Pintu besi itu terbuka dengan derit panjang.
Dan yang menyambut kami sama sekali bukan yang kubayangkan.
Bukan laboratorium steril. Bukan kotak kaca. Bukan kabel-kabel yang menempel di tubuh anak-anak tak berdaya.
Melainkan—
"WAAAAH! ADA TAMU!"
Seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun melompat dari balik tumpukan kardus, rambut merahnya diikat dua, matanya berbinar seperti baru saja melihat hadiah ulang tahun.
Aku refleks mengangkat pedang.
Anak itu berhenti sepersekian detik, menatap pedangku, lalu—
"KEREEEN! PEDANGNYA BESAR BANGET!"
"...Hah?"
Ia berlari mengelilingiku, memeriksa pedang itu dari segala sudut dengan mulut menganga takjub. "Kakak beli di mana? Toko senjata? Atau dapat dari dungeon?"
"Dungeon itu tidak—" Aku menghela napas panjang. "Tunggu, kau siapa?"
"Aku Nanase!" Ia berkacak pinggang bangga. "Penjaga markas rahasia ini!"
"Markas rahasia."
"IYA!"
Aku menoleh ke arah Xien, berharap penjelasan. Xien hanya mengangkat bahu dengan ekspresi sama bingungnya.
Interior pabrik itu benar-benar tidak masuk akal.
Mesin-mesin tua masih berdiri di tempatnya, berkarat dan mati—tapi di antara mereka, seseorang telah membangun sesuatu yang lebih mirip rumah daripada fasilitas. Kasur-kasur lipat berjejer rapi di sudut. Tali jemuran membentang di antara dua pipa raksasa, penuh seragam anak-anak yang masih basah. Meja kayu panjang di tengah ruangan penuh mangkuk bekas sarapan.
Dan di dinding, tertulis dengan cat semprot warna-warni:
MARKAS RAHASIA — DILARANG MASUK KALAU JAHAT
"...Siapa yang menulis itu?" tanyaku.
"AKU!" Nanase mengacungkan tangan. "Bagus, kan?"
"Bagus," jawabku, menyerah. "Sangat bagus."
Reika melangkah masuk perlahan, matanya menyapu seluruh ruangan dengan ekspresi yang sulit kubaca. "Ini... bukan fasilitas organisasi."
"Ya jelas bukan!" seru Nanase. "Kami kabur dari tempat seperti itu, kok!"
Semua orang di belakangku membeku serentak.
"Kami?" ulangku pelan.
Nanase menoleh ke arah lorong gelap di belakangnya, lalu berteriak sekuat tenaga dengan tangan menangkup di mulut.
"SEMUANYAAA! TAMUNYA BUKAN ORANG JAHAT!"
Mereka muncul satu per satu dari balik mesin-mesin tua.
Seorang anak laki-laki berkacamata, mungkin dua belas tahun, memegang buku catatan tebal di dada. Seorang gadis remaja bertubuh kecil yang langsung bersembunyi di balik punggung Nanase begitu melihat kami. Seorang anak laki-laki gempal yang membawa panci—entah sebagai senjata atau memang baru selesai memasak.
Total ada empat.
Empat anak.
Dan satu lagi, berdiri paling belakang di bayangan lorong, tidak ikut mendekat.
"Ini Kaito," Nanase menunjuk si kacamata. "Dia paling pintar, tapi cerewet."
"Itu bukan perkenalan yang adil," protes Kaito.
"Ini Mei." Gadis kecil di belakangnya melambai malu-malu. "Dia bisa bikin api kecil kalau lagi senang."
"Dan ini Gouta." Anak gempal itu mengangkat pancinya sebagai salam. "Dia yang masak semua makanan di sini."
"Nasi goreng hari ini enak," kata Gouta, bangga.
"...Kalian tinggal di sini?" tanyaku, masih berusaha mencerna semuanya. "Sendirian? Tanpa orang dewasa?"
Keempatnya saling berpandangan.