panjang.
"Aku membuka penuh authority-ku."
Aku menggenggam liontin bintang di dadaku erat-erat, seolah benda kecil itu bisa menjadi jangkar yang menahanku tetap di tempat sementara dunia di sekitarku terasa semakin longgar dari porosnya.
"Ketika authority terbuka penuh, Yuuto, kau tidak hilang dalam artian mati. Kau hilang dalam artian menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar 'diri sendiri'. Batasan antara kau dan hukum dunia yang kau perintah mulai kabur. Aku menghentikan perang itu dalam waktu kurang dari satu menit."
"Butuh tiga tahun bagiku untuk kembali mengingat namaku sendiri."