Reika turun dari tangga besi sendirian, tanpa unit logam, tanpa pengawal, tangannya bahkan tidak menggenggam senjata apapun—hanya map tipis berwarna hitam yang ia peluk di dadanya, seperti seseorang yang datang untuk rapat biasa, bukan untuk mengejar anak buronan yang bisa menghancurkan dunia.
Xien langsung berdiri di depanku, senjatanya terangkat penuh.
"Berhenti di sana," katanya, dingin.
Reika berhenti, tepat seperti yang diminta, tanpa perlawanan sedikit pun.
"Aku datang sendiri," katanya, suaranya tenang seperti biasa. "Kalau aku ingin menyerang, aku tidak akan repot-repot berjalan turun tangga ini seperti manusia biasa."
"Kepercayaan bukan sesuatu yang kau dapat gratis," balas Xien.
"Aku tidak memintanya gratis." Reika menatap kami satu per satu, lalu berhenti padaku, matanya melunak sedikit, entah tulus atau sekadar taktik. "Aku hanya meminta lima menit, Yuuto. Setelah itu, kalian boleh mengusirku, menyerangku, atau bahkan membunuhku kalau kalian mau."
"Kenapa kami harus percaya lima menit itu tidak akan berubah jadi jebakan?" tanyaku.
"Karena kalau aku ingin menjebakmu," jawabnya, "aku sudah melakukannya dari tadi, ketika kalian masih membaca surat ayahmu dengan penjagaan yang benar-benar longgar."
Aku menoleh ke Asteria tua, mencari validasi. Ia mengangguk pelan, tongkatnya masih menyala namun tidak lagi diarahkan langsung ke Reika.
"Lima menit," kataku akhirnya. "Tidak lebih."
Reika duduk di salah satu kursi tua laboratorium itu, membuka map hitamnya di atas meja, namun tidak langsung menunjukkan isinya. Ia menatap ruangan itu sejenak, matanya berhenti pada foto keluarga yang masih kupegang, lalu pada alat pemutar kaset yang sudah kembali sunyi.
"Kau sudah mendengarnya," katanya, bukan pertanyaan. "Suara Shin."
"Ya."
"Berarti aku tidak perlu mengulang bagian tentang generasi sebelumnya." Ia menghela napas, seperti itu meringankan sedikit beban dari apa yang akan ia katakan berikutnya. "Aku akan langsung ke bagian yang tidak diceritakannya."
"Bagian apa?" tanya Xien, masih waspada.
Reika menatapku lama sebelum menjawab.
"Bagian tentang aku."
"Aku bukan pemimpin organisasi ini sejak awal," katanya. "Dulu aku hanya peneliti junior, dua puluh tahun lalu, saat perang yang menghentikan Shin masih berlangsung."
Ia membuka map hitamnya, mengeluarkan selembar foto lama—sekelompok anak muda berseragam laboratorium, tersenyum canggung di depan kamera, salah satunya jelas Reika yang jauh lebih muda, dan satu lagi, aku mengenalinya seketika, adalah ayahku sendiri, tersenyum tipis di ujung barisan.
"Kami seangkatan," lanjut Reika. "Direkrut bersama-sama untuk proyek yang sama. Shin adalah subjeknya. Aku salah satu penelitinya."
"Kau ikut melatihnya?" tanyaku, suaraku lebih tajam dari yang kuinginkan.
"Aku ikut menyaksikannya dilatih," koreksi Reika, tanpa berusaha membela diri. "Bedanya tipis, tapi penting bagiku untuk mengatakannya dengan jujur. Aku tidak pernah menyentuhnya secara langsung. Tapi aku juga tidak pernah menghentikannya."
Ia menatap foto itu lama, jarinya menelusuri wajah muda ayahku dengan gerakan yang terlalu lembut untuk sekadar gestur biasa.
"Ketika dia membuka penuh authority-nya untuk menghentikan perang, aku ada di ruang kontrol, menyaksikan lewat layar. Aku melihat dia berubah dari seorang remaja tujuh belas tahun menjadi sesuatu yang bahkan tidak bisa kami ukur lagi dengan alat kami."
Suaranya mulai bergetar, meski ia berusaha keras mempertahankan nada datarnya.