The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #20

CHAPTER 20: PEDANG YANG TELAH MENUNGGU

Langkah kaki itu berhenti di ambang ruangan.

Seorang pria berdiri di sana, usianya mungkin awal tiga puluhan, mengenakan setelan formal yang terlihat aneh berada di ruangan bawah tanah penuh ukiran kuno seperti ini—seolah dia baru saja keluar dari rapat dewan direksi, bukan mengejar remaja SMA yang dianggap ancaman bagi dunia.

Yang membuatku membeku bukan penampilannya.

Melainkan matanya—satu berwarna cokelat normal, satu lagi menyala merah pekat, seperti bara yang tidak pernah benar-benar padam.

"Akhirnya," katanya, suaranya tenang, hampir ramah. "Aku sudah menunggu seseorang datang ke tempat ini selama delapan tahun."

"Siapa kau?" tanya Reika, mundur selangkah, tangannya bergerak ke arah senjatanya.

Pria itu tersenyum tipis ke arah Reika. "Kau tidak mengenaliku, Reika? Kita pernah satu angkatan penelitian."

Reika membeku. "Tidak mungkin. Kau—"

"Sudah mati?" Pria itu tertawa pelan. "Begitulah laporan resminya. Lebih mudah menjelaskan seseorang yang menghilang sebagai kematian daripada mengakui apa yang sebenarnya terjadi."

"Namaku Katsuragi," lanjutnya, melangkah masuk ke ruangan, matanya yang satu merah tidak pernah berkedip. "Dan aku adalah bukti hidup dari apa yang terjadi ketika seseorang berhasil membuka authority-nya penuh—dan memilih untuk tetap membukanya."

Aku menatapnya, merasakan sesuatu di dadaku mengeras. "Kau salah satu subjek proyek yang sama denganku."

"Subjek pertama, sebenarnya," koreksinya. "Sebelum ayahmu. Sebelum kau. Aku relawan, Yuuto—bukan korban seperti kalian berdua. Aku memilih ini."

"Kenapa?" tanyaku, meski aku sudah cukup yakin tidak akan menyukai jawabannya.

"Karena kekuatan setengah-setengah tidak berguna," jawab Katsuragi, tenang. "Ayahmu menyegel dirinya kembali setelah tiga tahun, memilih menjadi manusia biasa lagi. Aku memilih tetap terbuka. Dan tebak apa?" Ia mengangkat tangannya, dan udara di sekitarnya mulai bergetar. "Aku masih bisa mengingat namaku sendiri."

Xien mengangkat senjatanya. "Kenapa kau di sini sekarang?"

"Untuk pedang itu," jawab Katsuragi, tanpa berusaha menyembunyikan tujuannya. "Sistem keamanan Shin baru saja terbuka untuk pertama kalinya dalam delapan tahun—aku merasakannya dari fasilitas utama. Kupikir, kenapa tidak datang langsung, daripada menunggu laporan?"

Ia melangkah lebih dekat ke altar, dan aku secara refleks bergerak, berdiri di antara dirinya dan pedang itu.

"Kau tidak akan mendapatkannya," kataku.

Katsuragi menatapku dengan ekspresi yang hampir terlihat kasihan. "Yuuto, kau bahkan belum tahu apa yang bisa dilakukan pedang itu. Aku sudah menunggu delapan tahun untuk mempelajarinya. Menyingkirlah, dan aku akan membiarkanmu hidup dengan tenang seperti sebelumnya."

"Aku tidak percaya kata-kata orang yang matanya sendiri sudah berubah warna karena kekuatan," balasku.

Katsuragi terdiam sejenak, lalu tertawa—tawa yang sungguh terhibur, bukan sekadar ejekan. "Adil. Baiklah." Ia mengangkat kedua tangannya. "Mari kita selesaikan ini dengan cara yang lebih meyakinkan."

Udara di ruangan itu berubah seketika, tekanan yang berat menghantam kami semua seperti gelombang tak terlihat. Asteria tua langsung mengangkat tongkatnya, membentuk perisai di sekeliling kami.

"Kekuatannya nyata," desis Asteria tua, giginya bergemeletuk menahan tekanan. "Bukan sekadar gertakan."

Katsuragi melangkah maju, dan lantai batu di bawah kakinya retak dengan setiap langkah, seolah gravitasi sendiri menekuk untuk menyesuaikan keberadaannya.

"Xien, Reika—lindungi Yuuto!" teriak Asteria muda, melompat maju, tongkatnya menyala terang. "Lumen Ledakan!"

Lihat selengkapnya