The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #27

CHAPTER 27: KETUA DEWAN

Gedung Kementerian Energi Alternatif itu berdiri kaku, persis seperti yang sering dideskripsikan ayahku—sebuah bangunan abu-abu yang membosankan. Jenis arsitektur hampa yang takkan pernah diingat siapa pun meski sudah dilewati seratus kali.

Namun, justru ketidakmencolokannya itulah yang membuatnya menjadi tempat paling sempurna untuk menyembunyikan sesuatu yang tak boleh ditemukan.

“Pintu masuk bawah tanah ada di sisi timur,” gumam ayahku, mengamati area dari atap gedung seberang bersamaku dan Asteria muda. “Setidaknya, itu posisinya dua puluh tiga tahun lalu.”

“Kalau sudah dipindah?” tanyaku.

“Maka kita berimprovisasi,” sahutnya enteng, seolah itu adalah pilihan paling logis di dunia.

Melalui earpiece di telingaku, desis suara Xien memecah kesunyian. “Kami sudah berada di posisi sisi barat. Sistem keamanan di sini lebih longgar dari perkiraan—sepertinya mereka mengira serangan besar hanya akan datang dari satu arah.”

“Bagus,” jawab ayahku. “Artinya umpan kita berhasil. Bergerak dalam hitungan ketiga.”

Kami melompat dari tepi atap. Authority bekerja secara refleks, meredam gaya gravitasi dan mendaratkan kami tanpa suara di halaman belakang gedung yang sepi. Dua penjaga berdiri kaku di ambang pintu timur, tetapi sebelum mereka sempat menyadari keberadaan kami, Asteria muda melangkah maju. Sepintas gelombang cahaya redup berpendar dari jemarinya, menumbangkan kedua penjaga itu seketika tanpa melukai.

“Bersih,” gumamnya singkat.

Kami menyusup masuk, menuruni deretan anak tangga yang jauh lebih rumit dan modern ketimbang fasilitas-fasilitas sebelumnya. Lorong-lorong di bawah sini tampak bersih dengan pencahayaan putih steril. Kamera keamanan berputar lambat di setiap sudut.

“Kamera di depan akan menandai keberadaan kita dalam hitungan detik,” gumam ayahku sembari mempercepat langkah.

“Biar kutangani,” potongku. Aku merentangkan telapak tangan, membiarkan aliran Authority-ku menyentuh jaringan elektronik di sekitar kami. Bukan untuk menghancurkannya, melainkan mengintervensi arus data—melambatkan sinyalnya beberapa detik hingga rekaman visual kami hanya terlihat seperti gumpalan glitch biasa.

Ayahku menoleh, tatapannya menyiratkan rasa takjub yang samar. “Kapan kau belajar teknik seperti itu?”

“Baru saja,” jawabku jujur. “Bukankah tadi Ayah bilang untuk berimprovisasi?”

Tawa pelan terkekeh dari tenggorokannya. “Anak pintar.”

Lorong bawah tanah itu bercabang rumit. Anehnya, setiap kali kami mendekati persimpangan yang salah, ada desakan asing di dalam dadaku—entah resonansi dari Authority-ku sendiri, atau sisa kesadaran ayahku yang pernah terpatri di dalam tubuhku saat masa penyegelan dulu—menarik langkahku ke arah yang tepat bagaikan kompas gaib.

“Ke sini,” gumamku, membelokkan arah tanpa perlu ragu.

Langkah kami akhirnya terhenti di hadapan sebuah pintu baja masif, jauh lebih tebal dan kokoh daripada akses mana pun yang pernah kami temui. Tidak ada panel sandi atau pemindai kartu—hanya ada sebuah ceruk dangkal berbentuk cetakan telapak tangan di tengahnya.

“Verifikasi Authority,” bisik ayahku. “Sama persis seperti di laboratorium dan kontainer penyimpanan.”

Lihat selengkapnya