The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #19

CHAPTER 19: FASILITAS CADANGAN?

Kami tidak punya waktu untuk beristirahat lama.

Sepuluh menit setelah ledakan, kami sudah berada di atap sebuah gedung apartemen tiga blok dari sekolah, cukup jauh untuk menghindari kerumunan yang mulai berkumpul di sekitar reruntuhan, cukup dekat untuk tetap memantau pergerakan yang mungkin masih mengejar kami.

"Fasilitas cadangan," kata Reika, membuka layar hologram dari perangkat di lengannya—satu-satunya benda yang sempat ia selamatkan dari reruntuhan. "Setiap fasilitas utama organisasi punya setidaknya satu cadangan, tersembunyi jauh dari lokasi utama, biasanya diaktifkan otomatis saat terjadi pelanggaran keamanan level tinggi seperti yang baru saja kita picu."

"Kau tahu lokasinya?" tanyaku.

"Tidak persis." Reika menggeleng. "Sistem hanya memberikan akses lokasi cadangan kepada kepala divisi masing-masing, bukan divisi lain. Aku hanya tahu polanya."

"Pola apa?" tanya Xien, memeriksa senjatanya yang mulai kehabisan amunisi.

"Fasilitas cadangan selalu dibangun di bawah bangunan pemerintah yang jarang dikunjungi publik," jawab Reika. "Gudang arsip lama, kantor catatan sipil yang sudah tidak aktif, semacam itu. Tempat yang cukup terlupakan untuk tidak menarik perhatian, tapi cukup resmi untuk punya izin konstruksi bawah tanah tanpa dipertanyakan."

Asteria tua mengambil alih perangkat itu, mengetik cepat. "Ada tiga lokasi yang cocok dengan kriteria itu dalam radius sepuluh kilometer."

"Tiga terlalu banyak untuk diperiksa satu-satu," gumam Asteria muda. "Butuh waktu, dan kita tidak tahu berapa lama gadis itu bisa bertahan di sana."

Aku menatap ketiga titik yang ditandai di peta hologram, mencoba mencari sesuatu yang bisa mempersempit pilihan.

"Coba tunjukkan detail masing-masing lokasi," kataku.

Asteria tua memperbesar setiap titik satu per satu. Yang pertama, gudang arsip kota tua di distrik utara. Yang kedua, kantor catatan sipil yang sudah ditutup sejak lima tahun lalu di distrik timur. Yang ketiga—

"Tunggu," aku menyela. "Yang ketiga itu."

"Kantor pos lama," gumam Reika, membaca detailnya. "Ditutup setelah kebakaran kecil delapan tahun lalu."

Delapan tahun lalu.

Angka itu menghantamku seperti kilat. "Delapan tahun lalu," ulangku, "adalah tahun ayahku menghilang."

Semua orang menatapku.

"Kau pikir itu bukan kebetulan?" tanya Xien.

"Aku tidak percaya kebetulan lagi," jawabku, "tidak setelah semua yang terjadi hari ini."

Kami bergerak cepat menuju lokasi ketiga, memanfaatkan bayangan gedung-gedung dan gang sempit untuk menghindari patroli yang mulai disebarkan di sekitar area sekolah. Kantor pos lama itu berdiri di sudut jalan yang sepi, catnya mengelupas, papan namanya sudah pudar hingga hampir tidak terbaca, dikelilingi pagar yang setengah roboh.

Lihat selengkapnya