Suasana markas rahasia terasa berbeda malam itu. Bukan cuma karena anak-anak sudah tidur—Nanase bahkan masih merajuk dengan piyama bergambar dinosaurusnya, menolak memejamkan mata sebelum mendengar “cerita perang” dari ayahku secara langsung. Melainkan karena meja kayu panjang yang biasanya berantakan oleh mangkuk-mangkuk sisa nasi goreng, kini tertutup hamparan peta, dokumen tebal, dan coretan strategi yang jauh lebih serius.
“Markas utama Dewan…” Kata Ayah seraya membentangkan denah kusam di atas meja. “… Terletak tepat di bawah gedung kementerian yang secara resmi mengurus riset energi alternatif—topeng yang sangat membosankan untuk tempat yang menyimpan sekian banyak busuknya rahasia.”
Reika bertanya pelan. “Kau pernah ke sana?”
“Sekali,” Sahut Ayah. “Dua puluh tiga tahun lalu, tepat sebelum aku membangkitkan authority-ku untuk pertama kalinya. Aku hafal luar kepala tiap lorong utama, walau mereka pasti sudah mengubah banyak hal sejak saat itu.”
Rin duduk di ujung meja, memeluk lututnya rapat-rapat. Matanya menyimak tajam, meski sesekali bergulir memperhatikan anak-anak yang tertidur lelap satu per satu di sudut ruangan.
“Kenapa baru sekarang?” Tanya gadis tersebut, lirih. “Kenapa tidak dari dulu?”
Ayah menatap Rin cukup lama. Sebelum akhirnya menjawab.
“Sebab dulu aku masih sendirian.” Katanya.
“Menantang organisasi sebesar itu seorang diri sama saja bunuh diri. Tapi sekarang…” Pandangan Ayah menyapu kami semua. “…aku punya alasan kuat untuk percaya kita bisa menang.”
“Apa target utamanya?” Aku memotong.
“Ada dua target.” jawab Ayah, menunjuk dua titik terpisah di peta. “Pertama, Ruang Arsip Pusat—tempat seluruh data subjek disimpan dalam satu sistem terpadu, termasuk lokasi anak-anak yang masih ditawan seperti Rin dan yang lainnya.”
“Dan yang kedua?”
Ayah menatapku dengan ekspresi yang berbeda. “Ruang Penyimpanan Genesis.” Ujarnya.
Aku tidak paham. “A… Apa itu?”
“Proyek asli, Yuuto.” Sela Reika tertahan.
“Sebelum kau, bahkan sebelum Katsuragi, genesis adalah kode riset pertama tentang authority, sekitar lima puluh tahun lalu. Aku pernah mendengar rumor soal ruang penyimpanan itu—tapi tidak pernah tahu apa isinya.”
“Aku tahu.” Ayah menyahut. Rahangnya mengetat. “Dan itulah alasan sebenarnya kenapa mereka begitu terobsesi padamu, Yuuto.”
Ruangan mendadak hening.
Firasat buruk mendesak dadaku, membuatku cepat berbisik.
“Katakan,”
Ayah mengangguk.
“Genesis bukan riset tentang cara menciptakan penyihir terakhir,” Pria itu menjawab dengan hati-hati.