The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #25

CHAPTER 25: BERTARUNG BERSISIAN

Bertarung bersisian dengan Ayah rasanya sungguh ganjil. Bukan ganjil dalam arti buruk, melainkan bagai menemukan kepingan teka-teki yang lama hilang—yang saat dipasang, ternyata melekat pas tanpa perlu dipaksa.

“Kiri!” teriaknya.

Tubuhku berputar refleks tanpa berpikir dua kali, memangkas tebasan sosok bermata hijau yang berusaha mengincar titik butaku.

“Kanan!” balasku serta-merta.

Ayah melompat mundur tepat saat sambaran cahaya ungu menghantam tempat yang baru saja diijaknya.

Gerakan kami menyatu seolah telah berlatih bersama bertahun-tahun, padahal ini pertama kalinya kami bertarung sebagai dua individu yang berdiri sejajar—bukan sekadar bayangan dalam kenangan.

Sosok bermata hijau melesat maju. Racun pekat berwarna hijau tampak menetes dari jemarinya yang meruncing. “Kalian pikir sentimentalitas konyol ini sanggup menumbangkan kami?”

“Bukan sentimentalitas,” sahut Ayah seraya menepis serangan itu dengan bilah pedangnya. “Ini namanya kerja sama.”

“Sama saja!”

“Beda jauh,” sela aku, mengayunkan pedang mengincar sosok bermata ungu yang mencoba mendekat. “Sentimentalitas cuma bikin kau lemah. Kerja sama bikin kau tak terkalahkan.”

Sosok bermata ungu tersungkur mundur, mengusap luka lamanya yang kembali mengucurkan darah. “Filosofi murahan.”

“Terserah,” balasku dingin. “Yang penting berhasil.”

Di belakang kami, pertempuran lain berkecamuk tak kalah sengit. Xien dan Reika saling melengkapi—bergantian menyerang dan mengover celah saat menghadapi sosok bermata emas. Sementara itu, duo Asteria menangani sosok bermata biru es yang masih terhuyung akibat hantaman Ayah sebelumnya. Pola serangan tongkat mereka berdiri identik, menyatu sempurna meski terpisah rentang usia puluhan tahun.

“Kita memegang kendali,” gumamku dengan napas yang mulai memburu.

“Jangan lengah,” peringat Ayah. “Dewan tidak akan menerjunkan empat anggotanya sekaligus jika tidak menyiapkan rencana cadangan.”

Seolah mengamini ucapan Ayah, keempat anggota Dewan itu mendadak melompat mundur bersamaan. Mereka membentuk lingkaran rapat dengan punggung saling bertumpu.

“Sinkronisasi!” desis Reika dengan raut tegang. “Mereka jarang sekali melakukannya—kecuali jika situasinya benar-benar terdesak!”

Pendaran cahaya empat warna berputar liar di tengah formasi mereka, melebur menjadi satu pilar energi raksasa yang meroket menembus langit senja. Warna kanopi bukit mendadak berubah menjadi pusaran ungu, hijau, emas, dan biru yang mengerikan sekaligus memukau.

“Teknik apa itu?” tanyaku seraya mundur beberapa langkah.

“Serangan gabungan,” jawab Ayah dengan rahang mengeras. “Aku pernah menyaksikannya sekali, dua puluh tahun lalu. Serangan itulah yang meratakan separuh markas kami saat perang pertama pecah.”

“Bagaimana cara mematahkannya?” tanya Xien yang mendatangi kami bersama yang lain.

Ayah menatap pilar energi yang kian pekat, sibuk mengkalkulasi skenario di dalam kepalanya. “Tidak bisa dipatahkan,” putusnya. “Satu-satunya cara adalah mengimbangnya.”

“Mengimbangnya bagaimana?” desakku.

Lihat selengkapnya