The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #24

CHAPTER 24: BUKIT KEMBANG API

Bukit itu tak sedikit pun berubah dalam ingatanku.

Rerumputan tinggi bergoyang pelan disapu angin sore, bersanding dengan sebuah pohon sakura raksasa yang berdiri megah di puncaknya. Meski bukan musim semi, dedaunan hijaunya tetap berpendar keemasan diterpa lelehan cahaya senja. Delapan tahun lamanya aku tak pernah menginjakkan kaki di sini.

"Yuuto," bisik Xien di sampingku. Matanya menyapu sekeliling dengan waspada. "Kau merasakan sesuatu?"

Aku mengangguk pelan. Ada denyut asing di udara—berat dan intens, bagai detak jantung raksasa yang tertahan.

Authority. Milik Ayah.

"Dia ada di sini," gumamku seraya mempercepat langkah menaiki bukit.

Namun tepat saat kami mencapai puncak, embusan angin bertekanan tinggi dihantamkan dari segala penjuru. Reika bahkan nyaris kehilangan pijakan.

"Ini bukan angin biasa!" seru Asteria tua. Ia menghentakkan tongkatnya, membentangkan kubah perisai cahaya di sekeliling kami.

Rerumputan hijau di bukit berubah dalam sekejap—menghitam pekat dan layu seketika, seolah direnggut oleh musim dingin gaib. Dari balik bayang-bayang pohon sakura, empat sosok berbalut pakaian hitam formal melangkah keluar. Manik mata mereka menyala terang dalam warna berbeda: ungu, hijau, emas, dan biru es.

"Dewan..." desis Reika dengan wajah memucat. "Mereka mengirim seluruh Dewan secara langsung."

"Semuanya sekuat Katsuragi?" tanyaku.

"Lebih tua. Lebih berpengalaman," sahut Reika. "Katsuragi cuma anjing penjaga mereka."

Sosok bermata ungu melangkah maju. Suaranya bergema dingin. "Murokame Yuuto. Dan target sekunder kami, Murokame Shin... kami telah melacaknya hingga ke titik ini."

"Kalian mengincar Ayah juga?"

"Tentu saja," jawabnya tenang. "Dua authority dalam satu garis keturunan yang sama. Kesempatan langka seperti ini tak muncul dua kali dalam satu abad."

Sret! Aku menarik pedang dari punggungku. Bilahnya mendadak berpendar putih terang, seolah merespons gejolak tensi di udara.

"Kalian tidak akan pernah menyentuhnya," tegasku.

Keempat anggota Dewan itu mengulas senyum tipis—senyuman mengerikan yang sama sekali tidak menenangkan.

"Menarik," gumam sosok bermata hijau. "Bocah ingusan berpikir dia bisa menghadapi kami berempat sendirian."

"Dia tidak sendirian," potong Xien seraya mengangkat senjatanya.

"Betul," tambah Asteria muda dengan tongkat menyala terang.

"Kami juga ada di sini," selutuk Asteria tua dari sisi lain.

Reika pun mencengkeram senjata lamanya, meski jemarinya gemetar pelan. "Dan aku sudah cukup lama cuma jadi penonton."

Anggota Dewan saling pandang lalu tertawa kecil—suara tawa aneh yang bergema sumbang di bawah langit senja yang makin membiru.

Lihat selengkapnya