The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #23

CHAPTER 23: JEJAK DARI MUROKAME SHIN

Pagi di markas rahasia dimulai dengan suara panci jatuh.

KLONTANG!

"GOUTAAA! ITU PANCI KESAYANGANKU!"

"Kakak Rin nggak punya panci kesayangan!"

"SEKARANG PUNYA!"

Aku membuka mata di atas kasur lipat yang entah kapan disiapkan untukku, menatap langit-langit pabrik yang penuh pipa berkarat, dan untuk sesaat—cuma sesaat—aku lupa bahwa dunia akan kiamat.

Lalu Nanase melompat ke atas perutku.

"OOF—"

"KAKAK PEDANG! BANGUN! SARAPAN!"

"Aku... punya nama..."

"KAKAK PEDANG!"

"...Ya sudah."

Meja kayu panjang itu penuh mangkuk lagi.

Kali ini sup miso, telur gulung, dan nasi putih yang entah dari mana Gouta mendapatkan bahannya.

"Jangan tanya," kata Gouta, membaca ekspresiku. "Kakak Rin bilang jangan tanya."

"Aku belum nanya."

"Wajahmu nanya."

Adil juga.

Xien duduk di sebelahku, memakan telur gulung dengan ekspresi yang—demi apapun—hampir terlihat bahagia. Asteria muda sibuk dikepang rambutnya oleh Mei, yang ternyata sangat mahir mengepang meski pemalu. Asteria tua duduk di ujung meja sambil menyeruput teh, sesekali tersenyum kecil menyaksikan kekacauan ini.

Dan Reika—

Reika duduk kaku, memegang sumpit dengan cara yang terlalu formal, seperti eksekutif perusahaan yang salah masuk piknik anak TK.

"Kau nggak makan?" tanyaku.

"Aku sedang memproses," jawabnya.

"Memproses apa?"

"Semuanya." Ia menatap Nanase yang sedang mencuri telur gulung dari mangkuk Kaito. "Dua hari lalu aku memimpin divisi penelitian. Sekarang aku buronan yang sarapan bersama lima anak di pabrik terbengkalai."

"Enak, kan?"

"...Telurnya enak," akunya, pelan.

Aku menahan senyum.

Setelah sarapan, Rin membawaku ke lantai dua pabrik—ruangan kecil yang dulunya kantor mandor, kini penuh kardus dan kertas yang ditumpuk rapi.

"Ini semua yang kukumpulkan tentang dia," katanya, menyalakan lampu gantung yang berkedip beberapa kali sebelum menyala penuh.

Aku menatap dinding.

Dan napasku tertahan.

Seluruh dinding tertutup kertas.

Peta. Kliping koran. Foto buram dari kamera pengawas. Catatan tulisan tangan. Benang merah menghubungkan satu titik ke titik lain seperti papan investigasi detektif.

Dan di tengah semuanya—

Sebuah foto.

Pria berambut hitam, mata lelah, berdiri di lorong yang gelap.

Ayahku.

"Kau... melacaknya selama ini?" tanyaku, suaraku nyaris tak keluar.

Rin mengangguk. "Tiga tahun. Sejak dia membebaskanku."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin berterima kasih," jawabnya sederhana. "Dan karena aku ingin tahu kenapa seseorang yang jelas-jelas bisa hidup tenang memilih untuk terus masuk ke tempat-tempat seperti itu berulang kali."

Aku melangkah mendekat, menelusuri kertas-kertas itu satu per satu.

Setiap catatan adalah satu kejadian.

Fasilitas Distrik Utara — 2 anak keluar — tidak ada korban

Gudang Arsip Selatan — 1 anak keluar — penjaga terluka, tidak fatal

Fasilitas Bawah Rumah Sakit Kota — GAGAL — target sudah dipindahkan

Pabrik Kimia Barat — 3 anak keluar — Shin terluka parah

Tanganku berhenti di catatan terakhir.

"Terluka parah," bacaku pelan.

"Dua tahun lalu," kata Rin. "Setelah itu jejaknya hilang selama delapan bulan. Kupikir dia sudah mati."

"Tapi?"

Lihat selengkapnya