Kami muncul di ujung gang sempit tak jauh dari gerbang sekolah, tempat yang sampai kemarin pagi hanya kukenal sebagai rute pulang paling cepat menuju rumah. Sekarang, gedung sekolah itu berdiri dalam kegelapan yang terasa berbeda—bukan sekadar gelap karena malam, melainkan gelap seperti sesuatu di bawahnya sengaja menyerap cahaya lebih banyak dari yang seharusnya.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanyaku, menatap gerbang sekolah yang sudah terkunci rapat.
Asteria tua memeriksa map hitam Reika sekali lagi, membandingkan denah yang tertera dengan bangunan di depan kami. "Menurut ini, pintu masuknya ada di gedung olahraga lama—yang katanya sudah tidak dipakai sejak tiga tahun lalu."
"Aku ingat gedung itu," gumamku. "Katanya ada masalah struktur bangunan."
"Atau," kata Xien, pelan, "ada alasan lain kenapa mereka ingin murid-murid menjauh dari sana."
Kami memanjat pagar samping, menghindari kamera keamanan yang untungnya sudah lama tidak berfungsi—entah karena anggaran sekolah yang minim atau karena seseorang sengaja membuatnya begitu. Gedung olahraga lama berdiri di ujung lapangan, jendelanya papak tertutup papan kayu, gemboknya besar dan berkarat, jelas dipasang untuk terlihat seperti bangunan yang benar-benar ditinggalkan.
"Terkunci," kata Asteria muda, memeriksa gembok itu.
"Biar kutangani," kata Xien, mengeluarkan alat kecil dari sabuknya, menempelkannya ke gembok. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi klik pelan, dan gembok itu terbuka begitu saja.
"Kau selalu membawa alat pembuka kunci ke mana-mana?" tanyaku.
"Aku dari masa depan, Yuuto. Aku membawa banyak hal aneh ke mana-mana."
Di dalam gedung olahraga, debu menutupi lantai kayu yang sudah lama tidak diinjak, namun di sudut ruangan, tersembunyi di balik tumpukan matras usang, sebuah pintu besi mengkilap berdiri kontras dengan segala sesuatu di sekitarnya—terlalu baru, terlalu terawat, untuk sebuah gedung yang katanya sudah ditinggalkan bertahun-tahun.
"Ini dia," gumam Asteria tua, menggeser matras itu dengan mudah, mengungkapkan panel keamanan di samping pintu.
"Perlu kode?" tanyaku.
"Perlu identifikasi authority," koreksi Asteria tua. "Yang berarti—"
"Berarti aku lagi," aku menyela, menghela napas. "Kenapa selalu aku yang harus membuka semua pintu misterius dalam cerita ini?"
"Karena kau tokoh utamanya," jawab Xien, datar.
"Aku tidak pernah melamar peran ini."
"Kau sudah bilang itu sebelumnya."
"Karena masih benar sampai sekarang."
Aku menempelkan tanganku ke panel itu, membiarkan bekas simbol hitam di lenganku menyala redup. Panel itu berkedip hijau, dan pintu besi bergeser terbuka dengan suara berat, mengungkapkan tangga yang menurun jauh ke dalam tanah, jauh lebih dalam dari yang seharusnya muat di bawah sebuah gedung olahraga sekolah biasa.
Kami turun dalam diam, langkah kaki kami bergema di lorong beton yang semakin lama semakin terasa steril, seperti rumah sakit yang lupa caranya terasa hangat.
Di ujung lorong, sebuah ruangan besar terbuka—dinding kaca mengelilingi sebuah ruang tengah, dan di dalamnya, aku melihat sesuatu yang membuat langkahku terhenti seketika.
Seorang gadis, seusia denganku, duduk di tengah ruangan yang penuh peralatan medis, kabel-kabel menempel di kepala dan pergelangan tangannya, matanya terbuka namun kosong, menatap ke depan tanpa benar-benar melihat apapun. Rambutnya panjang, hitam, sedikit kusut karena terlalu lama tidak dirawat dengan benar. Ia duduk diam, sesekali menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar jelas dari balik kaca.
"Itu dia," gumam Asteria tua, suaranya berat. "Anak yang selamat."
Aku mendekat ke dinding kaca, meletakkan tanganku di permukaannya yang dingin. Gadis di dalam sana tidak bereaksi sama sekali, seolah aku tidak ada, seolah dunia di luar kaca itu sudah lama berhenti relevan baginya.
"Namanya?" tanyaku, suaraku lebih pelan dari yang kuduga.