The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #18

CHAPTER 18: REIKA YANG BERKHIANAT

Langkah kaki itu berhenti tepat di persimpangan lorong di depan kami.

Reika berdiri di sana, namun kali ini bukan sendirian—enam unit logam berbaris rapi di belakangnya, lensa merah mereka menyala serentak begitu melihat kami muncul dari tikungan.

"Yuuto," kata Reika, suaranya datar seperti biasa, namun matanya bergerak cepat menilai situasi—kami, pintu-pintu yang terus menutup di belakang kami, dan sesuatu di balik kacamatanya yang terlihat seperti penyesalan yang datang terlambat. "Kau seharusnya tidak menyentuh sistemnya."

"Aku tidak bisa membiarkan gadis itu begitu saja," jawabku, napas masih memburu dari lari sepanjang lorong.

"Aku tahu." Reika menatapku lama. "Tapi sekarang alarm sudah terkirim ke dewan, dan mereka mengirim protokol darurat—termasuk perintah untuk mengamankan fasilitas dengan cara apapun."

"Termasuk membunuh kami?" tanya Xien, senjatanya sudah terangkat.

Reika tidak menjawab langsung. Ia melangkah ke samping, menghadap unit-unit logam di belakangnya, lalu mengangkat tangan.

"Unit tujuh sampai dua belas," katanya, suaranya berubah tegas, jenis suara komando yang belum pernah kudengar darinya sebelumnya. "Override protokol. Kode otorisasi Reika-Zero-Satu."

Lensa merah keenam unit itu berkedip, lalu meredup satu per satu.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku, tidak percaya.

"Sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak lama," jawab Reika, menatapku dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, terlihat benar-benar lega, seperti orang yang baru saja meletakkan beban yang sudah terlalu lama dipikul.

Namun kelegaan itu tidak bertahan lama.

Dari ujung lorong yang lain, suara derap kaki yang jauh lebih banyak mulai terdengar—bukan unit logam, melainkan manusia, berlari cepat dan terkoordinasi.

"Itu bukan aku," kata Reika cepat, mundur selangkah. "Dewan pasti mengirim pasukan cadangan langsung tanpa melalui aku."

"Berapa banyak?" tanya Asteria tua, tongkatnya sudah menyala.

"Terlalu banyak untuk kita hadapi di lorong sesempit ini," jawab Reika. "Kita harus bergerak sekarang."

"Kita?" Xien menatapnya curiga.

"Aku baru saja mengkhianati organisasiku di depan kalian," jawab Reika, datar. "Kurasa itu cukup jelas menunjukkan posisiku sekarang."

Pasukan itu muncul dari tikungan lorong—setidaknya dua puluh orang, seragam hitam rapi, senjata energi terangkat serentak.

"TARGET TERLIHAT," teriak salah satu dari mereka. "TEMBAK!"

"BAWAH!" Xien menarik lenganku, mendorongku ke lantai tepat saat rentetan cahaya biru melesat di atas kepala kami, menghantam dinding beton di belakang dengan ledakan kecil yang membuat serpihan berhamburan.

Asteria muda mengangkat tongkatnya, membentuk perisai cahaya di depan kami. "Ini tidak akan bertahan lama melawan tembakan sebanyak itu!"

"Lorong ini bercabang lima puluh meter di depan!" teriak Reika, sudah berlari mendahului kami, mengeluarkan senjatanya sendiri—bukan senjata standar organisasi, melainkan sesuatu yang lebih tua, lebih personal, seolah ia menyimpannya untuk momen yang sudah lama ia duga akan datang. "Kalau kita sampai ke sana, ada jalur ventilasi yang bisa membawa kita langsung ke permukaan!"

Lihat selengkapnya